Sawasdee di Surganya Kuliner Thailand

Thailand bukan hanya terkenal dengan Bangkok-nya yang kosmopolitan. Bukan pula karena Phuket dan Krabi yang memiliki pantai-pantai terbaik di dunia. Tapi, negeri Gajah Putih ini pun sangat populer dengan kekayaan kulinernya yang kental rasa rempah-rempah.

Kuliner Thailand tidak terlepas dari masyarakatnya yang terbilang “doyan makan”. Makanya, tidak heran bila di negeri seluas 510.000 kilometer ini banyak berdiri rumah makan. Dari kelas “jalanan” sampai restoran sekelas Royal Dragon yang menurut Guiness Book of Records merupakan restoran terbesar di dunia.

Hidangan khas Thailand seperti, Kai Ho Bai Toei (ayam bungkus daun), Thotman Plakrai atau Thotman Kung (ikan atau udang goreng ala Thai), berbagai jenis Yum (selada Thai), dan aneka jenis Tom yam (sup asam manis) merupakan beberapa menu yang patut dirasakan.

Di Jakarta sendiri, tidak banyak dijumpai restoran yang menyediakan menu khas Thailand. Padahal, cita rasanya sangat spicy dan dekat dengan “lidah” orang Indonesia. Beruntung buat mereka yang tinggal di Tanjung Duren dan sekitarnya. Karena di Jalan Tanjung Duren Utara IV No. 227B, terdapat sebuah restoran otentik Thailand dengan nama Royal Thai.

Eksotika kuliner Thailand memberikan inspirasi usaha bagi pemilik Royal Thai. Dia yang gemar berwisata kuliner ini membuka Royal Thai sekitar sebulan lalu. Menurutnya, restoran ini merupakan resto otentik yang rasa hidangannya tidak berbeda dengan yang ada di Thailand. “Rempah dan bumbunya kami impor langsung dari Thailand dan diolah secara khusus,” katanya.

Pemilik resto ini sering berkelana mencari tempat-tempat makan yang enak. Dia suka sekali mencoba hidangan-hidangan “baru”, makanya Royal Thai pun dicitrakan sebagai tempat makan bagi para pengelana kuliner. “Food adventure start here”.

Meski Royal Thai dibuat identik dengan Istana Grand/Royal Palace, tapi restoran berkapasitas 40 orang ini bukanlah kategori tempat makan yang “mahal”. Pemiliknya sengaja membuat Royal Thai lebih familiar dengan semua kalangan. “Ngga mahal, ngga murah. Relatif terjangkaulah,” ungkapnya.

Sawasdee
Sawasdee Ka adalah ucapan selamat datang berbahasa Thailand yang kerap dikatakan ketika Anda menginjakkan kaki di Royal Thai. Begitu juga ketika Anda pulang, ucapan Kop Kun Ka yang artinya terima kasih, akan terdengar di telinga Anda. Bahasa tersebut sengaja digunakan untuk menambah karakteristik restoran ini sebagai resto otentik Thailand.

Meski begitu, Royal Thai tidak seratus persen seperti resto di Thailand yang pada umumnya bernuansa remang-remang dan gelap. Di sini kita akan menemukan suasana seperti resto kebanyakan di Jakarta. Bergaya minimalis dengan warna yang membuat kita nyaman dalam bersantap. “Konsepnya minimalis, tapi ringan. Tadinya mau dibuat dengan konsep tradisional, cuma takut terlihat mahal,” cerita pemiliknya.

Pilihan tempat duduk pun ada ragamnya. Bila kita senang duduk di sofa yang empuk, bisa memilih tempat yang bersandar dengan dinding. Buat Anda yang terbilang masih asing dengan menu khas Thailand, foto-foto di dinding bisa menjadi petunjuk. Semua foto yang dipajang merupakan menu-menu yang diunggulkan Royal Thai.

Ada cukup banyak menu otentik Thailand yang ditawarkan resto dengan simbol mahkota dan lotus ini. Di antara yang disodorkan Pemilik Royal Thai adalah Sop Tom Yam yang dibedakan dengan Sop Tom Yam Kung (isinya hanya udang galah) dan Sop Tom Yam Seafood (baso, ikan, cumi, kerang, udang, jamur).

Sop ini berbeda dengan yang biasa disajikan resto chinesse food kebanyakan. Bumbu dan rempah yang digunakan asli dari Thailand dengan kombinasi resep khas Royal Thai ditambah kaldu udang asli yang membuatnya lebih gurih. Rasanya sedikit asam dan pedas. Wangi rempahnya sangat khas sehingga menimbulkan kesan segar. Bumbu yang digunakan pun terbilang bercita rasa “berani”.

Dalam penyajiannya, sop yang ditempatkan dalam satu mangkok, dipadukan dengan daun seledri, bawang putih tumbuk, daun sereh, dan daun ketumbar. Hal yang istimewa adalah meski isinya berbagai seafood, tapi dijamin tidak ada bau atau rasa amis ketika disantap. “Biasanya sop ini dijadikan menu pembuka bagi masyarakat Thailand. Rasanya yang segar, menjadi pembangkit selera buat setiap orang,” ujar pemiliknya.

Sapi Panggang Thailand
Setelah mencicipi menu pembuka yang rasanya membangkitkan selera, sekarang kita coba menu utama yang disediakan Royal Thai. Pemilik Royal Thai lebih merekomendasikan Sapi Panggang Thailand, Gurame Salad Mangga, Kepiting Kare, dan Kare Ijo untuk dicoba AdInfo.

Tidak lama menunggu, menu yang pertama keluar adalah Sapi Panggang Thailand. Daging sapi yang digunakan dalam menu ini adalah bagian khas dalam tanpa lemak atau biasa disebut tenderloin. Penyajiannya, daging panggang yang sudah dipotong-potong, disandingkan dengan daun selada dan daun ketumbar.

Menurut Pemilik Royal Thai, cara pembuatannya tidaklah susah. Sebelum dipanggang, daging terlebih dahulu direndam dalam bumbu tertentu selama kurang lebih 3 jam. Setelah matang, lalu disajikan dalam piring yang kemudian disiram sambal. Sambal yang disiram segaris di atas daging, terbuat dari cabe ijo dan merah, jeruk nipis, serta bawang putih.

Mengenai rasanya, ada campuran manis, asam, dan pedas, dagingnya pun cukup empuk di dalam dan terasa kering di luarnya. Setiap gigitan daging panggang ini, sangat terasa gurihnya. Tidak rugi bila kita harus merogoh kocek Rp 36 ribu untuk satu porsinya.

Kare Hijau
Kare Hijau merupakan menu berikut yang disodorkan pada AdInfo. Karena berkuah, Kare Ijo disajikan dalam sebuah mangkuk dan terlihat sangat menggiurkan. Saking nikmatnya, kata pemilik Royal Thai, ada salah satu pembeli yang tergila-gila dengan kuahnya. “Dia makan dan menyeruput kuahnya sampai tetes terakhir,” katanya.

Kare Hijau tidak lain adalah daging sapi atau daging ayam (tergantung pilihan) yang dimasak berkuah santan dengan campuran cabe hijau yang sudah dihaluskan. Selain daging, dalam satu porsinya, dicampur potongan terong, lenca, dan daun kemangi.

Rasa yang paling menonjol dari menu ini adalah gurihnya yang terpadu dari daging dan kuah bersantan. Racikan bumbu rempah-rempahnya terasa sekali dan kental. Sehingga sayang bila tidak disantap habis sampai tetes terakhir. Menu seharga Rp 32 ribu ini sangat pas bila dimakan dengan nasi. Sama halnya dengan Sapi Panggang Thailand di atas.

Selain menu-menu yang telah dijabarkan, masih ada lagi menu favorit yang tidak boleh ketinggal untuk dicoba. Seperti telah disebutkan, ada Gurame Salad Mangga yang berupa gurame goreng krispi dengan mangga muda, atau Kepiting Kare yang dimasak dengan kare, santan, saos Thailand, dan telur. Menu kepiting ini disajikan berkuah dengan taburan daun bawang.

Sebagai penutup, bisa dicoba Singkong Thai yang direbus dan dihidangkan dengan santal kental. Rasanya manis dan gurih. Bisa pula Es Campur yang terbuat dari cendol khas Royal Thai, kelapa muda, dan “home made” merah delima. Atau langsung menenggak Thai Ice Tea yang berwarna oranye dengan campuran gula dan susu. Teh yang digunakan asli di datangkan dari negeri asalnya.

Buat Anda yang ingin mencoba menu Royal Thai, berlaku diskon 20% untuk setiap pemesanan sampai akhir Mei 2009. Kemudian, setiap jumlah pembelian Rp 50 ribu, Anda bisa membeli Sop Tom Yum atau Pad Thai Noodle hanya seharga Rp 5000.

Di samping menu-menu di atas, resto yang dilengkapi free Wi-Fi ini juga menyediakan lunch set berupa, Nasi Cumi Goreng Tepung, Nasi Ayam Panggang Thai, Nasi Ayam Kemangi dan berbagai hidangan Kwee Tiau lengkap dengan minuman hanya seharga Rp 20 ribu. Anda ingin menikmati hidangan Thai, silahkan mencoba dan “Be a real food adventure” bersama Royal Thai.

Read More ..

Fesbukisme dan Produktifitas

Jangan ditanya bagaimana Facebook (FB) menjadi situs jejaring sosial yang begitu fenomenal. Penggunanya bukan hanya dari kalangan ABG, tapi juga artis sampai kalangan pejabat. Namun, di balik kepopulerannya tersebut, FB menyimpan sisi negatif yang membuat manusia menjadi tidak produktif.

Sebut saja Anto yang bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Karena tuntutan pekerjaan, dia pun terbiasa mengoperasikan komputer dan tahu cara menggunakan internet. Kebetulan di tempatnya bekerja, akses internetnya tidak terbatas alias unlimited sehingga dia bebas menggunakan internet setiap hari.

Mengetahui kalau sekarang ini FB sedang mewabah dan banyak teman-temannya yang sering membicarakannya, maka Anto pun ikut-ikut membuat akun buat dirinya sendiri. Singkat kata, dia pun bisa berkelana di dunia yang dibuat Mark Zuckerberg tersebut. Berbagai teman dari penjuru dunia bisa dikenal Anto melaui FB. Begitu juga dengan teman-teman lamanya di sekolah dan universitas.

Setiap harinya, dia semakin tenggelam dalam dunia FB yang sekarang ini sudah memiliki 200 juta anggota sejak awal April lalu. Entah hanya sekedar meng-up date status atau membalas berbagai komentar yang ada di halaman FB-nya. Tanpa disadari, hal tersebut ternyata telah menyita banyak waktu kerja sehingga membuat Anto tidak produktif dan menurun kualitas kerjanya.

Bukan hanya di kantor, diluar pun, Anto tidak segan-segan “bermain” FB melalui BlackBerry-nya. Bila di rumah, kafe, atau mal, Fesbuk selalu berada digenggamannya. Akhirnya, dia pun lupa dengan orang-orang di sekitar.

Anto tidak pernah lagi sekedar mengobrol dengan orang yang duduk semeja ketika sedang menikmati ice capucinno di kafe. Di rumah pun dia tidak lagi punya waktu untuk bersosialisasi dengan tetangga. Setiap hari, hanya ada FB di matanya.

Fenomena dan trend sikap yang ditimbulkan FB memang sedang banyak disorot orang. Tidak sedikit dari mereka bertanya mengenai sisi negatif yang ditimbulkan. Sampai-sampai ada yang menyebut facebooker (sebutan buat orang yang sering berlama-lama dengan Facebook) sebagai orang “autis”. Orang yang sibuk dengan urusan dan kesenangannya sendiri tanpa peduli orang di sekitarnya.

Memang, bila tidak disikapi dengan bijaksana, FB bisa berubah menjadi perangkap yang membuat kita ketagihan. Layaknya minuman beralkohol, judi, atau mariyuana. Kita seakan tidak bisa lepas dan terjerat di dalamnya.

Popularitas FB pun terhitung cukup cepat dan menyebar bagaikan virus flu. Lihat saja berapa jumlah anggota FB sekarang. Hanya dalam waktu kurang lebih 4 tahun, anggotanya sudah mencapai lebih dari seluruh jumlah penduduk Indonesia.

Dari Skala Kampus
Pertama kali, FB yang diluncurkan 4 Februari 2004 ini, hanya digunakan oleh mahasiswa Harvard College. Namun, dalam tempo beberapa bulan, keanggotanya melebar ke berbagai universitas di Boston. Setahun kemudian, berbagai email universitas yang memiliki alamat (seperti .edu, .ac,.uk, dll) dari berbagai penjuru dunia, pun dapat bergabung di situs jejaring sosial ini.

Baru pada 11 September 2006, setiap orang yang memiliki alamat email, dapat menjadi anggota FB dalam jaringan menurut sekolah, tempat kerja, dan wilayah geografis. Perkembangan pesat FB yang ditaksir memiliki nilai ekonomi sebesar $15 miliar ini terlihat ketika peringkatnya melonjak dari posisi ke-60 menjadi ke-7 sebagai situs yang paling banyak dikunjungi periode September 2006 – September 2007. Sekarang, FB sudah mampu mengejar situs jejaring sosial pertama di dunia, MySpace.

Kepopuleran FB di dunia tidak lepas dari fasilitas dan kenyamanan FB yang pernah menampik tawaran Yahoo seharga $US 1 miliar. Kuncinya adalah interaksi antar anggota. Seperti halnya situs-situs di era Web 2.0, FB juga menawarkan interaksi aktif buat para anggotanya. Sehingga anggotanya bisa menjalin komunikasi layaknya di dunia nyata.

Facebook bukanlah situs yang hanya menyajikan interaksi biasa. Para anggotanya bisa mengisi dengan bebas halamannya. Tapi, hal yang menarik dari FB adalah kemampuannya dalam memberikan fasilitas add friend (tambah teman) yang tidak sembarangan. Berbeda dengan situs jaring sosial lainnya, FB bisa menyortir tambah teman berdasarkan yang diinginkan oleh anggotanya. Berdasarkan teman sekolah, kampus, atau letak geografis.

Positif dan Negatif
Bila kita mengatakan FB sangat memengaruhi produktifitas dan kinerja, bahkan bisa menyebabkan seseorang seperti manusia autis, tidak sepenuhnya benar. Karena, seperti diketahui bersama, Barack Obama bisa menjadi presiden Amerika karena salah satunya berkat jasa FB juga.

Pria yang pernah tinggal di Indonesia tersebut menggunakan FB sebagai salah satu media kampanyenya. Begitu juga dengan beberapa calon legislatif di Indonesia dalam masa kampanye yang lalu. Tidak sedikit dari mereka mencoba berkampanye dan sosialisasi diri melalui FB. Belum lagi beberapa pengusaha atau entrepreneur yang berhasil melebarkan jaringan bisnis atau mendapat klien dari FB.

Artinya, FB yang merupakan bagian dari perkembangan teknologi situs internet, memang bagai “pedang bermata dua”. Satu sisi bisa bermanfaat, di lain sisi bisa pula melukai kita. Selain efek negatif yang telah disebutkan, di luar negeri pun sudah ada penelitian yang menyebutkan kalau anak sekolah atau mahasiswa terlalu sering “bermain” dengan FB, bisa menyebabkan nilai di sekolah atau kampus menurun.

Di sinilah perlu adanya kebijaksana dari pengguna FB dewasa (orang dewasa) dan juga pengawasan dari orang tua dan lingkungan bagi pengguna yang masih dikategorikan anak-anak atau remaja sekalipun. Jangan sampai perkembangan teknologi seperti ini dijadikan “kambing hitam” karena penggunanya yang tidak bisa mengontrol diri. Tidak bisa memilah hal-hal yang positif dan menomerduakan prioritas pekerjaan atau kehidupan.

Sejatinya, FB yang memiliki motto “Give people the power to share and make the world more open and connected ” ini bukan untuk membuat dunia menjadi lebih sempit, tapi seharusnya membuat penghuni dunia lebih mudah berhubungan, bergaul, berkenalan di manapun berada.

Read More ..

Portal dan “Polisi Tidur” Siap Mangkat

Dengan alasan menggangu kenyamanan pengguna jalan dan menghindari kesan eklusifitas, dalam waktu dekat, portal dan “polisi tidur” di kawasan pemukiman dan perumahan akan ditertibkan Pemda Jakarta. Paling cepat, dilakukan setelah Pilpres nanti.

Sekarang ini, keberadaan portal dan “polisi tidur” kadung menjadi jawaban dari menjaga keamanan dan keselamatan. Mengapa portal banyak didirikan? Karena banyak masyarakat yang merasa tidak aman. “Polisi tidur” dibuat agar kendaraan motor tidak ngebut ketika melewati kawasan pemukiman atau perumahan.

Tapi, dilain sisi, portal dan “polisi tidur” pun menggangu kepentingan umum. Membuat pengguna jalan yang berkendaraan menjadi tidak nyaman dan menghambat mobilitas masyarakat. Apalagi bila portal atau “polisi tidur” dibangun pada jalan umum.

Ketentuan pembuatan portal dan “polisi tidur” sendiri sebenarnya sudah diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) No 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum. Aturannya terdapat dalam Bab II pasal 3 tentang tertib jalan, angkutan jalan, dan angkutan sungai. Isi aturan tersebut yakni kecuali dengan izin gubernur atau pejabat yang ditunjuk.
Bila melanggar, bisa diancam pidana minimal 20 hari penjara, paling lama 90 hari penjara atau denda minimal Rp 500 ribu dan maksimal Rp 30 juta.

Namun, aturan tersebut hanya tinggal aturan. Seusai peristiwa kerusuhan yang terjadi Mei 1998 lalu, beberapa perumahan, kawasan pemukiman, bahkan komplek ruko dan mal pun membatasi diri dengan memasang portal dan pagar besi yang cukup tinggi. Hal tersebut dilakukan dengan alasan untuk menghindari penjarahan dan phobia kerusuhan yang disertai perusakan.

Karena memang dibiarkan, masyarakat yang notabene belum mengerti aturan dan syarat pembuatan portal atau “polisi tidur” pun seenaknya membuat palang jalan dan gundukan tersebut. Akhirnya, portal dan “polisi tidur” menjadi hal yang wajib, terutama di setiap perempatan komplek perumahan.

Dalam hal ini, masyarakat tidak bisa disalahkan sepenuhnya karena mereka butuh rasa aman. Berkaca pada peristiwa kerusahan lalu, masyarakat merasa tidak ada yang bisa menjamin keselamatan dan keamanan mereka. Makanya, mereka melakukan tindakan preventif yang sekiranya bisa mencegah peristiwa itu terulang lagi.

Sekarang, bila memang alasan tersebut dibilang sudah “basi” dan situasi dikatakan sudah kondusif, apa pemerintah dan aparat keamanan bisa memberi rasa aman pada masyarakat?

Rasa aman, hal inilah yang menjadi esensi dari mengapa masyarakat banyak membuat portal dan “polisi tidur” di kawasan tempa tinggalnya. Kalau memang ada jaminan dan kiat meyakinkan masyarakat dalam hal rasa aman, masyarakat pun akan rela membongkar semua itu. Buat apa mereka mengeluarkan uang untuk membikin portal, duplikat kunci, atau membayar satuan pengaman di setiap perempatan, kalau memang mereka sudah merasa aman.

Okelah, ada yang bilang, kalau begitu, kegiatan Siskamling harus digiatkan untuk memenuhi kebutuhan rasa aman. Tapi, Siskamling biasanya dilakukan pada malam hari, bagaimana mencegah maling atau perampok siang hari yang kerap menjadi modus pencurian di perumahan-perumahan?

Dengan adanya portal atau “polisi tidur”, setidaknya bisa meminimalisir lalu lalang orang yang bukan penghuni. Sekaligus mencegah pencuri atau perampok dalam mengintai, mengenal lokasi, dan mengetahui kondisi incarannya.

Bila pemerintah dan aparat keamanan tidak bisa memberi rasa aman pada masyarakat, penertiban keberaaan portal dan “polisi tidur” ini bisa banyak mendapat kecaman. Bahkan, bisa saja ada yang menolak. Belum lagi, dengan dibukanya portal, berarti akan membuat lalu lintas, khususnya di kawasan perumahan, akan semakin tinggi. Sehingga bisa membuat jalan menjadi cepat rusak. Kalau sudah begitu, siapa yang akan membetulkan jalan?

Bukannya antipati terhadap kebijakan yang ditelurkan Wagub Jakarta, Prijanto ini, tapi setidaknya Pemda Jakarta bisa membuka mata. Memang benar kita harus mendahulukan kepentingan umum, tapi rasa aman penghuni kawasan pemukiman dan perumahan adalah kebutuhan mendasar yang juga perlu diperhitungkan.

Read More ..

Inilah Kunci Sukses Pemilik Usaha

Seiring semakin banyaknya pemain bisnis dan tingginya tingkat kompetisi, seorang pengusaha tidak cukup hanya mengandalkan modal. Bila ingin mendapat lebih banyak keuntungan, mereka harus memiliki motivasi yang kuat dan strategi bisnis yang tepat.

Presentase kegagalan bisnis rata-rata sangat tinggi. Berkisar 80% lebih dalam 5 tahun pertama. Penyebabnya, bisa bermacam-macam dan sering kali para pengusaha harus menelan pil pahit kegagalan karena mereka “tidak belajar”.

Tidak belajar? Ya, kebanyakan para pengusaha atau perusahaan tidak belajar bagaimana membuat rencana kerja, tidak belajar bagaimana membuat strategi bisnis untuk memenangkan kompetisi, dan tidak belajar bagaimana caranya agar perusahaan bisa mengarah pada tujuan yang tepat.

Kalau para pengusaha sendiri seperti itu, bagaimana dengan karyawan-karyawannya? Mereka yang notabenenya berada dalam satu tim, harus pula memiliki rencana kerja, strategi bisnis, dan tujuan kerja yang tepat.

Menurut Master Licence & Coach Brian Tracy’s FocalPoint Coaching, Ellies Sutrisna, setiap orang atau setiap pengusaha itu memiliki jumlah waktu yang sama dalam keseharian. Tapi, kenapa ada orang yang lebih sukses dibanding lainnya? Itu karena mereka (orang sukses) benar-benar menggunakan waktunya dalam mengejar kesuksesan.
“Mereka yang sukses sudah punya arahan dan tujuan yang jelas. Mereka sudah belajar dan menerima bimbingan bisnis yang tepat,” lanjut wanita lulusan University of Wollongong New South Wales, Australia ini.

Bimbingan bisnis (business coaching) dari orang atau institusi yang tepat memang sangat diperlukan pribadi, pengusaha, atau karyawan dewasa ini. Bila tidak, mereka akan tergilas roda kompetisi yang semakin hari semakin ketat.

Tujuan utama dari bimbingan bisnis tidak lain adalah peningkatan profit. Dengan bimbingan bisnis, para pengusaha atau perusahaan bisa menetapkan target yang akan dicapai dan memiliki “pegangan” untuk mencapainya.

Dalam program bimbingan bisnis seperti yang dilakukan Ellies Sutrisna dengan FocalPoint-nya, setiap orang akan dibimbing secara privat, istilahnya “one on one business coaching”. Hal tersebut dilakukan karena memang setiap orang atau perusahaan memiliki masalah dan solusi yang berbeda-beda.

“Bimbingan bisnis untuk pengusaha rumah makan tentunya berbeda dengan pengusaha jasa antar barang,” ujar Ellies yang pernah menulis buku “5 Jurus Jitu Melejitkan Karir” dan “Tetap Nyaman Bekerja dengan Bos Temperamental”.

FocalPoint
Dalam mencari pembimbing usaha, tentunya para pebisnis harus memertimbangkan berbagai hal. Terutama mengenai materi yang diberikan dan kredibilitas coach-nya. FocalPoint sendiri merupakan perusahaan pelatihan dan pengembangan bisnis berskala internasional. Program-programnya sudah diriset lebih dari 25 tahun dan disusun oleh seorang bernama Brian Tracy di Amerika Serikat.

Brian Tracy sudah membuat sekitar 50 judul buku dan 300 materi audio video yang berkaitan dengan motivasi dan pengembangan bisnis. Konsultan bisnis dan pengembangan terbaik di dunia ini telah berpengalaman dalam membimbing perusahaan berskala internasional seperti, IBM, McDonald Douglas, Johson & Johnson, The Million Dollar Round Table, dan ratusan perusahaan dalam Fortune 500 Companies. Setelah eksis di beberapa negara, FocalPoint melebarkan sayapnya di Indonesia sejak awal tahun 2009.
FocalPoint akan membimbing para pemilik bisnis untuk mengerti dan mengimplementasikan konsep bisnis yang sudah terbukti. Sekaligus mengajarkan strategi dan taktik yang dijamin akan menghasilkan “return on investment” yang sangat cepat.

Siapa saja bisa mengikuti program-program yang diselenggarakan FocalPoint. Baik pemilik usaha, maupun karyawan dalam satu perusahaan. “Sebenarnya, bimbingan bisnis ini bukan untuk semua orang, tapi hanya untuk mereka yang mau sukses,” ujar Ellies yang memulai karirnya di tahun 1989.

Program yang diberikan FocalPoint terdiri dari beberapa area kunci yang berhubungan langsung dengan kesuksesan. Seperti, kepemimpinan, manajemen, delegasi, produktifitas, pertumbuhan, pengambilan keputusan, ekseskusi, dan lain sebagainya.

One on one business coaching
Kalau ada yang bilang bisnis itu bisa dipelajari secara otodidak, hal tersebut bukanlah mustahil. Apalagi sekarang ini sudah banyak diterbitkan buku-buku dan CD pengembangan bisnis atau bisa pula mencarinya di internet. Bahan-bahan tersebut dapat langsung diterapkan dalam bisnis, tidak perlu bersusah payah mengikuti bimbingan, training atau workshop bisnis.

Memang betul hal tersebut bisa dipelajari dari berbagai media yang menjabarkan pengembangan bisnis. Tapi, menurut Ellies, dalam penerapannya, diperlukan disiplin, semangat, dan konsistensi yang tinggi. Bila hal itu tidak ada, mustahil kesuksesan bisa didapat.

Sebaliknya, bila kita mengikuti program seperti yang diberikan FocalPoint, kami bisa mengontrol hasil yang didapat. Sekaligus memberikan arahan-arahan yang sekiranya bisa dimaksimalkan dalam meraih kesuksesan. “Setiap pertemuan, kita pasti akan memberikan penilaian, kontrol, dan pengarahan yang jitu dalam mencapai tujuan yang sudah ditetapkan,” ucap Ellies.

Begitu juga bila pemilik bisnis memiliki masalah dengan usahanya. Misal saja, ketika diarahkan menggiatkan promosi, ternyata mereka tidak punya dana promosi. Apa yang harus mereka lakukan? Di sinilah peran FocalPoint untuk memberikan solusi dari masalah tersebut.

“Kami memiliki 21 cara mendapatkan uang untuk masalah tersebut. Kami juga akan memberi pengertian akan manfaat promosi itu sendiri. Hitungannya, bila kita mengeluarkan bujet promosi senilai Rp 2 juta, karena terus dipromosikan, profit akan meningkat jadi dua kali lipat. Apa mereka ngga mau?” jelas Ellies.

Di samping hal-hal tersebut, FocalPoint juga akan memberi motivasi buat setiap kliennya. Sekaligus memberikan keseimbangan antara kehidupan bisnis dan pribadi. “Sering kali, kondisi orang tidak stabil karena suatu peristiwa atau kondisi tertentu. Nah, di sinilah peran kita untuk memberikan motivasi agar ‘obor semangat’ mereka terus menyala,” jelas Ellies.

Dalam program bimbingan bisnis one on one business coaching yang diberikan FocalPoint, setiap orang akan dikontrak selama 1 tahun dengan jumlah pertemuan 1X dalam seminggu. Tapi, seperti yang telah disebutkan, tidak semua orang bisa mengikuti program ini, kecuali mereka yang memang ingin sukses.

“Akan ada evaluasi sebelum kontrak dan syarat seperti, harus memiliki keinginan untuk sukses dan komitmen untuk melaksanakan. Terutama masalah waktu dan penerapan rencana yang telah dibuat,” kata Ellies.

100% Uang Kembali
Mungkin ada pemilik bisnis yang meragukan program bimbingan yang ditawarkan FocalPoint. Buat apa mereka membayar sejumlah uang kalau tidak ada hasilnya nanti? Apakah FocalPoint mau peduli dan bertanggung jawab kalau pemilik bisnis tetap tidak bertambah profitnya setelah mengikuti program bimbingan?

“Saya percaya dengan metode dan sistim yang diberikan Bryan Tracy akan bermanfaat buat pemilik usaha. Bila pemilik bisnis tidak merasakan manfaatnya, investasi yang diberikan pada kami, akan dikembalikan 100%,” tegas Ellies.

Lalu, bagaimana cara mengukur keberhasilan pemilik usaha? Biasanya, ukuran keberhasilan dinilai dari rencana target profit yang akan didapat setelah mengikuti bimbingan bisnis. Bisa juga tujuan-tujuan lain di luar nilai finansial.

Tapi, pemilik bisnis tidak bisa sembarangan dalam menentukan target profit tersebut. Harus dilihat kondisi perusahaan dan analisa beberapa hal seperti, laporan keuangan, histori perusahaan, dan sebagainya. Dari situ, baru bisa ditentukan target yang sekiranya pantas. “Kebanyakan, hanya menginginkan profitnya meningkat 100%,” kata Ellies.

Bukan hanya sampai di situ, FocalPoint juga akan memantau perkembangan bisnis setiap kliennya. Termasuk, membantu klien ketika sedang menghadapi transaksi dagang atau perjanjian-perjanjian yang bersangkutan dengan bisnisnya. “Bila klien butuh bantuan, kami bersedia membantu melalui telepon,” ungkap Ellies.

Dalam bimbingan bisnis, selain program-program yang tepat, pemilik bisnis pun harus memiliki komitmen yang kuat. Selai ada motif, mereka juga harus konsisten dalam melakukan aksinya. Dalam arti, pemilik usaha harus benar-benar melakukan apa yang diberikan dalam program bimbingan bisnis. Tanpa komitmen yang kuat, bimbingan bisnis ini tidak akan ada artinya.

Read More ..

Kopi-Cakwe dari Tak Kie, Kit Cong Kie, sampai Kaus Kaki

"Ngopi, yuk!" Ajakan seperti ini berseliweran setiap hari. Biasanya, ajakan ini bermakna kongko-kongko. Tempatnya? Lagi-lagi seperti biasa, kawanan penyeruput kopi ini memilih tempat berpendingin udara. Kedai kopi franchise jentrek-jentrek tak terhitung di kawasan Jakarta dan sekitarnya. Mereka menyebar baik di mal, plasa, ataupun di kawasan perkantoran.

Waralaba warung kopi makin sesak di Jakarta karena pasar yang menggiurkan. Tengok saja ke beberapa kedai asal Pakde Sam itu, meski harga segelas kopi dengan berbagai cita rasa itu minimal hampir sama dengan sekitar 4-5 gelas kopi/kopi susu panas, es kopi/kopi susu di kedai-kedai tradisional, pembeli seperti tak peduli. Barangkali gengsi juga terbeli di sana. Padahal, Indonesia penghasil kopi arabika dan robusta terbesar keempat di dunia.

Untunglah penggemar kopi Indonesia yang masih percaya, kongko-kongko sambil minum kopi di warung kopi tradisional jauh lebih nikmat, tak perlu gusar. Pasalnya, warung kopi turun temurun di kawasan Pancoran, Jakarta Barat, masih bertahan di antara gempuran mal, plasa, beserta kedai kopi ala bule tadi.

Sayangnya, warung-warung kopi di sini tak lagi buka di atas pukul 17.00. Alasan klasik, setelah kerusuhan 1998, kawasan ini makin sepi khususnya di malam hari. Padahal, potensi kawasan ini sebagai kawasan wisata kuliner sungguh luar biasa.

Kembali ke soal ngopi, di Gang Gloria, Pancoran, siapa tak kenal Warung Kopi Tak Kie. Warung ini ada di antara tumpukan pedagang lain di sisi kiri dan kanan gang tersebut. Dengan hanya Rp 7.000, segelas es kopi bisa Anda nikmati. Es kopi ini bisa jadi teman ngobrol yang tak kalah segarnya dengan ”kopi bule”. Kedai kopi ini beserta es kopi-nya sudah turun temurun menyemarakkan kawasan tersebut. Kopi Lampung jadi bahan utama segelas kopi tradisional itu.

Mencari kopi tak hanya di Tak Kie. Melangkahlah lebih ke dalam. Jika Anda melihat tanda Cakwe Hokian, nah, di situ pula warung kopi tradisional lainnya berada. Tak seperti Tak Kie, di warung ini tak terlihat nama. Anton Sinarto, si pemilik warung, menyebut warungnya Sederhana meski orang di kawasan itu mengenal warung itu sebagai Kit Cong Kie.

Sebagai warung kopi tradisional, Anton pun sudah siap melayani pembeli atau siapa pun yang ingin sekadar kongko-kongko sambil makan pagi di kawasan ini sejak pukul 05.00 pagi. Anda bisa pilih es kopi, kopi panas, atau kopi susu. Rasanya pas. Di sini pula Anton memberi tahu Warta Kota untuk menikmati kopi susu dengan sentuhan cakwe. Hah?! Ya, cakwe.

”Dicelup aja, terus dimakan. Coba deh. Enak,” begitu Anton membujuk. Dan, memang, sensasi baru minum kopi dan makan cakwe pun terjadi di dalam mulut. Cakwe milik Ibu Lily ini pun sudah beredar di kawasan ini lebih dari 27 tahun lalu.

Menurut Anton, minum kopi atau kopi susu sambil makan cakwe sudah jadi kebiasaan di kawasan itu. ”Seperti teman minum kopi, gitu. Murah meriah, pula,” tambah Anton yang didampingi sang istri, Cendrawati Goutama.

Bapak dua putra ini melanjutkan usaha kedai kopi ini sejak 1980-an. ”Tapi warung ini sudah ada sejak Belanda masih ada,” lanjutnya, sekitar 1928 pun warung ini diperkirakan sudah ada dan masih menggunakan kopi Lampung hingga kini.

Kedai kopi tak berhenti sampai di sini sebab masuk lebih ke dalam lagi, ke arah dekat Toko Kawi, Anda bisa temui kopi kaus kaki. Tenang dulu, ini bukan sembarang kaus kaki. Kopi di sini disaring dengan penyaring yang mirip kaos kaki. Jadi, begitu disajikan, kopi ini sudah tanpa ampas. ”Kelebihan lain, kopi di sini disajikan di cangkir keramik yang bikin panasnya awet,” ujar Akiong, si pemilik kedai. Cangkir tadi harus dibeli di Singapura. Tapi tak usah khawatir, harga kopi di sini masih sangat rasional. Meski cangkir dari Singapura, tapi harga tetap warung kopi Indonesia.

Perihal cakwe sebagai teman kopi, Akiong membenarkan hal itu sebagai kebiasaan warga keturunan Tionghoa di kawasan itu. ”Dari dulu orang di sini emang kalau minum kopi pakai cakwe.” (Kompas.com)

Read More ..

About This Blog

  © Blogger template 'Ultimatum' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP