26/02/09

Pameran Fotografi dan Komputer 2009 Tetap Optimis


Jakarta Photo & Digital Imaging Expo 2009 (FOCUS) baru saja dibuka Rabu (25/2) di JHCC Jakarta. Berbarengan dengan pameran tersebut, digelar pula Mega Bazaar Computer (MBC) dari tanggal 25 Februari – 1 Maret 2009.

Pada setiap pelaksanaannya, Focus dan MBC dimeriahkan dengan beragam acara seperti seminar dan workshop. Misalnya, Robotic Competition, Seminar Be Easy with Linux, Seminar Sneak Preview Teknologi OS Terpadu, dan sebagainya.

Pameran yang buka dari pukul 10.00 – 21.00 setiap harinya ini juga menghadirkan Photo Gallery yang terletak di selasar connecting Hall A & Hall B sebagai perwujudan dari “Every Journey Has It’s Moments” yang menjadi tema FOCUS 2009.

Tercatat sebanyak 300 peserta mengisi area pameran seluas lebih dari 20.000 m2. Sejumlah peserta tersebut terdiri dari 200 brand dari dunia fotografi dan komputer.

Meski pameran ini berlangsung di tengah kondisi perekonomian yang kurang baik, namun pihak penyelenggara dan peserta yakin FOCUS 2009 & MBC akan tetap dipadati pengunjung. Hal tersebut karena 90% transaksi masih dilakukan dengan rupiah sehingga gejolak nilai tukar tidak berpengaruh banyak.


Read More ..

Penuh Kamera, Bonus, dan Workshop

Beberapa brand kamera digital memenuhi area FOCUS 2009. Sebut saja seperti Canon, Nikon, Sony, Olympus, dan sebagainya. Masing-masing brand menawarkan produk dengan berbagai bonus yang menggiurkan tiap pengunjung.

Canon misalnya, mereka melego Canon 1000D seharga Rp 5,8 juta dengan bonus tripod excell, memori 4GB, payung, dan voucher kursus fotografi senilai Rp 1 juta. Begitu juga dengan beberapa tipe lain dengan bonus berbeda-beda.

Lain lagi dengan Nikon, mereka malah lebih memilih memerkenalkan tipe premiumnya Nikon D3X dengan berbagai seminar & workshop. Nikon D3X yang diluncurkan Desember tahun lalu ini memiliki resolusi 24.5 MP dengan sensor CMOS dan LCD monitor 3 inch.

Seminar & Workshop di stan Nikon :

26 Februari
14.00 : “Outdoor Wedding Photography” oleh Johnny Hendarta
16.30 : “Total Freedom with Your Camera” oleh Novijan Sanjaya dan Workshop : Multiple Exposure dengan Nikon D3X

27 Februari

14.00 : “Bagaimana Memotret Poster Film dan Sinetron” oleh Pinky Mirror
16.30 : “Optimized Camera Features” oleh Johnny Hendarta

28 Februari

14.00 : “Memotret Wanita di Era Digital” oleh Pinky Mirror
16.30 : “Studio Lighting” oleh Johnny Hendarta

1 Maret
14.00 : Peranan Kamera D-SLR Dalam Dunia Komersial Fotografi” oleh Novian Sanjaya dan Workshop : Low Key for High-End Product Photography
16.30 : “Push to The Limit” oleh Novijan Sanjaya dan workshop : Pemanfaatan Speedlight untuk studio fotografi


Read More ..

USB Murah

Bagi pengunjung FOCUS 2009 & MBC, disediakan total 2500 unit USB 2G dengan harga Rp 30.000 selama 5 hari pameran. USB tersebut dapat dibeli dengan syarat menukarkan tiket masuk yang hanya seharga Rp 5000. Saat hari pertama kemarin, peminat USB murah ini sangat banyak dan setiap harinya hanya disediakan 500 unit. Pengunjung pun tidak bisa setiap saat membelinya karena counter penukaran dibuka pukul 14.00. Satu jam sebelum counter dibuka, antrian sudah panjang mengular.

Selain itu, dengan berbelanja Rp 100 ribu (berlaku kelipatannya), para pengunjung juga dapat turut serta dalam pengundian gran prize 1 unit mobil Chery QQ dan 1 unit sepeda motor Yamaha Vega ZR. Kemudian, di area Plenary, dijual pula seperangkat PC komputer murah dari Harco Mangga Dua hanya dengan Rp 999.000.

Read More ..

21/02/09

Tinja dan Masalahnya

Semua orang tahu kalau tinja dapat membawa banyak masalah. Namun sayangnya, banyak orang yang tidak mau dan tidak mampu dalam mengurus tinja. Padahal kalau air tanah tercemar tinja, akan banyak penyakit yang diakibatkannya.

Masalah pembuangan dan pencemaran tinja bukan hanya masalah masyarakat miskin yang tinggal di perkampungan kumuh. Tapi, sering pula terjadi di perumahan-perumahan elit. Bahkan, petugas kebersihan pun sering berbuat keliru.

Ada beberapa masalah yang sering timbul berkaitan dengan tinja, misalnya :

1.Septic Tank Bocor
Akibatnya, sekitar 70% air tanah di daerah perkotaan sudah tercemar berat bakteri tinja. Padahal, separuh penduduk perkotaan masih menggunakan air tanah untuk memenuhi kebutuhan harian.

2.MCK yang Tidak Berfungsi
Selain usang dan terawat, banyak MCK tidak ada airnya. Lebih menyedihkan lagi, banyak pula yang tidak bisa digunakan setlah peresmian. Boleh jadi karena akibat salah konstruksi atau masyarakatnya yang memang belum siap.

3.Mencuci dan Mandi di Sungai Tercemar
Akibat keterbatasan akses pada MCK, banyak masyarakat kita yang mandi, cuci, dan kakus di sungai. Padahal, sungai-sungai tersebut sudah tercemar.

4.Jamban yang Asal-asalan
Ada sekitar 35% jamban di kawasan perkotaan yang tidak ada air bersih, atap, atau tidak tersambung dengan septic tank dan sejenisnya. Contohnya, jamban “helikopter” di pinggiran sungai atau jamban rumah yang mengalirkan tinja ke sungai yang berada di dekatnya.

5.Selokan Tersumbat
Walau harusnya hanya untuk mengalirkan air hujan, selokan nyatanya juga digunakan untuk menampung air kakus dan juga sampah. Akhirnya, selokan pun menjadi sumber berbagai penyakit.

6.Efluen Industri di Kawasan Pemukiman
Sebagian besar dialirkan ke sungai tanpa melalui proses pengolahan lebih dulu. Akibatnya, kualitas sungai semakin memburuk.

7.Buang Air Besar Sembarangan
Lebih dari 12% penduduk perkotaan Indonesia sama sekali tidak memiliki akses ke sarana jamban. Artinya, belasan juta penduduk perkotaan Indonesia masih membuang tinja langsung di kebun, selokan, atau sungai.

8.Pembuangan Liar Lumpur Tinja
Seusai menyedot habis isi septic tank, banyak truk tinja yang menggelontorkan muatannya langsung ke sungai. Akibatnya, sungai akan tercemar berat. Beragam alasan dilontarkan. Entah karena tidak ada atau tidak berfungsinya IPLT (Instalasi Pengolahan Limbah Tinja) di kota itu, atau karena petugasnya yang malas ke IPLT.

Read More ..

Apa Saja Kandungan Tinja?

Penanganan buangan tinja bukan masalah sepele. Setiap harinya, seseorang membuang tinja seberat 125 – 250 gram. Jika sekarang ada 100 juta orang tinggal di wilayah perkotaan, maka kawasan perkotaan tersebut menghasilkan sekitar 25 ribu ton tinja.

Di Jakarta sendiri, menurut data Bank Dunia, masyarakatnya membuang tinja sekitar 714 ton setiap harinya dan buangan urine sekitar 7000 m3. Buangan tinja tersebut, ada yang mengendap di dalam tanah dan ada pula yang dibuang di sungai-sungai.
Selain jumlahnya yang begitu banyak, tinja memiliki beberapa dampak dari 4 kandungan yang dimilikinya :

1.Mikroba
Sebagian di antaranya merupakan mikroba patogen seperti, bakteri Salmonela Typhi (penyebab demam tifus), bakteri Vibrio Cholerae (penyebab kolera, hepatitis A, dan polio). Tinja manusia mengandung puluhan miliar mikroba, termasuk bakteri koil-tinja.
Tingkat penyakit akibat kondisi sanitasi yang buruk di Indonesia sangat tinggi.

Tifus mencapai 800 kasus/100.000 penduduk, tertinggi di seluruh Asia. Diare mencapai 300 kasus/1000 penduduk. Polio masih dijumpai di Indonesia walau di negara lain sudah sangat jarang.

2.Materi Organik
Sebagian merupakan sisa dan ampas makanan yang tidak tercerna. Dapat berbentuk karbohidrat, protein, enzim, lemak, mikroba, dan sel-sel mati. Satu liter tinja mengandung materi organik yang setara dengan 200 – 300 mg BOD5.

Sekitar 75% sungai di Jawa, Sumatera, Bali, dan Sulawesi tercemar berat oleh materi organik dari buangan rumah penduduk. Air sungai Ciliwung memiliki BOD5 40mg/L, empat kali lipat dari batas maksimum sebesar 10 mg/L. Kandungan BOD yang tinggi mengakibatkan air mengeluarkan bau tak sedap dan berwarna hitam.

3.Telur Cacing
Orang yang cacingan, akan mengeluarkan tinja yang mengandung telur-telur cacing. Banyak cacing yang bisa ditemukan di perut kita. Sebut saja, cacing cambuk, cacing gelang, dan cacing tambang. Satu gram tinja berisi ribuan telur cacing yang siap berkembang biak di perut orang lain.

Anak cacingan adalah kejadian yang biasa di Indonesia. Penyakit ini kebanyakan diakibatkan cacing cambuk dan cacing gelang. Prevalensinya bisa mencapai 70% dari balita.

4.Nutrien
Umumnya merupakan senyawa nitrogen dan fosfor yang dibawa sisa-sisa protein dan sel-sel mati. Nitrogen keluar dalam bentuk senyawa amonium, sedang fosfor dalam bentuk fosfat. Satu liter tinja manusia mengandung amonium sekitar 25 mg dan fosfat sebesar 30 mg.

Senyawa nutrien memacu pertumbuhan ganggang. Akibatnya, warna air jadi hijau dan ganggang menghabiskan oksigen dalam air sehingga ikan dan hewan air lainnya mati. Fenomena yang disebut Eutrofikasi ini mudah dijumpai di waduk, danau, atau balong-balong.

Read More ..

Anggaran Sanitasi Terlalu Minim

Di Indonesia, setiap 1000 bayi yang lahir, hampir 50 di antaranya meninggal sebelum berumur 5 tahun. Menurut Departemen Kesehatan, diare merupakan salah satu penyebabnya.

Diare disebabkan karena mikroba yang dibawa oleh tinja. Makanya, diare banyak ditemukan pada masyarakat yang tidak memiliki sanitasi yang baik. Mereka yang tidak mencuci tangan dengan sabun sebelum makan. Atau mereka yang membuang air besar sembarangan.

Dalam 30 tahun terakhir, pemerintah sendiri hanya menganggarkan sekitar US$ 820 juta untuk sektor sanitasi. Artinya, hanya Rp 200 setahunnya untuk setiap penduduk Indonesia. Jumlah yang sangat sedikit mengingat kebutuhan dana sebenarnya Rp 47 ribu/orang/tahunnya.

Anggaran pemerintah untuk sektor sanitasi memang sangat minim. Apalagi bila kita bandingkan dengan anggaran sektor air bersih yang besarnya lebih dari US$ 6 miliar untuk periode yang sama. Padahal, untuk urusan kesehatan masyarakat, kedua sektor tersebut memiliki saling ketergantungan yang erat.

Fasilitas Mandi, Cuci, Kakus (MCK), truk tinja, sewerage system, dan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) adalah contoh-contoh produk investasi pemerintah di sektor sanitasi. Bila dibandingkan kebutuhan sebenarnya, jumlah sarana yang telah dibangun masih terlalu sedikit. Parahnya lagi, banyak sarana tersebut yang sudah tak berfungsi saat ini.


Read More ..

Tinja, Sampah, dan Banjir

Bukan hanya masalah drainase, ternyata Jakarta juga tidak memunyai layanan dan sanitasi kota yang baik. Akibatnya, Jakarta lebih cepat banjir dan berdampak lebih buruk. Hal tersebut diungkapkan Kasubdit Saluran Air dan Saluran Limbah Bappenas, Nugroho Tri Utomo, dalam sebuah talkshow media bertema “Bedah Banjir” beberapa waktu lalu.

Sanitasi buruk yang dimaksud Nugroho adalah tentang banyaknya MCK yang tidak berfungsi, efluen industri di kawasan perumahan, masyarakat yang BAB (buang air besar) sembarangan, pembuatan jamban yang asal-asalan, pembuangan liar lumpur tinja, dan masih banyaknya masyarakat yang mandi & cuci di sungai tercemar.

Sanitasi sendiri mencakup beberapa hal yang saling berhubungan. Di antaranya adalah pengelolaan limbah domestik, sampah domestik, dan drainase lokal (got dan saluran air).

Hal yang paling diperhatikan dalam pembangunan sanitasi yang baik adalah masalah pengelolaan limbah domestik (tinja) dan sampah. Kedua hal tersebutlah yang menjadi penyumbang banjir di Jakarta dan beberapa tempat di Indonesia.

Kenapa begitu? Limbah domestik atau tinja banyak dibuang masyarakat sembarangan. Kebanyakan dibuang langsung ke sungai atau selokan-selokan. Bersamaan dengan sampah, limbah domestik tersebut menjadi penyebab tidak lancarnya aliran air di selokan atau sungai.

Jika terjadi banjir, air-air sungai yang tercemar limbah domestik tersebut pun menjadi sarang penyakit yang biasa timbul di saat banjir.

Kemudian, karena adanya kandungan senyawa nutrien, limbah domestik ini pun akan memacu pertumbuhan ganggang. Akibatnya, fenomena yang disebut Eutrofikasi ini, membuat sungai atau waduk banyak ditumbuhi ganggang yang membuat aliran air tidak lancar.

Prinsip penanganan limbah dometik sendiri, menurut Nugroho, adalah ditampung (cubluk atau septic tank), dijauhkan dari aktivitas manusia, jauhkan dari pemukiman manusia (transportasi), dan diolah (IPAL).

Dari prinsip tersebut, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, terutama mengenai septic tank dan kebiasaan masyarakat membuang tinja langsung ke sungai.

Di Indonesia, septic tank digunakan sekitar 65% rumah yang ada di kawasan perkotaan. Tanah Jakarta dan sekitarnya saja, menyimpan lebih dari 1 juta septic tank. Hal yang mengkhawatirkan adalah belum adanya pengaturan septic tank di Indonesia.

Memang ada Standar Nasional Indonesia yang mengatur konstruksi septic tank. Tapi, belum ada aturan tentang jumlah septic tank per satuan luas kawasan, belum ada aturan yang mewajibkan pemilik rumah secara rutin melakukan penyedotan, dan belum ada pihak-pihak yang merasa berkepentingan memeriksa kondisi septic tank di wilayahnya.

Sering kali, masalah septic tank ini menjadi urusan pribadi pemilik rumah. Setiap orang dirumahnya mengurus sendiri-sendiri tempat pembuangan tinjanya. Padahal, bila ada septic tank yang bocor, resapannya bisa mencemari air tanah dan mengancam kesehatan masyarakat sekitar.

Sekarang ini, sekitar 60% rumah-rumah memiliki sumur dan septic tank yang jaraknya tidak sampai 10 meter. Celakanya, banyak pula sumur di suatu rumah yang letaknya ternyata dekat dengan septic tank rumah tetangganya. Penghuni rumah tersebut selama ini tidak sadar kalau air yang digunakan untuk sikat gigi ternyata tercemar air tinja dari septic tank tetangganya.

“Kalau dalam jangka waktu 3 tahun septic tank tidak penuh, jangan bangga dulu. Karena itu berarti septic tank Anda telah mencemari lingkungan,” jelas Nugroho.

Septic tank di kawasan padat penduduk tentunya berjumlah sangat banyak. Setiap rumah diwajibkan untuk membuat septic tank sendiri, tidak peduli luas lahannya 50 m2 atau 5000m2. Tanpa disadari, kewajiban tersebut ternyata membuat populasi septic tank semakin tinggi.

Akibatnya, kualitas air tanah menurun karena banyaknya septic tank yang tidak memenuhi standar teknis yang ditetapkan. Ada yang mirip cubluk karena dasarnya tidak diperkeras, ada yang dindingnya hanya terbuat dari pasangan batu bata biasa, ada yang ukurannya terlalu kecil, dan sebagainya.

Pada kondisi seperti ini, ada baiknya kita memertimbangkan penggunaan sewerage system untuk menggantikan jutaan septic tank yang ada sekarang. “Hanya kita yang masih menggunakan septic tank. Di kota-kota negara Asia lainnya sudah menggunakan sewerage system,” ujar Nugroho.

Sewerage System berfungsi untuk mengumpulkan air tinja dari rumah-rumah dan mengolahnya sampai mencapai baku mutu efluen yang ditetapkan. Dengan sistim ini, tidak diperlukan lagi septic tank sehingga pencemaran air tanah akan berkurang.
Agak ironis memang, mengingat sewerage system sebenarnya sudah mulai dibangun saat pemerintahan kolonial Belanda sejak tahun 1910 di Bandung, Cirebon, Solo, dan Yogyakarta. Pembangunannya terhenti justru ketika kita merdeka.

Pada akhir 80-an, kita baru memulainya lagi dan mengembangkannya di beberapa kota besar. Sekarang baru ada 10 kota (Balikpapan, Banjarmasin, Bandung, Cirebon, Jakarta, Medan, Prapat, Surakarta, Tangerang, dan Yogyakarta) yang mengembangkan sewerage system di daerahnya. Itu pun hanya mampu melayani 10% populasi kota.

Read More ..

Perumahan Bebas Banjir, Bohong?


Mungkin Anda sering melihat promosi developer properti yang mengiklankan bahwa perumahannya bebas banjir. Hal tersebut ditempuh karena daerah yang dijadikan lokasi perumahan memang sering terjadi banjir. Karenanya mereka memberi jaminan “Bebas Banjir”.

Lalu, untuk lebih mendukung pernyataannya, para developer pun meninggikan lokasi perumahannya beberapa centimeter di atas permukaan tanah. Memang, perumahan tersebut tidak terkena banjir, tapi daerah di luarnya, akan terkena limpahan air. Jika saja daerah tersebut memang rawan banjir, akan bertambah parah banjir yang akan dialami.

Kelakuan meninggikan permukaan tanah tersebut, bisa dibilang bukan tindakan memecahkan masalah banjir. Hal tersebut malah membuat bencana baru buat masyarakat sekelilingnya karena akan menerima limpahan air yang lebih banyak.

Kemampuan developer untuk menahan banjir dengan pembangunan drainasenya, tidak bisa bertahan selamanya. Saluran drainase memiliki umur sejalan dengan investasi yang ditanam. Misalnya, bila saluran drainase dibangun dengan investasi 10 juta, akan hanya bisa tahan sampai 10 tahun. Lebih dari itu, kemungkinan air tergenang atau banjir akan selalu ada.

Tidak ada daerah yang bebas banjir seperti banyak diiklankan developer perumahan. Lihat saja kawasan Istana Merdeka, Jalan Thamrin, atau Monas, sekitar 20 tahun lalu, daerah tersebut dibilang bebas banjir. Tapi, lihat sekarang, tiap hujan besar, jalan-jalan negara tersebut banyak yang tergenang air hujan. Semua daerah pasti ada kemungkinan terkena banjir. Belanda saja, masih memiliki kemungkinan banjir, meski hanya 1/10.000.

Read More ..

Masyarakat Bantaran Kali, Bukan Hanya Itu

Banyak masyarakat yang mendirikan bangunan di bantaran kali. Selain membuat tempat tinggal, ada pula yang memanfaatkannya sebagai tempat parkir mobil atau tempat usaha seperti warung makan, misalnya.

Menjelang musim penghujan, pemerintah menghalau mereka untuk pindah. Beberapa bangunan dibongkar dengan alasan, merekalah yang menyebabkan banjir sering mampir di Jakarta.

Kemudian, bila melihat daerah Muara Baru yang sering kali digenangi air pasang laut atau rob, kenapa sih, mereka tidak mau pindah saja dari lokasi tersebut? Toh, mereka sering tergenang banjir yang datang tak tentu.

Kenapa banyak masyarakat yang masih mau tinggal di tempat yang dikatakan rawan banjir? Tinggal di daerah yang permukaan tanahnya lebih rendah dari daerah lainnya sehingga menjadi bulan-bulanan banjir.

Masyarakat yang tinggal di bantaran kali sering dituding sebagai penyebab banjir. Masyarakat yang tinggal di daerah yang permukaan tanahnya rendah, sering disuruh untuk pindah. Apakah pernyataan tersebut benar?

Kalau benar, berarti orang-orang Belanda tidak boleh tinggal di negaranya yang berada beberapa meter di bawah permukaan laut. Begitu juga dengan orang Bangladesh yang seluruh permukaan tanahnya adalah delta.

Orang Belanda dan Bangladesh tinggal di bantaran laut dan daerah delta, karena memang di sana ada keuntungan yang bisa diambil. Mereka membuat drainase yang memang mampu untuk menanggulangi masalah air.

Contohnya seperti Belanda, dengan kemampuan investasi dan teknologinya, mereka bisa membendung laut dengan kemungkinan tergenang 1/10.000. Tapi, bukan berarti Belanda tidak akan tergenang air. Selalu ada kemungkinan daerah mereka tergenang air, meski hanya 1 dibanding 10.000.

Dalam mengatasi banjir, orang-orang yang tinggal di bantaran kali, tidak sepenuhnya bisa disalahkan. Mereka tinggal di sana karena memang tidak mampu membeli lahan untuk membangun rumah di Jakarta. Tanah kosong di Jakarta juga semakin lama semakin sedikit. Akhirnya, mereka memanfaatkan bantaran kali sebagai tempat tinggal atau usaha.

Ada baiknya kalau pemerintah membenahi saluran drainase yang ada. Bukan hanya merawat agar kapasitasnya tidak menurun karena sampah atau endapan lumpur, tapi juga disesuaikan dengan kondisi sekarang ini.

Misalnya saja, Jakarta memiliki Banjir Kanal Barat (BKB) sebagai tulang punggung badan air di Jakarta. Padahal BKB itu dirancang untuk mengatasi air pada tahun 1920-an. Kapasitas dan kemampuannya menampung air disesuikan dengan kondisi pada saat itu juga. Sehingga kalau belum di-upgrade kemampuannya, bukan mustahil BKB meluap karena kapasitas menampung airnya tidak sesuai dengan kondisi sekarang.

Akibatnya, banjir terjadi di mana-mana karena badan air (BKB atau sungai-sungai besar) kelebihan kapasitas. Hal tersebut juga diperparah dengan pola membuang air secepatnya ke badan air. Padahal, badan airnya sendiri sudah kelebihan beban.

Read More ..

19/02/09

Jakarta Tidak Akan Bebas Banjir

Pernyataan itu dikeluarkan Ahli banjir Belanda (Konsultan Banjir IHE-Indonesia), Jan T L Yap, dalam sebuah diskusi “Bedah Banjir” yang digelar Kamis (19/2) bertempat di Hotel Ambara, Jakarta Selatan.

Biar bagaimana pun, menurutnya, pasti ada kemungkinan banjir dalam satu wilayah. Belanda saja yang dikenal memiliki teknologi penanganan banjir yang baik, wilayahnya masih memunyai kemungkinan banjir. Misalnya, wilayah pesisir pantai Belanda, di situ kemungkinan banjirnya 1/10.000. “Jadi, selalu ada kemungkinannya,” katanya.

Banjir dalam satu wilayah, tidak bisa diprediksi secara pasti. Banyak faktor yang memengaruhinya, termasuk sistem drainase (saluran air, waduk, cekungan, resapan air tanah, dan lainnya) yang digunakan di wilayah tersebut. Semakin bagus sistem drainase yang dibuat, semakin jauh kemungkinan terkena banjir.

Namun, pembangunan drainase sendiri berkaitan dengan investasi yang ditanam. Dengan kata lain, dalam pembangunan drainase, sering pula diperhitungkan nilai ekonomis dari satu wilayah. Misalnya, bila wilayah Kemang itu merupakan area pertanian, akan beda pembuatan drainasenya jika Kemang adalah daerah industri atau pabrik. Karena bila Kemang daerah pertanian, kerugian (sosial, ekonomi, lingkungan) yang ditimbulkan bila terjadi banjir, tidak akan begitu besar dibanding Kemang adalah daerah industri.

“Sama halnya dengan di Belanda. Daerah pesisir pantai kemungkinan banjirnya 1/10.000 karena di situ ada pabrik-pabrik dan industri. Sedangkan daerah yang jauh dari pantai, sistem drainasenya dibangun dengan kemungkinan banjir hanya 1/1000,” ujar Jan yang juga berkecimpung di Jaringan Kerja Sama Ilmu Pengetahuan Indonesia (CKNet-INA).

Menurut Jan, banjir juga disebabkan karena konstruksi drainase yang kebanyakan sudah usang karena dibuat sejak jaman Belanda dulu. Misalnya, Banjir Kanal Barat (1919 – 1920), pembangunannya hanya menyesuaikan kondisi wilayah pada saat itu. Nah, ketika masih diterapkan sampai sekarang, mustahil bisa mengatasi banjir.

Pun ada juga peran developer perumahan yang menambah parah kondisi banjir Jakarta. Seperti daerah Pantai Indah Kapuk, seharusnya di wilayah tersebut bukan untuk wilayah perumahan. Penyalahgunaan lahan seperti inilah yang menyebabkan banjir.

Untuk mengantisipasi banjir di Jakarta, dalam waktu dekat ini, akan diterapkan Integrated Flood Management (IFM). Dengan pendekatan tersebut, kemungkinan banjir di Jakarta akan bisa diperkecil.

Read More ..

17/02/09

Melihat Keberadaan dan Peranan LBB

Banyak anak murid dan orang tua kuatir menjelang ujian nasional atau seleksi masuk perguruan tinggi. Sekolah terlanjur dicap masyarakat tidak bisa menjamin semua murid-muridnya lulus ujian. Meski bukan hal yang pasti, tapi banyak anak murid yang mencari solusi dengan mendaftar dan percaya pada Lembaga Bimbingan Belajar (LBB).

Tingginya minat murid-murid sekolah, terutama yang duduk di kelas 3 SMP dan SMA, dalam mengikuti bimbingan belajar, membuat tumbuh subur LBB di berbagai wilayah, tak kecuali di komunitas Kebon Jeruk dan Kembangan. Mulai LBB waralaba dengan jaringan dan kurikulum yang terpadu, sampai dengan LBB rumahan yang lebih bersifat privat.

Maraknya usaha pendidikan tersebut, tidak terlepas dari kesempatan yang muncul akibat pemerintah menaikan standar nilai kelulusan murid sekolah. Apalagi banyak murid yang dinyatakan tidak lulus karena belum memenuhi nilai yang ditetapkan pemerintah.

Kontan saja, LBB maju ke depan menawarkan “jalan pintas” dengan menawarkan latihan soal-soal ujian yang lebih praktis. LBB menggunakan soal-soal ujian tahun lalu untuk melatih muridnya. Bahkan, mereka pun mengeluarkan prediksi soal ujian yang akan keluar pada tahun berjalan.

Awalnya, LBB berdiri karena supremasi perguruan tinggi negeri yang dikatakan memiliki kualitas lebih baik dan biayanya yang lebih murah. Oleh karena itu, masyarakat berlomba-lomba mendaftarkan diri dan berujung pada seleksi masuk yang ketat.

Karena seleksi yang ketat inilah banyak pendiri LBB yang berinisiatif untuk mendirikan tempat pendidikan, khusus membahas soal-soal ujian. Sekaligus sebagai peluang bisnis pendidikan yang cukup menjanjikan. Bayangkan, orang tua siapa yang tidak ingin anaknya masuk perguruan tinggi negeri? Atau lulus dalam ujian nasional dan mendapat sekolah favorit?

Dalam perkembangannya, banyak LBB yang tidak hanya membuka bimbingan belajar buat murid sekolah kelas 3 SMP atau SMA. LBB terus berkembang dan melebarkan sayap dengan membuka bimbingan belajar buat berbagai tingkatan kelas, bahkan untuk murid-murid TK. Isinya tetap membantu murid dalam mengerti pelajaran dan mendapat nilai baik di sekolah.

Materi yang diberikan tidak berbeda dengan di sekolah. Dengan bantuan para pengajar LBB, murid sekolah dari berbagai jenjang pendidik tersebut dibantu menguasai dan menaikan nilai pelajaran di sekolah.

Begitu juga dengan kurikulum yang digunakan, tidak berbeda jauh dengan yang dipakai sekolah. Bahkan LBB pun sudah menyiapkan beberapa kurikulum yang populer dipakai sekolah negeri maupun swasta dan sekolah bertaraf nasional plus. Dengan begitu, anak murid pun akan mendapat pelajaran yang tidak berbeda dengan pelajaran di sekolahnya.
Lebih jauh lagi, LBB pun menyediakan guru piket yang bersedia kapan saja sebagai tempat berkonsultasi. “Mereka bukan hanya belajar apa yang diajarkan di kelas saja, tapi juga bisa berkonsultasi seperti menanyakan pekerjaan rumah dari sekolah atau tentang apa saja yang menyangkut pelajaran. Kami tidak memungut biaya lagi, staf pengajar selalu siap membantu,” kata Marketing Teknos Duri Raya, Ryan Timiko.

Di balik itu semua, dengan anak murid mengikuti LBB, berarti anak tidak memunyai banyak waktu luang untuk bersosialisasi dengan teman-temannya, menyegarkan pikiran, atau menuangkan hobi yang dimiliki.

Bukan bermaksud menyudutkan LBB, tapi kalau melihat jam belajar anak di sekolah ditambah lagi belajar di LBB, maka praktis anak tidak memunyai waktu banyak. Mereka pun akan terlalu letih buat aktifitas lain. Apalagi kebanyakan materi LBB hanya mengasah logika dan kemampuan otak kiri. Dan berkutat pada pelajaran seperti Fisika, Kimia, Biologi, dll.

Artinya, tidak ada waktu buat anak melatih otak kanannya yang berfungsi untuk mengasah imajinasi dan kreativitas. Kehidupan mereka pun menjadi monoton, pagi berangkat sekolah, siang dilanjutkan dengan bimbingan belajar. Kemudian mereka akan mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan sekolah pada malam harinya.

Apa Perlu Belajar di Bimbel?
Pertanyaan di atas terus menyeruak ketika melihat anak-anak sekolah pergi di pagi hari dan pulang menjelang sore. Dengan begitu banyaknya waktu yang tersita setiap hari, apakah mereka juga harus belajar lagi di LBB? Apa sekolah tidak cukup memberikan mereka waktu untuk menguasai pelajaran?

Bukan karena sekolah tidak cukup memberikan materi pelajaran (tergantung dari sekolahnya), tapi banyak juga murid sekolah yang akan lebih yakin menghadapi UN atau ujian seleksi perguruan tinggi kalau sudah belajar di LBB. Apalagi di sana mereka akan diberikan soal-soal yang biasanya keluar dalam ujian yang akan ditempuh.

Di samping itu, mereka juga bisa menambah wawasan dan teman, bukan hanya di sekolah saja. Di situ, mereka bisa saling bertukar pikiran dan membahas berbagai tip dan trik cara cepat mengerjakan soal-soal ujian.

Pro dan kontra tentang pentingnya LBB masih menjadi pertanyaan. Terlebih lagi biaya pendidikan di LBB yang tidak terbilang murah. Buat mereka yang duduk di kelas 3 SMP atau SMA, misalnya. Biaya yang harus dikeluarkan oleh orang tua murid bisa berkisar antara 5 – 15 juta. Bagi yang orang tuanya punya duit banyak, hal itu mungkin tidak masalah, tapi bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki uang lebih?

Sebenarnya, di beberapa sekolah pun sudah menyediakan program pendalaman materi buat mereka yang akan mengikuti ujian. Dengan begitu, anak-anak sekolah tidak begitu perlu mengikuti LBB karena selain akan menyita tenaga dan waktu, mereka pun sebenarnya sudah mendapat pelajaran tambahan di sekolah.

Murid sekolah yang memilih tidak ikut LBB, pun bisa belajar bersama dan membahas pelajaran dengan teman-teman. Untuk mengukur kemampuan, mereka bisa mengikuti beberapa try out yang banyak diselenggarakan. Atau membeli buku-buku soal ujian dan membahasnya bersama teman sekolah atau teman yang ikut LBB.

Tapi, itu semua tergantung dari individu masing-masing. Terkadang, ada individu yang belum punya rasa tanggung jawab dan keyakinan. Tidak terpicu belajar, bila harus belajar sendiri. Makanya, mereka memilih ikut LBB, dibanding harus belajar sendiri atau dengan teman-teman yang kebanyakan akan diisi dengan ngobrol atau hal lain yang bukan bersifat pembelajaran.

Sekolah Versus LBB
Sekolah dan LBB selayaknya memang saling mendukung dalam mengembangkan kemampuan murid dalam menguasai pelajaran sekolah. Sebenarnya, antara sekolah dan LBB memiliki orientasi yang berbeda.

Sekolah lebih bertujuan pada pengembangan siswa secara menyeluruh, termasuk mengembangkan kreativitas dan sikap siswa. Lain halnya dengan LBB yang lebih pada tujuan singkat seperti kemampuan siswa dalam mengerjakan soal-soal dengan cepat dan benar. Tujuan utamanya adalah mengantar siswa lulus ujian atau mendapat perguruan tingggi negeri.

Karena alasan tersebut, malah seharusnya sekolah dan LBB bisa saling membantu. Ibaratnya, sekolah memberikan pondasi, sedangkan LBB lebih pada memberikan atap rumah dan finishing agar rumah terlihat bagus dan indah. Bukan hal yang baik bila masyarakat atau siswa sekolah hanya mengartikan pendidikan dengan lulus atau tidaknya dalam sebuah ujian.

Sekarang ini, layanan dan fasilitas LBB pun kerap menjadi perbandingan oleh masyarakat. Di samping perlengkapan belajar mengajar yang terbilang lengkap dan nyaman. LBB pun ada yang melengkapi dengan fasilitas konsuling dan sesi membangun motivasi siswa dalam belajar. Layanan tersebut disediakan gratis dan kapan saja.
Seperti yang dilakukan Quantum Brain dengan memberikan pelayanan belajar di luar kelas yang betul-betul nyata (individu atau kelompok). Pelajaran tambahan tersebut diberikan gratis bagi siswa-siswi.

”Di samping itu, siswa Quantum Brain pun akan mendapat training secara berkala tentang ”motivation to win” dan ”skill of learning” melalui Motivation Training Plus (MTP) oleh pembicara dan motivator handal Mr. Sintong dan Mr. Pia,” kata Pimpinan Cabang Quantum Meruya, Oskar Purba.

Tidak sampai di situ, bahkan ada LBB yang memberikan fasilitas untuk melihat bakat dan potensi anak. Melalui fasilitas tersebut, akan bisa terlihat kemampuan otak kiri dan kanan anak sehingga akan lebih mudah mengembangkan potensi dan bakat anak yang tepat ke depannya.

Menjelang UN, banyak pula LBB yang menyelenggarakan pembelajaran intensif. Murid akan diberi materi-materi latihan soal agar mereka benar-benar siap menghadapi ujian.

Seperti yang dikatakan Pimpinan Cabang Primagama Green Garden, Ika Kumala Furi, SE, dalam menghadapi UN 2009 nanti, akan dibuka program “Super Intensive UN 2009”. Di program tersebut, siswa akan dibekali simulasi, trik-trik jitu serta pembahasan soal-soal prediksi UN 2009 yang akurat. “Program telah dibuka mulai sekarang dengan biaya sebesar Rp 900 ribu,” katanya.

Kemudian, entah karena sebab persaingan bisnis atau untuk memberikan kepercayaan pada masyarakat, ada pula LBB yang memberikan garansi lulus ujian atau perguruan tinggi negeri.

Pada dasarnya, program jaminan ini sama dengan program bimbel lainnya, tapi jumlah muridnya saja yang dibatasi. Biasanya, tidak lebih dari 10 anak dalam satu kelas. Biayanya pun tentu lebih mahal, di atas Rp 10 jutaan.

Bahkan, ada pula LBB yang membuka Kelas Super atau kelas buat murid yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Mereka akan dikumpulkan dalam satu kelas dengan materi pembelajaran yang sama, tapi dibahas lebih mendalam dan cenderung mendorong potensi anak. Tidak hanya teori, tapi juga meliputi aplikasi, pendalaman, dan pengembangan materi.

Bisnis Pendidikan
Apa pun masalah dan alasannya, pendidikan sepatutnya tidak dijadikan ajang bisnis semata. Bila hal itu terjadi, bukan tidak mungkin pendidikan hanya akan dimiliki oleh mereka yang memunyai uang banyak. Sedang buat mereka yang hidup seadanya, akan mendapat pendidikan yang apa adanya pula.

Kita sendiri mahfum bahwa biaya operasional pendidikan dengan berbagai keperluan tidak bisa dibilang murah. Tapi selayaknya dihindari menjadikan pendidikan sebagai ”mesin pencari untung” belaka. Karena ketidakadilan dalam pendidikan membuat kualitas dan potensi masyarakat secara keseluruhan menjadi tidak merata.

Bagi murid-murid yang menimba ilmu di LBB pun memiliki sisi positif. Mereka menjadi kaya ilmu dan pengetahuan karena belajar bukan hanya di sekolah saja. Sekaligus mereka bisa mencari teman dan tempat untuk berdiskusi.

Selayaknya, sekolah dan LBB tidaklah bersaing. Keduanya bisa dibilang saling mengisi kekurangan yang lowong di sistim pendidikan kita. Biar murid sekolah yang nantinya akan menjadi masyarakat Indonesia secara keseluruhan menjadi lebih baik dan mampu berkompetisi dalam dunia nyata.

Read More ..

Menjelaskan Seks Pada Anak

Risih juga memang kalau menjelaskan masalah seks sama anak kita. Soalnya, mereka dianggap masih kecil dan takut menirukan apa yang kita perbuat. Maklum saja, rasa ingin tahu anak yang tinggi mendorongnya memertanyakan segala hal yang dilihatnya.

Ada beberapa tips yang bisa dijadikan alasan ketika anak menayakan perihal seks. Intinya, kita harus tetap memberikan informasi agar anak mengerti dan bersikap tenang dalam menghadapinya.
Berikut tips seperti dikutip dari untukku.com tentang bagaimana menyampaikan rasa ingin tahu anak Anda mengenai seks:

* Bagaimana menjelaskan seks pada anak-anak?
Berikan jawaban yang jujur dan jangan malu-malu. Berikan informasi yang diperlukan oleh anak saat itu. Misalnya anak berusia 3 tahun ingin tahu dari mana bayi berasal. Tidak perlu Anda jelaskan secara rinci tentang reproduksi. Cukup katakan, bayi tumbuh di suatu tempat khusus di dalam tubuh ibunya.

* Apa yang harus Anda katakan saat anak melihat Anda sedang berhubungan intim?
Cobalah bersikap tenang, jangan berlebihan. Bawa kembali si kecil ke kamar tidurnya. Jelaskan Anda berdua tidak sedang bertengkar, karena jika tidak diberitahu akan membuat kesalahpahaman pada si kecil. Katakan Anda sedang bermain dan menunjukkan kasih sayang satu sama lain.

* Usia berapa anak harus diberikan pendidikan tentang seksual?
Jangan terlalu terpatok waktu. Anak-anak belajar tentang seks sepanjang waktu dan melalui jawaban terhadap pertanyaan individual. Hindari merencanakan untuk memberitahu hal-hal tentang seksual karena tidak realistik.

* Apa yang harus dilakukan jika menemukan anak Anda sedang bermain dokter-dokteran dan saling memperlihatkan genitalnya dengan temannya?
Tetap tenang dan katakan kepada mereka bahwa “bagian pribadi” adalah hanya miliknya pribadi, dan mereka tidak boleh mengizinkan orang lain menyentuh bagian tersebut.

Read More ..

Aksesibilitas dan Kesempatan Politik Difabel

Semua orang layaknya memiliki kesempatan yang sama agar hak mereka dapat terpenuhi dengan sejati. Bukan dengan diskriminasi atau belas kasihan kesempatan itu diberikan, tapi dengan kesadaran penuh dan keakuan bahwa semua orang adalah sama pada dasarnya.

Menjelang Pemilu 2009 nanti, aksesibilitas para penyandang cacat atau kaum difabel (people with different ability) masih terus dipertanyakan implementasinya. Akankah mereka mendapat akses yang memadai dalam Pemilu nanti? Terbebaskah mereka dari kecurangan saat hari pencontrengan nanti?

Pengurus Pusat Pemilihan Umum Akses Penyandang Cacat (PPUA Penca) pun sudah mengusulkan kepada KPU pusat agar menyiapkan segala akses buat penyandang cacat. PPUA Perca yang didirikan tahun 2004 adalah kumpulan organisasi penyandang cacat di seluruh Indonesia. Tujuan awalnya adalah membantu para penyandang cacat dalam pelaksanaan Pemilu 2004 lalu.

Bagi orang normal, mungkin yang dipikirkan adalah siapa yang akan dipilih saat Pemilu nanti. Tapi, buat mereka yang difabel, selain pertanyaan di atas, ada hal yang lebih penting lagi. Mereka memikirkan bagaimana caranya memilih, bila bilik suara tak selebar kursi roda? Tidak adanya alat bantu dengar? Tidak tersedianya surat suara dalam huruf Braille? Atau bagaimana bisa ke TPS kalau jalannya terjal dan berbatu? Kalau saja aksesibilitas mereka tidak dipermudah, percuma saja mereka berpikir untuk memilih siapa.

Tidak tersedianya aksesibilitas yang memadai ini pun bisa memunculkan kecurangan dalam Pemilu. Biasanya, penyandang cacat yang tidak bisa mengakses bilik suara atau mereka yang tidak bisa melihat, akan diwakilkan oleh seseorang. Mereka akan ditanya, “mau pilih apa? Nanti akan dicobloskan”. Di sinilah biasanya akan terjadi rekayasa atau manipulasi dalam prakteknya.

Di samping itu, hal tersebut juga mengingkari asas Pemilu yang langsung, umum, bebas, dan rahasia. Para kaum difabel tidak bisa langsung memilih karena aksesnya yang tidak menunjang. Mereka juga tidak bisa merahasiakan pilihannya karena suaranya diwakilkan oleh orang lain.

Pada Pemilu 1999, masih ada penyandang cacat yang harus turun dari kursi rodanya menuju bilik suara. Itu karena kursi rodanya tidak bisa masuk bilik dan jalan menuju ke sana tak bisa dilewati kursi roda. Penyandang cacat fisik tersebut tidak mau kehilangan hak suaranya dan sudah memiliki kesadaran berpolitik. Makanya, dia mau bersusah payah merangkak ke bilik suara untuk mencoblos kertas suara.

Bukan hanya masalah aksesibilitas, tapi dalam hal ini, sosialisasi Pemilu 2009 pun dinilai masih belum cukup. Padahal ormas dan orsos penyandang cacat sudah tersebar di seluruh Indonesia. Kaum difabel perlu informasi tentang partai politik dan Caleg agar mereka tidak bingung memilih.

Misalnya saja, informasi Pemilu buat penderita tuna rungu, mereka pada umumnya tidak bisa membaca dan hanya mengandalkan bahasa isyarat. Sampai sekarang ini, belum ada informasi yang menambahkan bahasa isyarat di dalamnya.

Begitu juga dengan persepsi mengenai tanda centang yang disepakati dipakai dalam memilih nanti. Bisa saja kita mengandaikan centang dengan bentuk rumput yang biasa digambar anak-anak SD kelas 1. Tapi, buat mereka yang tuna netra atau tidak bisa melihat sejak kecil, mereka tidak tahu apa yang dinamakan dengan rumput.

Saat ini, menurut Data Depsos jumlah penyandang cacat di Indonesia diprediksikan 3,11 persen dari total penduduk Indonesia atau sekitar 6 juta jiwa. Dari jumlah sekitar 6 juta jiwa tersebut, sekitar 3,6 juta di antaranya memiliki hak pilih.

Mungkin saja pemerintah sudah memikirkan hal tersebut, KPU pun sudah berjanji pada PPUA Perca untuk mengakomodir tersedianya aksesibilitas memadai buat kaum difabel. Meski begitu, sekali lagi, implementasinya masih dipertanyakan.

Akankah KPU mampu menyediakan aksesibilitas memadai buat kaum difabel yang tidak terkonsentrasi di satu tempat? Atau KPU dan masyarakat pada umumnya lebih memilih memarginalkan mereka, menyepelekan hak kaum difabel, dan diskriminatif ?

Perlu diingat, kaum difabel tidak mau dirinya dibedakan dengan orang lain. Mereka lebih suka dianggap sama dan diberikan kesempatan untuk berusaha sendiri. Mereka pun tidak suka belas kasihan. Saat Pemilu nanti, mereka hanya butuh akses yang memudahkan dalam memilih dan pengakuan eksistensi kaum difabel.

Read More ..

Mengenalkan Internet di Usia 2 - 12 Tahun

Ada nilai positif dan negatif dari penggunaan internet buat anak. Berikut ini adalah kiat mengenalkan Internet bagi anak-anak usia 2 hingga 12 tahun:

Usia 2 s/d 4 tahun
Dalam usia balita, anak yang memulai berinteraksi dengan komputer harus didampingi oleh orang tua atau orang dewasa. Ketika banyak aktifitas dan situs yang bersesuaian dengan usia balita ini, melakukan surfing bersama orang tua adalah hal yang terbaik. Hal tersebut bukan sekedar persoalan keselamatan anak, tetapi juga untuk meyakinkan bahwa anak tersebut bisa mendapatkan pengalaman yang menyenangkan sekaligus memperkuat ikatan emosional antara sang anak dengan orang tua.

Sejak masuk usia ketiga, beberapa anak akan mendapatkan keuntungan jika mendapatkan lebih banyak kebebasan untuk melakukan eksplorasi, menemukan pengalaman baru dan belajar dari kesalahan yang dibuatnya sendiri. Hal tersebut bukan berarti mereka dibiarkan menggunakan Internet secara bebas.

Yang terbaik adalah orang tua tetap memilihkan situs yang cocok untuk mereka kunjungi dan tidak membiarkan sang anak untuk keluar dari situs tersebut ketika masih menggunakan Internet. Kita pun tidak perlu terus-menerus berada di samping sang anak,, selama kita yakin bahwa dia berada di dalam sebuah situs yang aman, layak dan terpercaya.

Usia 4 s/d 7 tahun
Anak mulai tertarik untuk melakukan eksplorasi sendiri. Meskipun demikian, peran orang tua masih sangat penting untuk mendampingi ketika anak menggunakan Internet. Dalam usia ini, orang tua harus mempertimbangkan untuk memberikan batasan-batasan situs yang boleh dikunjungi, berdasarkan pengamatan orang tua sebelumnya. Untuk mempermudah hal tersebut, maka orang tua bisa menyarankan kepada anaknya untuk menjadikan sebuah direktori atau search engine khusus anak-anak sebagai situs yang wajib dibuka saat pertama kali terhubung dengan Internet.

Anak akan mendapatkan pengalaman yang positif jika berhasil meningkatkan penemuan-penemuan baru mereka di Internet. Inti permasalahan di sini bukanlah terpusat pada bagaimana menghindari situs-situs negatif, tetapi bagaimana caranya agar anak dapat tetap leluasa mengeksplorasi Internet dan mengunjungi sejumlah situs yang bermanfaat tanpa timbul rasa frustrasi atau ketidaknyamanan pada dirinya

Usia 7 s/d 10 tahun
Dalam masa ini, anak mulai mencari informasi dan kehidupan sosial di luar keluarga mereka. Inilah saatnya dimana faktor pertemanan dan kelompok bermain memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kehidupan seorang anak. Pada usia ini pulalah anak mulai meminta kebebasan lebih banyak dari orang tua.

Anak memang harus didorong untuk melakukan eksplorasi sendiri, meskipun tak berarti tanpa adanya partisipasi dari orang tua. Tempatkan komputer di ruang yang mudah di awasi, semisal di ruangan keluarga. Ini memungkinkan sang anak untuk bebas melakukan eksplorasi di Internet, tetapi dia tidak sendirian.

Pertimbangkan pula untuk menggunakan software filter, memasang search engine khusus anak-anak sebagai situs yang boleh dikunjungi ataupun menggunakan browser yang dirancang khusus bagi anak. Pada masa ini, fokus orang tua bukanlah pada apa yang dikerjakannya di Internet, tetapi berapa lama dia menggunakan Internet. Pastikan bahwa waktu yang digunakannya untuk menggunakan komputer dan Internet tidaklah menyerap waktu yang seharusnya digunakan untuk variasi aktifitas lainnya.

Bukanlah hal yang baik apabila anak-anak menghabiskan waktunya hanya untuk melakukan satu kegiatan saja, bahkan untuk hanya membaca buku ataupun menggunakan Internet sekalipun. Salah satu cara mencegah hal tersebut adalah dengan membatasi waktu online mereka, bisa dengan cara menggunakan aturan yang disepakati bersama atau dengan memasang software yang dapat membatasi waktu online. Penting pula diperhatikan bahwa saat mereka online, upayakan agar mereka mengunjungi berbagai macam situs, tidak sekedar satu-dua situs favorit mereka saja.

Usia 10 s/d 12 tahun
Pada masa pra-remaja ini, anak yang membutuhkan lebih banyak pengalaman dan kebebasan. Inilah saat yang tepat untuk mengenalkan fungsi Internet untuk membantu tugas sekolah ataupun menemukan hal-hal yang berkaitan dengan hobi mereka. Perhatian orang tua tidak hanya pada apa yang mereka lihat di Internet, tetapi juga pada berapa lama mereka online. Tugas orang tua adalah membantu mengarahkan kebebasan mereka. Berikanlah batasan berapa lama mereka bisa mengggunakan Internet dan libatkan pula mereka pada kegiatan lain semisal olahraga, musik dan membaca buku.

Pada usia 12 tahun, anak-anak mulai mengasah kemampuan dan nalar berpikir mereka sehingga mereka akan membentuk nilai dan norma sendiri yang dipengaruhi oleh nilai dan norma yang dianut oleh kelompok pertemanannya. Sebelumnya, norma keluargalah yang banyak berpengaruh. Pada usia ini, sangatlah penting untuk menekankan konsep kredibilitas. Anak-anak perlu memahami bahwa tidak semua yang dilihatnya di Internet adalah benar dan bermanfaat, sebagaimana belum tentu apa yang disarankan oleh teman-temannya memiliki nilai positif. (ictwatch.com)

Read More ..

Orang Tua dalam Perkembangan Anak

Membesarkan anak bukan perkara mudah. Banyak faktor yang memengaruhinya, terutama peran dan cara orang tua mendidik anak-anaknya di rumah.

Menjadi orang tua, menurut Vina Tan dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Sekolah Bukit Sion, harus tahu kelebihan yang dimiliki anak kalau ingin meningkatkan potensinya.

Orang tua dulu dan sekarang berbeda. Kalau dulu, orang tua masih memiliki waktu yang banyak untuk anak-anaknya, teknologi juga masih belum pesat seperti sekarang, dan minim pengaruh media massa. Berbeda dengan sekarang, orang tua memiliki waktu yang sempit buat anaknya karena tuntutan pekerjaan, teknologi juga sudah tinggi, dan pengaruh media begitu besar.

Vina menyarankan pada orang tua untuk menaruh perhatian lebih terhadap media massa. Dia mencontohkan komik, bahan bacaan bergambar ini banyak yang mengandung pornografi dan tidak cocok sebagai bahan bacaan anak-anak.

“Begitu juga dengan internet. Orang tua tidak perlu ahli, minimal mereka harus tahu yang namanya internet. Agar nantinya bisa mengawasi anaknya dalam menggunakan internet,” ujarnya.

Tidak berbeda dengan siaran televisi, sekarang ini banyak sinetron televisi yang secara langsung bisa diadaptasi oleh anak. “Kita harus bisa memberitahu anak, mana yang benar dan salah,” ucapnya.

Meski begitu, ada pula siaran televisi yang membawa pengaruh positif. Sebut saja siaran pertandingan sepak bola yang banyak menggunakan taktik dan strategi. Di situ, anak bisa belajar dan menerapkannya dalam hidup.

Sebagai orang tua, masih menurut Vina, harus terus pula memupuk rasa ingin tahu. Perbanyak membaca untuk memerluas pengetahuan. Bila rasa ingin tahu orang tua tinggi, maka anak pun tidak akan berbeda. Rasa ingin tahu anak akan tumbuh dengan sendirinya.

Kemudian, jaga dan kembangkan komunikasi antar anggota keluarga. Dengan begitu, akan lebih mudah untuk membesarkan anak. Bila ada sesuatu yang salah, suami istri harus saling berkomunikasi. Jangan main diam-diaman. Lebih baik tanyakan langsung, apa yang menjadi masalah dan cari jalan keluarnya.

Suami istri juga harus saling berterus terang. Hindari saling merahasiakan sesuatu. Misalnya, suami membeli sesuatu tanpa sepengetahuan istri. Karena membelinya bersama anak, suami bilang pada anaknya untuk tidak bilang-bilang sama ibunya. “Jangan ancam anak untuk merahasiakan sesuatu,’ kata Vina.

Visi Orang Tua
Membesarkan anak tidak bisa begitu saja selesai setelah anak tumbuh dewasa. Anak harus diberi pendidikan formal maupun informal agar tumbuh menjadi pribadi yang matang dan bertanggung jawab.

Sebagian besar anak tumbuh karena pengaruh orang tuanya. Anak akan meniru apa yang dilakukan dan kebiasaan orang tuanya. Maka dari itu, agar anak memiliki rasa tanggung jawab, orang tua juga harus memiliki visi dalam kehidupan rumah tangganya. “Rencanakan visi ke depan keluarga. Mau apa dan bagaimana?” ujar Vina.

Berkomunikasilah dengan anak dan berikan anak kepercayaan. Bicaralah dengan kata-kata positif dan berilah motivasi. Bila anak berbicara, dengarlah perkataanya dengan hati. Sama halnya ketika anak memiliki masalah, tanyakan masalah yang sedang membayangi si anak. “Dengan begitu, anak akan dipupuk untuk mandiri dan memunyai rasa tanggung jawab,” tutur Vina.

Ada beberapa tips emosional intelejen yang dipaparkan Vina. Di antaranya adalah, dari pada menyalahkan, lebih baik memberi encourage pada anak. Kemudian, dari pada memaafkan, lebih baik menjelaskan pada anak apa yang telah diperbuatnya.

Dari lahir, anak bagaikan selembar kertas putih yang bersih. Orang tua dan lingkungan di luar rumah adalah warna-warna yang akan menghiasi kertas putih tersebut. Sebisa mungkin, orang tua harus menjaga dan mendidik anak agar warnanya bernilai positif dan membantunya dalam kehidupan ini.

Read More ..

Bingung Pilih Jurusan di PT?

Saat ini Anda mungkin sedang bingung menentukan pilihan jurusan di Perguruan Tinggi. Beberapa yang lain mungkin sudah mendaftar ke perguruan tinggi, namun masih bertanya-tanya apakah pilihanku sudah tepat? Tulisan ini dimuat untuk Anda yang sedang resah mencari bidang studi atau karir yang cocok.

Memilih bidang studi di perguruan tinggi memang bukan hal mudah. Pertimbangannya banyak, dari faktor bakat, minat, nilai-nilai hidup, keuangan, kesempatan, bahkan keluarga. Namun satu hal yang penting dipertimbangkan adalah kepribadian.

Menemukan karir atau bidang studi yang cocok adalah bagian yang penting dalam perjalanan hidup kita. Apabila kita tidak menemukan karir yang cocok, bisa memunculkan ketidakseimbangan dan keresahan jiwa. Tuhan menciptakan setiap manusia adalah unik adanya. Setiap manusia diciptakan dengan konstruk tertentu untuk suatu maksud tertentu. Oleh karena itu, penting bagi kita mengenali keunikan kepribadian diri, agar bisa memahami maksud Tuhan menciptakan diri kita.

Salah satu pendekatan yang bisa membantu kita memahami keunikan kepribadian diri adalah melalui teori kepribadian John Holland. Teorinya membagi manusia ke dalam 6 tipe kepribadian. Setiap tipe kepribadian cocok untuk suatu lingkungan/bidang tertentu.

Tipe Realistik. Ciri-ciri orang tipe Realistik adalah orang yang menyukai tugas-tugas bersifat teknis. Ia suka jenis pekerjaan yang memakai tenaga, koordinasi motorik dan keterampilan. Ia orang yang konkrit dan praktis. Orang realistik biasanya memiliki sifat-sifat, seperti tidak suka bertele-tele, langsung (to the point), menuntut kejelasan dan bukti-bukti nyata. Biasanya ia tidak terlalu memiliki kepedulian sosial dan kurang berempati.

Dalam bersosialisasi, biasanya ia kurang luwes dan hangat. Ia senang dengan peran yang “jantan” atau macho. Kalau perempuan, biasanya ia tomboy, suka mengutak-atik benda-benda elektronik atau hal-hal yang sifatnya teknis. Tipe Realistik cocok untuk pekerja di bidang seperti: sipil, arsitektur, teknik, elektronik, perminyakan, mesin, pertanian, perkebunan, dan sejenisnya.

Tipe Konvensional. Ciri-ciri orang tipe Konvensional adalah orang yang menyukai tugas-tugas bersifat administratif. Ia suka jenis pekerjaan yang mementingkan keajegan, keteraturan, kerapihan dan ketertiban. Ia orang yang teliti, detail dan spesifik. Orang Konvensional biasanya memiliki sifat-sifat, seperti hati-hati, tertutup, pendiam, konsisten dan patuh. Ia biasanya orang yang teratur, terencana, tekun dan konservatif. Penampilannya rapih, sopan dan ramah. Biasanya ia kurang imajinatif dan kurang aktif dalam bergaul. Tipe ini cocok untuk pekerja di bidang akuntansi, auditing, sekretaris, finance, administrasi kantor, bank, dan sejenisnya.

Tipe Sosial. Ciri-ciri orang tipe Sosial adalah orang yang menyukai tugas-tugas berkaitan dengan mensejahterakan orang lain. Ia suka jenis pekerjaan yang mementingkan relasi dengan orang lain. Pembawaannya ramah, sopan, toleran, suka bergaul, dan fleksibel. Ia memedulikan masalah sosial, rohani, ingin melayani dan menolong orang lain. Hatinya mudah berbelas kasihan pada kesulitan orang lain. Ia juga suka kegiatan pendidikan dan sosial. Biasanya ia kurang tegas, terlalu kompromis dan menghindari konflik. Tipe Sosial cocok untuk pekerja di bidang pendidikan, administrasi sekolah, dosen, pekerja sosial, dokter, psikologi, konseling, perawat, dan sejenisnya.

Tipe Enterprising. Ciri-ciri orang tipe Enterprising adalah orang yang menyukai tugas-tugas berkaitan dengan mempersuasi atau mempengaruhi orang lain. Ia suka jenis pekerjaan di mana ia bisa tampil dan memimpin. Biasanya ia orang yang suka berkegiatan, aktif, energik, banyak bicara dan senang bergaul. Acapkali orangnya dominan, persuasif dan ingin menonjol. Biasanya ia kurang sabar, suka memaksakan kehendak dan cenderung ingin cepat-cepat. Akibatnya suka ceroboh dan kurang teliti. Tipe Enterprising cocok untuk pekerja di bidang penjualan, marketing, sales, personalia, wiraswasta, politik, hukum, public relations, dan sejenisnya.

Tipe Investigatif. Ciri-ciri orang tipe Investigatif adalah orang yang menyukai tugas-tugas berkaitan penyelidikan, penelitian atau penemuan ide-ide. Ia suka jenis pekerjaan yang menggunakan kekuatan fungsi-fungsi rasio atau intelektual. Orangnya cenderung abstrak, analitis dan kritis. Ia suka berpikir hal-hal yang sifatnya konseptual. Ia memiliki rasa ingin tahu yang besar, rasional dan suka yang rumit-rumit. Dalam bekerja ia hati-hati, mandiri, kadang radikal dan berorientasi pada kerja. Ia cenderung kurang mampu mengungkapkan perasaan secara verbal. Orangnya introvert, tertutup, biasanya pendiam dan kurang luwes dalam bergaul. Tipe Investigatif cocok untuk pekerja di bidang penelitian di dunia sains, misalnya kimia, fisika, matematik, biologi, teknisi laboratorium, pembuat program komputer, dan sejenisnya.

Tipe Artistik. Ciri-ciri orang tipe Artistik adalah orang yang menyukai tugas-tugas berkaitan dengan seni, imajinasi, keindahan, dan kebebasan berkreasi. Ia biasanya orang yang emosional, perasa, sensitif, tertutup dan idealis. Ia suka bebas berkreasi dan mengekspresikan dirinya. Biasanya ia suka berpenampilan berbeda dari orang-orang biasanya. Orangnya kreatif dan spontan. Ia tidak suka dikekang dan mudah bosan bila melakukan hal-hal yang monoton. Ia tidak suka kegiatan-kegiatan yang bersifat administratif. Ia cenderung kurang terencana dan kurang teratur cara kerjanya. Tipe Artistik cocok untuk pekerja di bidang seni, artis, desain, musik, editing, penulisan, dan sejenisnya.

Berdasarkan ke-enam tipe kepribadian tersebut di atas, manakah tipe kepribadian Anda? Ambillah waktu merenungkan kembali. Bertanyalah pada teman/saudara/orangtua, manakah kecenderungan kepribadian Anda? Kalau sudah menemukan tipe kepribadian yang cocok, cobalah sesuaikan dengan pilihan bidang studi yang telah dibuat, apakah sesuai?

* Hamizar, M. Si., Psi
Kepala Pusat Konseling dan Pelatihan IPEKA

Read More ..

02/02/09

Coret Hitam Arsitektur Tionghoa di Jakarta


Budaya Tionghoa adalah budaya yang tak pernah putus selama 5000 tahun dibanding budaya unggul lainnya di dunia. Dari ranah kuliner sampai arsitektur properti, ditinggalkan nenek moyang bangsa tersebut sampai sekarang.

Namun di tengah akulturasi budaya itu, ada budaya Tionghoa yang dipinggirkan. Bila mie dan bakpao masih sering dinikmati, lain halnya dengan arsitektur properti. Meski sarat akan sejarah, kini peninggalan arsitektur Tionghoa banyak yang tak terurus, bahkan lenyap ditelan bumi.

Chandra Naya atau dulu disebut Gedung Sin Ming Hui, misalnya. Kini bangunan yang terletak di Jalan Gajah Mada No 188 tersebut sudah tidak seperti aslinya. Hanya tinggal bangunan utama. Itu pun sudah terhimpit gedung bertingkat, terjepit oleh jaman dan peradaban masyarakat modern.

Sama halnya dengan makam Souw Beng Kong, tempat peristirahat terakhir kapitan pertama Tionghoa tersebut pun benar-benar tersingkirkan. Sebelum dipugar, keberadaan makam yang berlokasi di Gang Taruna, Jalan Pangeran Jayakarta ini terhimpit rumah-rumah kumuh dan terlihat berantakan. Bahkan sudah berada sekitar 80cm di bawah permukaan tanah. Seakan makam tersebut tak ada artinya, padahal sejarah berkata lain.

Begitu juga dengan beberapa bangunan peninggalan berarsitektur Tionghoa lainnya yang berlokasi di Pasar Pagi, Mangga Dua, dan Senen. Di sana, banyak bangunan yang dirobohkan untuk pembangunan jalan tol, pertokoan, dan pusat perbelanjaan.

Kehancuran arsitektur Tionghoa, terutama di Jakarta, tidak terlepas dari masyarakatnya sendiri (termasuk mereka yang disebut dengan “Tionghoa peranakan”). Coba pikir, siapa para pemilik toko, pedagang, dan pemilik gedung yang ada di daerah Glodok, Mangga Dua, dan Pasar Pagi? Kebanyakan adalah mereka yang disebut dengan Tionghoa peranakan yang notabenenya adalah keturunan orang Tionghoa di masa lampau.
Karena kesempatan bisnis dan kepentingan finansial, mereka tidak peduli dengan faktor sejarah. Apalagi daerah tersebut memiliki potensi bisnis yang sangat besar di Jakarta. Sebut saja seperti Glodok yang memiliki perputaran uang milyaran rupiah per harinya.

Padahal orang-orang Tionghoa dikenal sangat menghormati leluhurnya. Mereka memiliki tradisi Ceng Beng yang tidak lain mengajarkan setiap individu untuk menghormati leluhur dan orang tua dengan mengunjungi kuburannya. Filosofinya, kita ada karena mereka, makanya kita tidak boleh melupakan jasa-jasa mereka.

Bangunan-bangunan tua khas Tionghoa yang terlihat usang, tapi memiliki nilai sejarah, banyak yang dirobohkan. Diganti dengan bangunan baru bergaya minimalis modern yang terlihat lebih sejalan dengan kepentingan bisnis. Mereka berlomba mengais rejeki di tempat yang seharusnya menjadi cagar budaya.

Arsitektur properti menurut Ark Djauhari Sumintardja, seorang pemerhati arsitektur Tionghoa, adalah wujud budaya yang mudah dikenal dan menjadi citra dan jati diri suatu lingkungan atau kota. Artinya, properti menjadi identitas masyarakat sekitar, bahkan sebuah kota seperti Jakarta.

Kalau sekarang banyak properti Tionghoa di daerah Mangga Dua, Glodok, dan Pasar Baru dirobohkan, berarti hilang pula identitas masyarakat sekitar. Padahal, dari dulu sampai sekarang, banyak masyarakat Tionghoa yang mendiami wilayah tersebut.

Oto Amnesia
Bukan hanya masyarakat, tapi kenyataan tesebut juga tidak terlepas dari pengaruh pemerintah yang berkuasa. Glodok, Pasar Pagi dan Mangga Dua, bukan daerah yang baru muncul kemarin sore. Ingat, pada masa orde baru, budaya Tionghoa tidak sebebas seperti sekarang ini. Baru pada pemerintahan Gus Dur, Barongsai dan perayaan Tahun Baru China tidak dikebiri.

Artinya, pada masa orde baru, budaya, termasuk peninggalan arsitektur Tionghoa, mungkin mengalami “pembersihan”. Tidak bisa dilindungi karena bertentangan dengan kebijakan penguasa. Siapa pun tidak bisa melindungi benda cagar budaya kalau pemerintah negaranya tidak sejalan.

Lain halnya dengan sekarang. Budaya Tionghoa mulai dilestarikan seperti budaya Indonesia lainnya. Sebut saja seperti Imlek atau Cap Go Meh, budaya ini malah banyak yang dikomersilkan. Berbagai sekolah, kelompok masyarakat, bahkan pusat perbelanjaan pun rutin memeringatinya tiap tahun. Begitu juga dengan bahasa Mandarin, banyak sekolah dan lembaga kursus yang menyediakan kelas khusus untuk memelajari bahasa tersebut.

Bila kebijakan sudah berubah, sekarang faktor finansial menjadi masalah. Meski banyak para pemerhati sejarah dan arsitektur menuangkan pikirannya mencari jalan bagaimana melestarikan arsitektur Tionghoa, tapi alokasi biaya pemeliharaan dari pemerintah terbilang masih minim. Sedangkan bangunan-bangunan tersebut tidak sedikit meminta dana pemeliharaan.

Dilematis memang, tapi itu adalah kenyataan. Kalau dulu pemerintahnya tidak mendukung eksistensi budaya Tionghoa, sekarang uang yang menjadi masalah. Pemda Jakarta sendiri masih belum sepenuh hati melindungi arsitektur Tionghoa kuno yang merupakan warisan dari Abad 17 dan 18 ini. “Belum ada perlindungan yang memadai,” kata Djauhari.

Dari sekian banyak peninggalan bersejarah arsitektur properti Tionghoa di Jakarta. Kalau masyarakat mau, masih ada beberapa yang bisa diselamatkan di daerah Glodok. Semuanya tergantung masyarakat, mau dibawa ke mana peninggalan budaya bersejarah tersebut? Melindunginya dan membiarkan menjadi ekspresi identitas masyarakat Tionghoa atau meluluhlantahkannya dan membiarkan kita menderita oto amnesia, lupa diri atas sejarah kita sendiri.

Read More ..

  © Blogger template 'Ultimatum' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP