Tinja dan Masalahnya

Semua orang tahu kalau tinja dapat membawa banyak masalah. Namun sayangnya, banyak orang yang tidak mau dan tidak mampu dalam mengurus tinja. Padahal kalau air tanah tercemar tinja, akan banyak penyakit yang diakibatkannya.

Masalah pembuangan dan pencemaran tinja bukan hanya masalah masyarakat miskin yang tinggal di perkampungan kumuh. Tapi, sering pula terjadi di perumahan-perumahan elit. Bahkan, petugas kebersihan pun sering berbuat keliru.

Ada beberapa masalah yang sering timbul berkaitan dengan tinja, misalnya :

1.Septic Tank Bocor
Akibatnya, sekitar 70% air tanah di daerah perkotaan sudah tercemar berat bakteri tinja. Padahal, separuh penduduk perkotaan masih menggunakan air tanah untuk memenuhi kebutuhan harian.

2.MCK yang Tidak Berfungsi
Selain usang dan terawat, banyak MCK tidak ada airnya. Lebih menyedihkan lagi, banyak pula yang tidak bisa digunakan setlah peresmian. Boleh jadi karena akibat salah konstruksi atau masyarakatnya yang memang belum siap.

3.Mencuci dan Mandi di Sungai Tercemar
Akibat keterbatasan akses pada MCK, banyak masyarakat kita yang mandi, cuci, dan kakus di sungai. Padahal, sungai-sungai tersebut sudah tercemar.

4.Jamban yang Asal-asalan
Ada sekitar 35% jamban di kawasan perkotaan yang tidak ada air bersih, atap, atau tidak tersambung dengan septic tank dan sejenisnya. Contohnya, jamban “helikopter” di pinggiran sungai atau jamban rumah yang mengalirkan tinja ke sungai yang berada di dekatnya.

5.Selokan Tersumbat
Walau harusnya hanya untuk mengalirkan air hujan, selokan nyatanya juga digunakan untuk menampung air kakus dan juga sampah. Akhirnya, selokan pun menjadi sumber berbagai penyakit.

6.Efluen Industri di Kawasan Pemukiman
Sebagian besar dialirkan ke sungai tanpa melalui proses pengolahan lebih dulu. Akibatnya, kualitas sungai semakin memburuk.

7.Buang Air Besar Sembarangan
Lebih dari 12% penduduk perkotaan Indonesia sama sekali tidak memiliki akses ke sarana jamban. Artinya, belasan juta penduduk perkotaan Indonesia masih membuang tinja langsung di kebun, selokan, atau sungai.

8.Pembuangan Liar Lumpur Tinja
Seusai menyedot habis isi septic tank, banyak truk tinja yang menggelontorkan muatannya langsung ke sungai. Akibatnya, sungai akan tercemar berat. Beragam alasan dilontarkan. Entah karena tidak ada atau tidak berfungsinya IPLT (Instalasi Pengolahan Limbah Tinja) di kota itu, atau karena petugasnya yang malas ke IPLT.

Read More ..

Apa Saja Kandungan Tinja?

Penanganan buangan tinja bukan masalah sepele. Setiap harinya, seseorang membuang tinja seberat 125 – 250 gram. Jika sekarang ada 100 juta orang tinggal di wilayah perkotaan, maka kawasan perkotaan tersebut menghasilkan sekitar 25 ribu ton tinja.

Di Jakarta sendiri, menurut data Bank Dunia, masyarakatnya membuang tinja sekitar 714 ton setiap harinya dan buangan urine sekitar 7000 m3. Buangan tinja tersebut, ada yang mengendap di dalam tanah dan ada pula yang dibuang di sungai-sungai.
Selain jumlahnya yang begitu banyak, tinja memiliki beberapa dampak dari 4 kandungan yang dimilikinya :

1.Mikroba
Sebagian di antaranya merupakan mikroba patogen seperti, bakteri Salmonela Typhi (penyebab demam tifus), bakteri Vibrio Cholerae (penyebab kolera, hepatitis A, dan polio). Tinja manusia mengandung puluhan miliar mikroba, termasuk bakteri koil-tinja.
Tingkat penyakit akibat kondisi sanitasi yang buruk di Indonesia sangat tinggi.

Tifus mencapai 800 kasus/100.000 penduduk, tertinggi di seluruh Asia. Diare mencapai 300 kasus/1000 penduduk. Polio masih dijumpai di Indonesia walau di negara lain sudah sangat jarang.

2.Materi Organik
Sebagian merupakan sisa dan ampas makanan yang tidak tercerna. Dapat berbentuk karbohidrat, protein, enzim, lemak, mikroba, dan sel-sel mati. Satu liter tinja mengandung materi organik yang setara dengan 200 – 300 mg BOD5.

Sekitar 75% sungai di Jawa, Sumatera, Bali, dan Sulawesi tercemar berat oleh materi organik dari buangan rumah penduduk. Air sungai Ciliwung memiliki BOD5 40mg/L, empat kali lipat dari batas maksimum sebesar 10 mg/L. Kandungan BOD yang tinggi mengakibatkan air mengeluarkan bau tak sedap dan berwarna hitam.

3.Telur Cacing
Orang yang cacingan, akan mengeluarkan tinja yang mengandung telur-telur cacing. Banyak cacing yang bisa ditemukan di perut kita. Sebut saja, cacing cambuk, cacing gelang, dan cacing tambang. Satu gram tinja berisi ribuan telur cacing yang siap berkembang biak di perut orang lain.

Anak cacingan adalah kejadian yang biasa di Indonesia. Penyakit ini kebanyakan diakibatkan cacing cambuk dan cacing gelang. Prevalensinya bisa mencapai 70% dari balita.

4.Nutrien
Umumnya merupakan senyawa nitrogen dan fosfor yang dibawa sisa-sisa protein dan sel-sel mati. Nitrogen keluar dalam bentuk senyawa amonium, sedang fosfor dalam bentuk fosfat. Satu liter tinja manusia mengandung amonium sekitar 25 mg dan fosfat sebesar 30 mg.

Senyawa nutrien memacu pertumbuhan ganggang. Akibatnya, warna air jadi hijau dan ganggang menghabiskan oksigen dalam air sehingga ikan dan hewan air lainnya mati. Fenomena yang disebut Eutrofikasi ini mudah dijumpai di waduk, danau, atau balong-balong.

Read More ..

Anggaran Sanitasi Terlalu Minim

Di Indonesia, setiap 1000 bayi yang lahir, hampir 50 di antaranya meninggal sebelum berumur 5 tahun. Menurut Departemen Kesehatan, diare merupakan salah satu penyebabnya.

Diare disebabkan karena mikroba yang dibawa oleh tinja. Makanya, diare banyak ditemukan pada masyarakat yang tidak memiliki sanitasi yang baik. Mereka yang tidak mencuci tangan dengan sabun sebelum makan. Atau mereka yang membuang air besar sembarangan.

Dalam 30 tahun terakhir, pemerintah sendiri hanya menganggarkan sekitar US$ 820 juta untuk sektor sanitasi. Artinya, hanya Rp 200 setahunnya untuk setiap penduduk Indonesia. Jumlah yang sangat sedikit mengingat kebutuhan dana sebenarnya Rp 47 ribu/orang/tahunnya.

Anggaran pemerintah untuk sektor sanitasi memang sangat minim. Apalagi bila kita bandingkan dengan anggaran sektor air bersih yang besarnya lebih dari US$ 6 miliar untuk periode yang sama. Padahal, untuk urusan kesehatan masyarakat, kedua sektor tersebut memiliki saling ketergantungan yang erat.

Fasilitas Mandi, Cuci, Kakus (MCK), truk tinja, sewerage system, dan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) adalah contoh-contoh produk investasi pemerintah di sektor sanitasi. Bila dibandingkan kebutuhan sebenarnya, jumlah sarana yang telah dibangun masih terlalu sedikit. Parahnya lagi, banyak sarana tersebut yang sudah tak berfungsi saat ini.


Read More ..

Tinja, Sampah, dan Banjir

Bukan hanya masalah drainase, ternyata Jakarta juga tidak memunyai layanan dan sanitasi kota yang baik. Akibatnya, Jakarta lebih cepat banjir dan berdampak lebih buruk. Hal tersebut diungkapkan Kasubdit Saluran Air dan Saluran Limbah Bappenas, Nugroho Tri Utomo, dalam sebuah talkshow media bertema “Bedah Banjir” beberapa waktu lalu.

Sanitasi buruk yang dimaksud Nugroho adalah tentang banyaknya MCK yang tidak berfungsi, efluen industri di kawasan perumahan, masyarakat yang BAB (buang air besar) sembarangan, pembuatan jamban yang asal-asalan, pembuangan liar lumpur tinja, dan masih banyaknya masyarakat yang mandi & cuci di sungai tercemar.

Sanitasi sendiri mencakup beberapa hal yang saling berhubungan. Di antaranya adalah pengelolaan limbah domestik, sampah domestik, dan drainase lokal (got dan saluran air).

Hal yang paling diperhatikan dalam pembangunan sanitasi yang baik adalah masalah pengelolaan limbah domestik (tinja) dan sampah. Kedua hal tersebutlah yang menjadi penyumbang banjir di Jakarta dan beberapa tempat di Indonesia.

Kenapa begitu? Limbah domestik atau tinja banyak dibuang masyarakat sembarangan. Kebanyakan dibuang langsung ke sungai atau selokan-selokan. Bersamaan dengan sampah, limbah domestik tersebut menjadi penyebab tidak lancarnya aliran air di selokan atau sungai.

Jika terjadi banjir, air-air sungai yang tercemar limbah domestik tersebut pun menjadi sarang penyakit yang biasa timbul di saat banjir.

Kemudian, karena adanya kandungan senyawa nutrien, limbah domestik ini pun akan memacu pertumbuhan ganggang. Akibatnya, fenomena yang disebut Eutrofikasi ini, membuat sungai atau waduk banyak ditumbuhi ganggang yang membuat aliran air tidak lancar.

Prinsip penanganan limbah dometik sendiri, menurut Nugroho, adalah ditampung (cubluk atau septic tank), dijauhkan dari aktivitas manusia, jauhkan dari pemukiman manusia (transportasi), dan diolah (IPAL).

Dari prinsip tersebut, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, terutama mengenai septic tank dan kebiasaan masyarakat membuang tinja langsung ke sungai.

Di Indonesia, septic tank digunakan sekitar 65% rumah yang ada di kawasan perkotaan. Tanah Jakarta dan sekitarnya saja, menyimpan lebih dari 1 juta septic tank. Hal yang mengkhawatirkan adalah belum adanya pengaturan septic tank di Indonesia.

Memang ada Standar Nasional Indonesia yang mengatur konstruksi septic tank. Tapi, belum ada aturan tentang jumlah septic tank per satuan luas kawasan, belum ada aturan yang mewajibkan pemilik rumah secara rutin melakukan penyedotan, dan belum ada pihak-pihak yang merasa berkepentingan memeriksa kondisi septic tank di wilayahnya.

Sering kali, masalah septic tank ini menjadi urusan pribadi pemilik rumah. Setiap orang dirumahnya mengurus sendiri-sendiri tempat pembuangan tinjanya. Padahal, bila ada septic tank yang bocor, resapannya bisa mencemari air tanah dan mengancam kesehatan masyarakat sekitar.

Sekarang ini, sekitar 60% rumah-rumah memiliki sumur dan septic tank yang jaraknya tidak sampai 10 meter. Celakanya, banyak pula sumur di suatu rumah yang letaknya ternyata dekat dengan septic tank rumah tetangganya. Penghuni rumah tersebut selama ini tidak sadar kalau air yang digunakan untuk sikat gigi ternyata tercemar air tinja dari septic tank tetangganya.

“Kalau dalam jangka waktu 3 tahun septic tank tidak penuh, jangan bangga dulu. Karena itu berarti septic tank Anda telah mencemari lingkungan,” jelas Nugroho.

Septic tank di kawasan padat penduduk tentunya berjumlah sangat banyak. Setiap rumah diwajibkan untuk membuat septic tank sendiri, tidak peduli luas lahannya 50 m2 atau 5000m2. Tanpa disadari, kewajiban tersebut ternyata membuat populasi septic tank semakin tinggi.

Akibatnya, kualitas air tanah menurun karena banyaknya septic tank yang tidak memenuhi standar teknis yang ditetapkan. Ada yang mirip cubluk karena dasarnya tidak diperkeras, ada yang dindingnya hanya terbuat dari pasangan batu bata biasa, ada yang ukurannya terlalu kecil, dan sebagainya.

Pada kondisi seperti ini, ada baiknya kita memertimbangkan penggunaan sewerage system untuk menggantikan jutaan septic tank yang ada sekarang. “Hanya kita yang masih menggunakan septic tank. Di kota-kota negara Asia lainnya sudah menggunakan sewerage system,” ujar Nugroho.

Sewerage System berfungsi untuk mengumpulkan air tinja dari rumah-rumah dan mengolahnya sampai mencapai baku mutu efluen yang ditetapkan. Dengan sistim ini, tidak diperlukan lagi septic tank sehingga pencemaran air tanah akan berkurang.
Agak ironis memang, mengingat sewerage system sebenarnya sudah mulai dibangun saat pemerintahan kolonial Belanda sejak tahun 1910 di Bandung, Cirebon, Solo, dan Yogyakarta. Pembangunannya terhenti justru ketika kita merdeka.

Pada akhir 80-an, kita baru memulainya lagi dan mengembangkannya di beberapa kota besar. Sekarang baru ada 10 kota (Balikpapan, Banjarmasin, Bandung, Cirebon, Jakarta, Medan, Prapat, Surakarta, Tangerang, dan Yogyakarta) yang mengembangkan sewerage system di daerahnya. Itu pun hanya mampu melayani 10% populasi kota.

Read More ..

Perumahan Bebas Banjir, Bohong?


Mungkin Anda sering melihat promosi developer properti yang mengiklankan bahwa perumahannya bebas banjir. Hal tersebut ditempuh karena daerah yang dijadikan lokasi perumahan memang sering terjadi banjir. Karenanya mereka memberi jaminan “Bebas Banjir”.

Lalu, untuk lebih mendukung pernyataannya, para developer pun meninggikan lokasi perumahannya beberapa centimeter di atas permukaan tanah. Memang, perumahan tersebut tidak terkena banjir, tapi daerah di luarnya, akan terkena limpahan air. Jika saja daerah tersebut memang rawan banjir, akan bertambah parah banjir yang akan dialami.

Kelakuan meninggikan permukaan tanah tersebut, bisa dibilang bukan tindakan memecahkan masalah banjir. Hal tersebut malah membuat bencana baru buat masyarakat sekelilingnya karena akan menerima limpahan air yang lebih banyak.

Kemampuan developer untuk menahan banjir dengan pembangunan drainasenya, tidak bisa bertahan selamanya. Saluran drainase memiliki umur sejalan dengan investasi yang ditanam. Misalnya, bila saluran drainase dibangun dengan investasi 10 juta, akan hanya bisa tahan sampai 10 tahun. Lebih dari itu, kemungkinan air tergenang atau banjir akan selalu ada.

Tidak ada daerah yang bebas banjir seperti banyak diiklankan developer perumahan. Lihat saja kawasan Istana Merdeka, Jalan Thamrin, atau Monas, sekitar 20 tahun lalu, daerah tersebut dibilang bebas banjir. Tapi, lihat sekarang, tiap hujan besar, jalan-jalan negara tersebut banyak yang tergenang air hujan. Semua daerah pasti ada kemungkinan terkena banjir. Belanda saja, masih memiliki kemungkinan banjir, meski hanya 1/10.000.

Read More ..

Masyarakat Bantaran Kali, Bukan Hanya Itu

Banyak masyarakat yang mendirikan bangunan di bantaran kali. Selain membuat tempat tinggal, ada pula yang memanfaatkannya sebagai tempat parkir mobil atau tempat usaha seperti warung makan, misalnya.

Menjelang musim penghujan, pemerintah menghalau mereka untuk pindah. Beberapa bangunan dibongkar dengan alasan, merekalah yang menyebabkan banjir sering mampir di Jakarta.

Kemudian, bila melihat daerah Muara Baru yang sering kali digenangi air pasang laut atau rob, kenapa sih, mereka tidak mau pindah saja dari lokasi tersebut? Toh, mereka sering tergenang banjir yang datang tak tentu.

Kenapa banyak masyarakat yang masih mau tinggal di tempat yang dikatakan rawan banjir? Tinggal di daerah yang permukaan tanahnya lebih rendah dari daerah lainnya sehingga menjadi bulan-bulanan banjir.

Masyarakat yang tinggal di bantaran kali sering dituding sebagai penyebab banjir. Masyarakat yang tinggal di daerah yang permukaan tanahnya rendah, sering disuruh untuk pindah. Apakah pernyataan tersebut benar?

Kalau benar, berarti orang-orang Belanda tidak boleh tinggal di negaranya yang berada beberapa meter di bawah permukaan laut. Begitu juga dengan orang Bangladesh yang seluruh permukaan tanahnya adalah delta.

Orang Belanda dan Bangladesh tinggal di bantaran laut dan daerah delta, karena memang di sana ada keuntungan yang bisa diambil. Mereka membuat drainase yang memang mampu untuk menanggulangi masalah air.

Contohnya seperti Belanda, dengan kemampuan investasi dan teknologinya, mereka bisa membendung laut dengan kemungkinan tergenang 1/10.000. Tapi, bukan berarti Belanda tidak akan tergenang air. Selalu ada kemungkinan daerah mereka tergenang air, meski hanya 1 dibanding 10.000.

Dalam mengatasi banjir, orang-orang yang tinggal di bantaran kali, tidak sepenuhnya bisa disalahkan. Mereka tinggal di sana karena memang tidak mampu membeli lahan untuk membangun rumah di Jakarta. Tanah kosong di Jakarta juga semakin lama semakin sedikit. Akhirnya, mereka memanfaatkan bantaran kali sebagai tempat tinggal atau usaha.

Ada baiknya kalau pemerintah membenahi saluran drainase yang ada. Bukan hanya merawat agar kapasitasnya tidak menurun karena sampah atau endapan lumpur, tapi juga disesuaikan dengan kondisi sekarang ini.

Misalnya saja, Jakarta memiliki Banjir Kanal Barat (BKB) sebagai tulang punggung badan air di Jakarta. Padahal BKB itu dirancang untuk mengatasi air pada tahun 1920-an. Kapasitas dan kemampuannya menampung air disesuikan dengan kondisi pada saat itu juga. Sehingga kalau belum di-upgrade kemampuannya, bukan mustahil BKB meluap karena kapasitas menampung airnya tidak sesuai dengan kondisi sekarang.

Akibatnya, banjir terjadi di mana-mana karena badan air (BKB atau sungai-sungai besar) kelebihan kapasitas. Hal tersebut juga diperparah dengan pola membuang air secepatnya ke badan air. Padahal, badan airnya sendiri sudah kelebihan beban.

Read More ..

Jakarta Tidak Akan Bebas Banjir

Pernyataan itu dikeluarkan Ahli banjir Belanda (Konsultan Banjir IHE-Indonesia), Jan T L Yap, dalam sebuah diskusi “Bedah Banjir” yang digelar Kamis (19/2) bertempat di Hotel Ambara, Jakarta Selatan.

Biar bagaimana pun, menurutnya, pasti ada kemungkinan banjir dalam satu wilayah. Belanda saja yang dikenal memiliki teknologi penanganan banjir yang baik, wilayahnya masih memunyai kemungkinan banjir. Misalnya, wilayah pesisir pantai Belanda, di situ kemungkinan banjirnya 1/10.000. “Jadi, selalu ada kemungkinannya,” katanya.

Banjir dalam satu wilayah, tidak bisa diprediksi secara pasti. Banyak faktor yang memengaruhinya, termasuk sistem drainase (saluran air, waduk, cekungan, resapan air tanah, dan lainnya) yang digunakan di wilayah tersebut. Semakin bagus sistem drainase yang dibuat, semakin jauh kemungkinan terkena banjir.

Namun, pembangunan drainase sendiri berkaitan dengan investasi yang ditanam. Dengan kata lain, dalam pembangunan drainase, sering pula diperhitungkan nilai ekonomis dari satu wilayah. Misalnya, bila wilayah Kemang itu merupakan area pertanian, akan beda pembuatan drainasenya jika Kemang adalah daerah industri atau pabrik. Karena bila Kemang daerah pertanian, kerugian (sosial, ekonomi, lingkungan) yang ditimbulkan bila terjadi banjir, tidak akan begitu besar dibanding Kemang adalah daerah industri.

“Sama halnya dengan di Belanda. Daerah pesisir pantai kemungkinan banjirnya 1/10.000 karena di situ ada pabrik-pabrik dan industri. Sedangkan daerah yang jauh dari pantai, sistem drainasenya dibangun dengan kemungkinan banjir hanya 1/1000,” ujar Jan yang juga berkecimpung di Jaringan Kerja Sama Ilmu Pengetahuan Indonesia (CKNet-INA).

Menurut Jan, banjir juga disebabkan karena konstruksi drainase yang kebanyakan sudah usang karena dibuat sejak jaman Belanda dulu. Misalnya, Banjir Kanal Barat (1919 – 1920), pembangunannya hanya menyesuaikan kondisi wilayah pada saat itu. Nah, ketika masih diterapkan sampai sekarang, mustahil bisa mengatasi banjir.

Pun ada juga peran developer perumahan yang menambah parah kondisi banjir Jakarta. Seperti daerah Pantai Indah Kapuk, seharusnya di wilayah tersebut bukan untuk wilayah perumahan. Penyalahgunaan lahan seperti inilah yang menyebabkan banjir.

Untuk mengantisipasi banjir di Jakarta, dalam waktu dekat ini, akan diterapkan Integrated Flood Management (IFM). Dengan pendekatan tersebut, kemungkinan banjir di Jakarta akan bisa diperkecil.

Read More ..

Melihat Keberadaan dan Peranan LBB

Banyak anak murid dan orang tua kuatir menjelang ujian nasional atau seleksi masuk perguruan tinggi. Sekolah terlanjur dicap masyarakat tidak bisa menjamin semua murid-muridnya lulus ujian. Meski bukan hal yang pasti, tapi banyak anak murid yang mencari solusi dengan mendaftar dan percaya pada Lembaga Bimbingan Belajar (LBB).

Tingginya minat murid-murid sekolah, terutama yang duduk di kelas 3 SMP dan SMA, dalam mengikuti bimbingan belajar, membuat tumbuh subur LBB di berbagai wilayah, tak kecuali di komunitas Kebon Jeruk dan Kembangan. Mulai LBB waralaba dengan jaringan dan kurikulum yang terpadu, sampai dengan LBB rumahan yang lebih bersifat privat.

Maraknya usaha pendidikan tersebut, tidak terlepas dari kesempatan yang muncul akibat pemerintah menaikan standar nilai kelulusan murid sekolah. Apalagi banyak murid yang dinyatakan tidak lulus karena belum memenuhi nilai yang ditetapkan pemerintah.

Kontan saja, LBB maju ke depan menawarkan “jalan pintas” dengan menawarkan latihan soal-soal ujian yang lebih praktis. LBB menggunakan soal-soal ujian tahun lalu untuk melatih muridnya. Bahkan, mereka pun mengeluarkan prediksi soal ujian yang akan keluar pada tahun berjalan.

Awalnya, LBB berdiri karena supremasi perguruan tinggi negeri yang dikatakan memiliki kualitas lebih baik dan biayanya yang lebih murah. Oleh karena itu, masyarakat berlomba-lomba mendaftarkan diri dan berujung pada seleksi masuk yang ketat.

Karena seleksi yang ketat inilah banyak pendiri LBB yang berinisiatif untuk mendirikan tempat pendidikan, khusus membahas soal-soal ujian. Sekaligus sebagai peluang bisnis pendidikan yang cukup menjanjikan. Bayangkan, orang tua siapa yang tidak ingin anaknya masuk perguruan tinggi negeri? Atau lulus dalam ujian nasional dan mendapat sekolah favorit?

Dalam perkembangannya, banyak LBB yang tidak hanya membuka bimbingan belajar buat murid sekolah kelas 3 SMP atau SMA. LBB terus berkembang dan melebarkan sayap dengan membuka bimbingan belajar buat berbagai tingkatan kelas, bahkan untuk murid-murid TK. Isinya tetap membantu murid dalam mengerti pelajaran dan mendapat nilai baik di sekolah.

Materi yang diberikan tidak berbeda dengan di sekolah. Dengan bantuan para pengajar LBB, murid sekolah dari berbagai jenjang pendidik tersebut dibantu menguasai dan menaikan nilai pelajaran di sekolah.

Begitu juga dengan kurikulum yang digunakan, tidak berbeda jauh dengan yang dipakai sekolah. Bahkan LBB pun sudah menyiapkan beberapa kurikulum yang populer dipakai sekolah negeri maupun swasta dan sekolah bertaraf nasional plus. Dengan begitu, anak murid pun akan mendapat pelajaran yang tidak berbeda dengan pelajaran di sekolahnya.
Lebih jauh lagi, LBB pun menyediakan guru piket yang bersedia kapan saja sebagai tempat berkonsultasi. “Mereka bukan hanya belajar apa yang diajarkan di kelas saja, tapi juga bisa berkonsultasi seperti menanyakan pekerjaan rumah dari sekolah atau tentang apa saja yang menyangkut pelajaran. Kami tidak memungut biaya lagi, staf pengajar selalu siap membantu,” kata Marketing Teknos Duri Raya, Ryan Timiko.

Di balik itu semua, dengan anak murid mengikuti LBB, berarti anak tidak memunyai banyak waktu luang untuk bersosialisasi dengan teman-temannya, menyegarkan pikiran, atau menuangkan hobi yang dimiliki.

Bukan bermaksud menyudutkan LBB, tapi kalau melihat jam belajar anak di sekolah ditambah lagi belajar di LBB, maka praktis anak tidak memunyai waktu banyak. Mereka pun akan terlalu letih buat aktifitas lain. Apalagi kebanyakan materi LBB hanya mengasah logika dan kemampuan otak kiri. Dan berkutat pada pelajaran seperti Fisika, Kimia, Biologi, dll.

Artinya, tidak ada waktu buat anak melatih otak kanannya yang berfungsi untuk mengasah imajinasi dan kreativitas. Kehidupan mereka pun menjadi monoton, pagi berangkat sekolah, siang dilanjutkan dengan bimbingan belajar. Kemudian mereka akan mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan sekolah pada malam harinya.

Apa Perlu Belajar di Bimbel?
Pertanyaan di atas terus menyeruak ketika melihat anak-anak sekolah pergi di pagi hari dan pulang menjelang sore. Dengan begitu banyaknya waktu yang tersita setiap hari, apakah mereka juga harus belajar lagi di LBB? Apa sekolah tidak cukup memberikan mereka waktu untuk menguasai pelajaran?

Bukan karena sekolah tidak cukup memberikan materi pelajaran (tergantung dari sekolahnya), tapi banyak juga murid sekolah yang akan lebih yakin menghadapi UN atau ujian seleksi perguruan tinggi kalau sudah belajar di LBB. Apalagi di sana mereka akan diberikan soal-soal yang biasanya keluar dalam ujian yang akan ditempuh.

Di samping itu, mereka juga bisa menambah wawasan dan teman, bukan hanya di sekolah saja. Di situ, mereka bisa saling bertukar pikiran dan membahas berbagai tip dan trik cara cepat mengerjakan soal-soal ujian.

Pro dan kontra tentang pentingnya LBB masih menjadi pertanyaan. Terlebih lagi biaya pendidikan di LBB yang tidak terbilang murah. Buat mereka yang duduk di kelas 3 SMP atau SMA, misalnya. Biaya yang harus dikeluarkan oleh orang tua murid bisa berkisar antara 5 – 15 juta. Bagi yang orang tuanya punya duit banyak, hal itu mungkin tidak masalah, tapi bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki uang lebih?

Sebenarnya, di beberapa sekolah pun sudah menyediakan program pendalaman materi buat mereka yang akan mengikuti ujian. Dengan begitu, anak-anak sekolah tidak begitu perlu mengikuti LBB karena selain akan menyita tenaga dan waktu, mereka pun sebenarnya sudah mendapat pelajaran tambahan di sekolah.

Murid sekolah yang memilih tidak ikut LBB, pun bisa belajar bersama dan membahas pelajaran dengan teman-teman. Untuk mengukur kemampuan, mereka bisa mengikuti beberapa try out yang banyak diselenggarakan. Atau membeli buku-buku soal ujian dan membahasnya bersama teman sekolah atau teman yang ikut LBB.

Tapi, itu semua tergantung dari individu masing-masing. Terkadang, ada individu yang belum punya rasa tanggung jawab dan keyakinan. Tidak terpicu belajar, bila harus belajar sendiri. Makanya, mereka memilih ikut LBB, dibanding harus belajar sendiri atau dengan teman-teman yang kebanyakan akan diisi dengan ngobrol atau hal lain yang bukan bersifat pembelajaran.

Sekolah Versus LBB
Sekolah dan LBB selayaknya memang saling mendukung dalam mengembangkan kemampuan murid dalam menguasai pelajaran sekolah. Sebenarnya, antara sekolah dan LBB memiliki orientasi yang berbeda.

Sekolah lebih bertujuan pada pengembangan siswa secara menyeluruh, termasuk mengembangkan kreativitas dan sikap siswa. Lain halnya dengan LBB yang lebih pada tujuan singkat seperti kemampuan siswa dalam mengerjakan soal-soal dengan cepat dan benar. Tujuan utamanya adalah mengantar siswa lulus ujian atau mendapat perguruan tingggi negeri.

Karena alasan tersebut, malah seharusnya sekolah dan LBB bisa saling membantu. Ibaratnya, sekolah memberikan pondasi, sedangkan LBB lebih pada memberikan atap rumah dan finishing agar rumah terlihat bagus dan indah. Bukan hal yang baik bila masyarakat atau siswa sekolah hanya mengartikan pendidikan dengan lulus atau tidaknya dalam sebuah ujian.

Sekarang ini, layanan dan fasilitas LBB pun kerap menjadi perbandingan oleh masyarakat. Di samping perlengkapan belajar mengajar yang terbilang lengkap dan nyaman. LBB pun ada yang melengkapi dengan fasilitas konsuling dan sesi membangun motivasi siswa dalam belajar. Layanan tersebut disediakan gratis dan kapan saja.
Seperti yang dilakukan Quantum Brain dengan memberikan pelayanan belajar di luar kelas yang betul-betul nyata (individu atau kelompok). Pelajaran tambahan tersebut diberikan gratis bagi siswa-siswi.

”Di samping itu, siswa Quantum Brain pun akan mendapat training secara berkala tentang ”motivation to win” dan ”skill of learning” melalui Motivation Training Plus (MTP) oleh pembicara dan motivator handal Mr. Sintong dan Mr. Pia,” kata Pimpinan Cabang Quantum Meruya, Oskar Purba.

Tidak sampai di situ, bahkan ada LBB yang memberikan fasilitas untuk melihat bakat dan potensi anak. Melalui fasilitas tersebut, akan bisa terlihat kemampuan otak kiri dan kanan anak sehingga akan lebih mudah mengembangkan potensi dan bakat anak yang tepat ke depannya.

Menjelang UN, banyak pula LBB yang menyelenggarakan pembelajaran intensif. Murid akan diberi materi-materi latihan soal agar mereka benar-benar siap menghadapi ujian.

Seperti yang dikatakan Pimpinan Cabang Primagama Green Garden, Ika Kumala Furi, SE, dalam menghadapi UN 2009 nanti, akan dibuka program “Super Intensive UN 2009”. Di program tersebut, siswa akan dibekali simulasi, trik-trik jitu serta pembahasan soal-soal prediksi UN 2009 yang akurat. “Program telah dibuka mulai sekarang dengan biaya sebesar Rp 900 ribu,” katanya.

Kemudian, entah karena sebab persaingan bisnis atau untuk memberikan kepercayaan pada masyarakat, ada pula LBB yang memberikan garansi lulus ujian atau perguruan tinggi negeri.

Pada dasarnya, program jaminan ini sama dengan program bimbel lainnya, tapi jumlah muridnya saja yang dibatasi. Biasanya, tidak lebih dari 10 anak dalam satu kelas. Biayanya pun tentu lebih mahal, di atas Rp 10 jutaan.

Bahkan, ada pula LBB yang membuka Kelas Super atau kelas buat murid yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Mereka akan dikumpulkan dalam satu kelas dengan materi pembelajaran yang sama, tapi dibahas lebih mendalam dan cenderung mendorong potensi anak. Tidak hanya teori, tapi juga meliputi aplikasi, pendalaman, dan pengembangan materi.

Bisnis Pendidikan
Apa pun masalah dan alasannya, pendidikan sepatutnya tidak dijadikan ajang bisnis semata. Bila hal itu terjadi, bukan tidak mungkin pendidikan hanya akan dimiliki oleh mereka yang memunyai uang banyak. Sedang buat mereka yang hidup seadanya, akan mendapat pendidikan yang apa adanya pula.

Kita sendiri mahfum bahwa biaya operasional pendidikan dengan berbagai keperluan tidak bisa dibilang murah. Tapi selayaknya dihindari menjadikan pendidikan sebagai ”mesin pencari untung” belaka. Karena ketidakadilan dalam pendidikan membuat kualitas dan potensi masyarakat secara keseluruhan menjadi tidak merata.

Bagi murid-murid yang menimba ilmu di LBB pun memiliki sisi positif. Mereka menjadi kaya ilmu dan pengetahuan karena belajar bukan hanya di sekolah saja. Sekaligus mereka bisa mencari teman dan tempat untuk berdiskusi.

Selayaknya, sekolah dan LBB tidaklah bersaing. Keduanya bisa dibilang saling mengisi kekurangan yang lowong di sistim pendidikan kita. Biar murid sekolah yang nantinya akan menjadi masyarakat Indonesia secara keseluruhan menjadi lebih baik dan mampu berkompetisi dalam dunia nyata.

Read More ..

About This Blog

  © Blogger template 'Ultimatum' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP