Perumahan Bebas Banjir, Bohong?


Mungkin Anda sering melihat promosi developer properti yang mengiklankan bahwa perumahannya bebas banjir. Hal tersebut ditempuh karena daerah yang dijadikan lokasi perumahan memang sering terjadi banjir. Karenanya mereka memberi jaminan “Bebas Banjir”.

Lalu, untuk lebih mendukung pernyataannya, para developer pun meninggikan lokasi perumahannya beberapa centimeter di atas permukaan tanah. Memang, perumahan tersebut tidak terkena banjir, tapi daerah di luarnya, akan terkena limpahan air. Jika saja daerah tersebut memang rawan banjir, akan bertambah parah banjir yang akan dialami.

Kelakuan meninggikan permukaan tanah tersebut, bisa dibilang bukan tindakan memecahkan masalah banjir. Hal tersebut malah membuat bencana baru buat masyarakat sekelilingnya karena akan menerima limpahan air yang lebih banyak.

Kemampuan developer untuk menahan banjir dengan pembangunan drainasenya, tidak bisa bertahan selamanya. Saluran drainase memiliki umur sejalan dengan investasi yang ditanam. Misalnya, bila saluran drainase dibangun dengan investasi 10 juta, akan hanya bisa tahan sampai 10 tahun. Lebih dari itu, kemungkinan air tergenang atau banjir akan selalu ada.

Tidak ada daerah yang bebas banjir seperti banyak diiklankan developer perumahan. Lihat saja kawasan Istana Merdeka, Jalan Thamrin, atau Monas, sekitar 20 tahun lalu, daerah tersebut dibilang bebas banjir. Tapi, lihat sekarang, tiap hujan besar, jalan-jalan negara tersebut banyak yang tergenang air hujan. Semua daerah pasti ada kemungkinan terkena banjir. Belanda saja, masih memiliki kemungkinan banjir, meski hanya 1/10.000.

Read More ..

Masyarakat Bantaran Kali, Bukan Hanya Itu

Banyak masyarakat yang mendirikan bangunan di bantaran kali. Selain membuat tempat tinggal, ada pula yang memanfaatkannya sebagai tempat parkir mobil atau tempat usaha seperti warung makan, misalnya.

Menjelang musim penghujan, pemerintah menghalau mereka untuk pindah. Beberapa bangunan dibongkar dengan alasan, merekalah yang menyebabkan banjir sering mampir di Jakarta.

Kemudian, bila melihat daerah Muara Baru yang sering kali digenangi air pasang laut atau rob, kenapa sih, mereka tidak mau pindah saja dari lokasi tersebut? Toh, mereka sering tergenang banjir yang datang tak tentu.

Kenapa banyak masyarakat yang masih mau tinggal di tempat yang dikatakan rawan banjir? Tinggal di daerah yang permukaan tanahnya lebih rendah dari daerah lainnya sehingga menjadi bulan-bulanan banjir.

Masyarakat yang tinggal di bantaran kali sering dituding sebagai penyebab banjir. Masyarakat yang tinggal di daerah yang permukaan tanahnya rendah, sering disuruh untuk pindah. Apakah pernyataan tersebut benar?

Kalau benar, berarti orang-orang Belanda tidak boleh tinggal di negaranya yang berada beberapa meter di bawah permukaan laut. Begitu juga dengan orang Bangladesh yang seluruh permukaan tanahnya adalah delta.

Orang Belanda dan Bangladesh tinggal di bantaran laut dan daerah delta, karena memang di sana ada keuntungan yang bisa diambil. Mereka membuat drainase yang memang mampu untuk menanggulangi masalah air.

Contohnya seperti Belanda, dengan kemampuan investasi dan teknologinya, mereka bisa membendung laut dengan kemungkinan tergenang 1/10.000. Tapi, bukan berarti Belanda tidak akan tergenang air. Selalu ada kemungkinan daerah mereka tergenang air, meski hanya 1 dibanding 10.000.

Dalam mengatasi banjir, orang-orang yang tinggal di bantaran kali, tidak sepenuhnya bisa disalahkan. Mereka tinggal di sana karena memang tidak mampu membeli lahan untuk membangun rumah di Jakarta. Tanah kosong di Jakarta juga semakin lama semakin sedikit. Akhirnya, mereka memanfaatkan bantaran kali sebagai tempat tinggal atau usaha.

Ada baiknya kalau pemerintah membenahi saluran drainase yang ada. Bukan hanya merawat agar kapasitasnya tidak menurun karena sampah atau endapan lumpur, tapi juga disesuaikan dengan kondisi sekarang ini.

Misalnya saja, Jakarta memiliki Banjir Kanal Barat (BKB) sebagai tulang punggung badan air di Jakarta. Padahal BKB itu dirancang untuk mengatasi air pada tahun 1920-an. Kapasitas dan kemampuannya menampung air disesuikan dengan kondisi pada saat itu juga. Sehingga kalau belum di-upgrade kemampuannya, bukan mustahil BKB meluap karena kapasitas menampung airnya tidak sesuai dengan kondisi sekarang.

Akibatnya, banjir terjadi di mana-mana karena badan air (BKB atau sungai-sungai besar) kelebihan kapasitas. Hal tersebut juga diperparah dengan pola membuang air secepatnya ke badan air. Padahal, badan airnya sendiri sudah kelebihan beban.

Read More ..

Jakarta Tidak Akan Bebas Banjir

Pernyataan itu dikeluarkan Ahli banjir Belanda (Konsultan Banjir IHE-Indonesia), Jan T L Yap, dalam sebuah diskusi “Bedah Banjir” yang digelar Kamis (19/2) bertempat di Hotel Ambara, Jakarta Selatan.

Biar bagaimana pun, menurutnya, pasti ada kemungkinan banjir dalam satu wilayah. Belanda saja yang dikenal memiliki teknologi penanganan banjir yang baik, wilayahnya masih memunyai kemungkinan banjir. Misalnya, wilayah pesisir pantai Belanda, di situ kemungkinan banjirnya 1/10.000. “Jadi, selalu ada kemungkinannya,” katanya.

Banjir dalam satu wilayah, tidak bisa diprediksi secara pasti. Banyak faktor yang memengaruhinya, termasuk sistem drainase (saluran air, waduk, cekungan, resapan air tanah, dan lainnya) yang digunakan di wilayah tersebut. Semakin bagus sistem drainase yang dibuat, semakin jauh kemungkinan terkena banjir.

Namun, pembangunan drainase sendiri berkaitan dengan investasi yang ditanam. Dengan kata lain, dalam pembangunan drainase, sering pula diperhitungkan nilai ekonomis dari satu wilayah. Misalnya, bila wilayah Kemang itu merupakan area pertanian, akan beda pembuatan drainasenya jika Kemang adalah daerah industri atau pabrik. Karena bila Kemang daerah pertanian, kerugian (sosial, ekonomi, lingkungan) yang ditimbulkan bila terjadi banjir, tidak akan begitu besar dibanding Kemang adalah daerah industri.

“Sama halnya dengan di Belanda. Daerah pesisir pantai kemungkinan banjirnya 1/10.000 karena di situ ada pabrik-pabrik dan industri. Sedangkan daerah yang jauh dari pantai, sistem drainasenya dibangun dengan kemungkinan banjir hanya 1/1000,” ujar Jan yang juga berkecimpung di Jaringan Kerja Sama Ilmu Pengetahuan Indonesia (CKNet-INA).

Menurut Jan, banjir juga disebabkan karena konstruksi drainase yang kebanyakan sudah usang karena dibuat sejak jaman Belanda dulu. Misalnya, Banjir Kanal Barat (1919 – 1920), pembangunannya hanya menyesuaikan kondisi wilayah pada saat itu. Nah, ketika masih diterapkan sampai sekarang, mustahil bisa mengatasi banjir.

Pun ada juga peran developer perumahan yang menambah parah kondisi banjir Jakarta. Seperti daerah Pantai Indah Kapuk, seharusnya di wilayah tersebut bukan untuk wilayah perumahan. Penyalahgunaan lahan seperti inilah yang menyebabkan banjir.

Untuk mengantisipasi banjir di Jakarta, dalam waktu dekat ini, akan diterapkan Integrated Flood Management (IFM). Dengan pendekatan tersebut, kemungkinan banjir di Jakarta akan bisa diperkecil.

Read More ..

Melihat Keberadaan dan Peranan LBB

Banyak anak murid dan orang tua kuatir menjelang ujian nasional atau seleksi masuk perguruan tinggi. Sekolah terlanjur dicap masyarakat tidak bisa menjamin semua murid-muridnya lulus ujian. Meski bukan hal yang pasti, tapi banyak anak murid yang mencari solusi dengan mendaftar dan percaya pada Lembaga Bimbingan Belajar (LBB).

Tingginya minat murid-murid sekolah, terutama yang duduk di kelas 3 SMP dan SMA, dalam mengikuti bimbingan belajar, membuat tumbuh subur LBB di berbagai wilayah, tak kecuali di komunitas Kebon Jeruk dan Kembangan. Mulai LBB waralaba dengan jaringan dan kurikulum yang terpadu, sampai dengan LBB rumahan yang lebih bersifat privat.

Maraknya usaha pendidikan tersebut, tidak terlepas dari kesempatan yang muncul akibat pemerintah menaikan standar nilai kelulusan murid sekolah. Apalagi banyak murid yang dinyatakan tidak lulus karena belum memenuhi nilai yang ditetapkan pemerintah.

Kontan saja, LBB maju ke depan menawarkan “jalan pintas” dengan menawarkan latihan soal-soal ujian yang lebih praktis. LBB menggunakan soal-soal ujian tahun lalu untuk melatih muridnya. Bahkan, mereka pun mengeluarkan prediksi soal ujian yang akan keluar pada tahun berjalan.

Awalnya, LBB berdiri karena supremasi perguruan tinggi negeri yang dikatakan memiliki kualitas lebih baik dan biayanya yang lebih murah. Oleh karena itu, masyarakat berlomba-lomba mendaftarkan diri dan berujung pada seleksi masuk yang ketat.

Karena seleksi yang ketat inilah banyak pendiri LBB yang berinisiatif untuk mendirikan tempat pendidikan, khusus membahas soal-soal ujian. Sekaligus sebagai peluang bisnis pendidikan yang cukup menjanjikan. Bayangkan, orang tua siapa yang tidak ingin anaknya masuk perguruan tinggi negeri? Atau lulus dalam ujian nasional dan mendapat sekolah favorit?

Dalam perkembangannya, banyak LBB yang tidak hanya membuka bimbingan belajar buat murid sekolah kelas 3 SMP atau SMA. LBB terus berkembang dan melebarkan sayap dengan membuka bimbingan belajar buat berbagai tingkatan kelas, bahkan untuk murid-murid TK. Isinya tetap membantu murid dalam mengerti pelajaran dan mendapat nilai baik di sekolah.

Materi yang diberikan tidak berbeda dengan di sekolah. Dengan bantuan para pengajar LBB, murid sekolah dari berbagai jenjang pendidik tersebut dibantu menguasai dan menaikan nilai pelajaran di sekolah.

Begitu juga dengan kurikulum yang digunakan, tidak berbeda jauh dengan yang dipakai sekolah. Bahkan LBB pun sudah menyiapkan beberapa kurikulum yang populer dipakai sekolah negeri maupun swasta dan sekolah bertaraf nasional plus. Dengan begitu, anak murid pun akan mendapat pelajaran yang tidak berbeda dengan pelajaran di sekolahnya.
Lebih jauh lagi, LBB pun menyediakan guru piket yang bersedia kapan saja sebagai tempat berkonsultasi. “Mereka bukan hanya belajar apa yang diajarkan di kelas saja, tapi juga bisa berkonsultasi seperti menanyakan pekerjaan rumah dari sekolah atau tentang apa saja yang menyangkut pelajaran. Kami tidak memungut biaya lagi, staf pengajar selalu siap membantu,” kata Marketing Teknos Duri Raya, Ryan Timiko.

Di balik itu semua, dengan anak murid mengikuti LBB, berarti anak tidak memunyai banyak waktu luang untuk bersosialisasi dengan teman-temannya, menyegarkan pikiran, atau menuangkan hobi yang dimiliki.

Bukan bermaksud menyudutkan LBB, tapi kalau melihat jam belajar anak di sekolah ditambah lagi belajar di LBB, maka praktis anak tidak memunyai waktu banyak. Mereka pun akan terlalu letih buat aktifitas lain. Apalagi kebanyakan materi LBB hanya mengasah logika dan kemampuan otak kiri. Dan berkutat pada pelajaran seperti Fisika, Kimia, Biologi, dll.

Artinya, tidak ada waktu buat anak melatih otak kanannya yang berfungsi untuk mengasah imajinasi dan kreativitas. Kehidupan mereka pun menjadi monoton, pagi berangkat sekolah, siang dilanjutkan dengan bimbingan belajar. Kemudian mereka akan mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan sekolah pada malam harinya.

Apa Perlu Belajar di Bimbel?
Pertanyaan di atas terus menyeruak ketika melihat anak-anak sekolah pergi di pagi hari dan pulang menjelang sore. Dengan begitu banyaknya waktu yang tersita setiap hari, apakah mereka juga harus belajar lagi di LBB? Apa sekolah tidak cukup memberikan mereka waktu untuk menguasai pelajaran?

Bukan karena sekolah tidak cukup memberikan materi pelajaran (tergantung dari sekolahnya), tapi banyak juga murid sekolah yang akan lebih yakin menghadapi UN atau ujian seleksi perguruan tinggi kalau sudah belajar di LBB. Apalagi di sana mereka akan diberikan soal-soal yang biasanya keluar dalam ujian yang akan ditempuh.

Di samping itu, mereka juga bisa menambah wawasan dan teman, bukan hanya di sekolah saja. Di situ, mereka bisa saling bertukar pikiran dan membahas berbagai tip dan trik cara cepat mengerjakan soal-soal ujian.

Pro dan kontra tentang pentingnya LBB masih menjadi pertanyaan. Terlebih lagi biaya pendidikan di LBB yang tidak terbilang murah. Buat mereka yang duduk di kelas 3 SMP atau SMA, misalnya. Biaya yang harus dikeluarkan oleh orang tua murid bisa berkisar antara 5 – 15 juta. Bagi yang orang tuanya punya duit banyak, hal itu mungkin tidak masalah, tapi bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki uang lebih?

Sebenarnya, di beberapa sekolah pun sudah menyediakan program pendalaman materi buat mereka yang akan mengikuti ujian. Dengan begitu, anak-anak sekolah tidak begitu perlu mengikuti LBB karena selain akan menyita tenaga dan waktu, mereka pun sebenarnya sudah mendapat pelajaran tambahan di sekolah.

Murid sekolah yang memilih tidak ikut LBB, pun bisa belajar bersama dan membahas pelajaran dengan teman-teman. Untuk mengukur kemampuan, mereka bisa mengikuti beberapa try out yang banyak diselenggarakan. Atau membeli buku-buku soal ujian dan membahasnya bersama teman sekolah atau teman yang ikut LBB.

Tapi, itu semua tergantung dari individu masing-masing. Terkadang, ada individu yang belum punya rasa tanggung jawab dan keyakinan. Tidak terpicu belajar, bila harus belajar sendiri. Makanya, mereka memilih ikut LBB, dibanding harus belajar sendiri atau dengan teman-teman yang kebanyakan akan diisi dengan ngobrol atau hal lain yang bukan bersifat pembelajaran.

Sekolah Versus LBB
Sekolah dan LBB selayaknya memang saling mendukung dalam mengembangkan kemampuan murid dalam menguasai pelajaran sekolah. Sebenarnya, antara sekolah dan LBB memiliki orientasi yang berbeda.

Sekolah lebih bertujuan pada pengembangan siswa secara menyeluruh, termasuk mengembangkan kreativitas dan sikap siswa. Lain halnya dengan LBB yang lebih pada tujuan singkat seperti kemampuan siswa dalam mengerjakan soal-soal dengan cepat dan benar. Tujuan utamanya adalah mengantar siswa lulus ujian atau mendapat perguruan tingggi negeri.

Karena alasan tersebut, malah seharusnya sekolah dan LBB bisa saling membantu. Ibaratnya, sekolah memberikan pondasi, sedangkan LBB lebih pada memberikan atap rumah dan finishing agar rumah terlihat bagus dan indah. Bukan hal yang baik bila masyarakat atau siswa sekolah hanya mengartikan pendidikan dengan lulus atau tidaknya dalam sebuah ujian.

Sekarang ini, layanan dan fasilitas LBB pun kerap menjadi perbandingan oleh masyarakat. Di samping perlengkapan belajar mengajar yang terbilang lengkap dan nyaman. LBB pun ada yang melengkapi dengan fasilitas konsuling dan sesi membangun motivasi siswa dalam belajar. Layanan tersebut disediakan gratis dan kapan saja.
Seperti yang dilakukan Quantum Brain dengan memberikan pelayanan belajar di luar kelas yang betul-betul nyata (individu atau kelompok). Pelajaran tambahan tersebut diberikan gratis bagi siswa-siswi.

”Di samping itu, siswa Quantum Brain pun akan mendapat training secara berkala tentang ”motivation to win” dan ”skill of learning” melalui Motivation Training Plus (MTP) oleh pembicara dan motivator handal Mr. Sintong dan Mr. Pia,” kata Pimpinan Cabang Quantum Meruya, Oskar Purba.

Tidak sampai di situ, bahkan ada LBB yang memberikan fasilitas untuk melihat bakat dan potensi anak. Melalui fasilitas tersebut, akan bisa terlihat kemampuan otak kiri dan kanan anak sehingga akan lebih mudah mengembangkan potensi dan bakat anak yang tepat ke depannya.

Menjelang UN, banyak pula LBB yang menyelenggarakan pembelajaran intensif. Murid akan diberi materi-materi latihan soal agar mereka benar-benar siap menghadapi ujian.

Seperti yang dikatakan Pimpinan Cabang Primagama Green Garden, Ika Kumala Furi, SE, dalam menghadapi UN 2009 nanti, akan dibuka program “Super Intensive UN 2009”. Di program tersebut, siswa akan dibekali simulasi, trik-trik jitu serta pembahasan soal-soal prediksi UN 2009 yang akurat. “Program telah dibuka mulai sekarang dengan biaya sebesar Rp 900 ribu,” katanya.

Kemudian, entah karena sebab persaingan bisnis atau untuk memberikan kepercayaan pada masyarakat, ada pula LBB yang memberikan garansi lulus ujian atau perguruan tinggi negeri.

Pada dasarnya, program jaminan ini sama dengan program bimbel lainnya, tapi jumlah muridnya saja yang dibatasi. Biasanya, tidak lebih dari 10 anak dalam satu kelas. Biayanya pun tentu lebih mahal, di atas Rp 10 jutaan.

Bahkan, ada pula LBB yang membuka Kelas Super atau kelas buat murid yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Mereka akan dikumpulkan dalam satu kelas dengan materi pembelajaran yang sama, tapi dibahas lebih mendalam dan cenderung mendorong potensi anak. Tidak hanya teori, tapi juga meliputi aplikasi, pendalaman, dan pengembangan materi.

Bisnis Pendidikan
Apa pun masalah dan alasannya, pendidikan sepatutnya tidak dijadikan ajang bisnis semata. Bila hal itu terjadi, bukan tidak mungkin pendidikan hanya akan dimiliki oleh mereka yang memunyai uang banyak. Sedang buat mereka yang hidup seadanya, akan mendapat pendidikan yang apa adanya pula.

Kita sendiri mahfum bahwa biaya operasional pendidikan dengan berbagai keperluan tidak bisa dibilang murah. Tapi selayaknya dihindari menjadikan pendidikan sebagai ”mesin pencari untung” belaka. Karena ketidakadilan dalam pendidikan membuat kualitas dan potensi masyarakat secara keseluruhan menjadi tidak merata.

Bagi murid-murid yang menimba ilmu di LBB pun memiliki sisi positif. Mereka menjadi kaya ilmu dan pengetahuan karena belajar bukan hanya di sekolah saja. Sekaligus mereka bisa mencari teman dan tempat untuk berdiskusi.

Selayaknya, sekolah dan LBB tidaklah bersaing. Keduanya bisa dibilang saling mengisi kekurangan yang lowong di sistim pendidikan kita. Biar murid sekolah yang nantinya akan menjadi masyarakat Indonesia secara keseluruhan menjadi lebih baik dan mampu berkompetisi dalam dunia nyata.

Read More ..

Menjelaskan Seks Pada Anak

Risih juga memang kalau menjelaskan masalah seks sama anak kita. Soalnya, mereka dianggap masih kecil dan takut menirukan apa yang kita perbuat. Maklum saja, rasa ingin tahu anak yang tinggi mendorongnya memertanyakan segala hal yang dilihatnya.

Ada beberapa tips yang bisa dijadikan alasan ketika anak menayakan perihal seks. Intinya, kita harus tetap memberikan informasi agar anak mengerti dan bersikap tenang dalam menghadapinya.
Berikut tips seperti dikutip dari untukku.com tentang bagaimana menyampaikan rasa ingin tahu anak Anda mengenai seks:

* Bagaimana menjelaskan seks pada anak-anak?
Berikan jawaban yang jujur dan jangan malu-malu. Berikan informasi yang diperlukan oleh anak saat itu. Misalnya anak berusia 3 tahun ingin tahu dari mana bayi berasal. Tidak perlu Anda jelaskan secara rinci tentang reproduksi. Cukup katakan, bayi tumbuh di suatu tempat khusus di dalam tubuh ibunya.

* Apa yang harus Anda katakan saat anak melihat Anda sedang berhubungan intim?
Cobalah bersikap tenang, jangan berlebihan. Bawa kembali si kecil ke kamar tidurnya. Jelaskan Anda berdua tidak sedang bertengkar, karena jika tidak diberitahu akan membuat kesalahpahaman pada si kecil. Katakan Anda sedang bermain dan menunjukkan kasih sayang satu sama lain.

* Usia berapa anak harus diberikan pendidikan tentang seksual?
Jangan terlalu terpatok waktu. Anak-anak belajar tentang seks sepanjang waktu dan melalui jawaban terhadap pertanyaan individual. Hindari merencanakan untuk memberitahu hal-hal tentang seksual karena tidak realistik.

* Apa yang harus dilakukan jika menemukan anak Anda sedang bermain dokter-dokteran dan saling memperlihatkan genitalnya dengan temannya?
Tetap tenang dan katakan kepada mereka bahwa “bagian pribadi” adalah hanya miliknya pribadi, dan mereka tidak boleh mengizinkan orang lain menyentuh bagian tersebut.

Read More ..

About This Blog

  © Blogger template 'Ultimatum' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP