25/03/09

Lendry Suseno Martio

Stabilitas Ekonomi, UKM, dan Anti Diskriminasi

Diskriminasi warga Tionghoa dalam menjalankan hak dan kewajibannya bukan hanya isu belaka. Mereka yang punya uang banyak atau yang menjadi pemulung dan pengemis, tetap diperlakukan sama. Dibedakan, dianggap “sapi perah”.

Meski sudah ada peraturan daerah mengenai anti diskriminasi ras dan etnis, tapi implementasinya masih “jauh panggang dari pada api”. Mental oknum birokrasi pemerintah pun disinyalir masih perlu dibenahi agar peraturan anti diskriminasi tersebut bisa berjalan mulus.

“Warga Tionghoa memang masih banyak yang menjadi ‘sasaran empuk’. Bukan hanya dalam hal birokrasi, tapi juga dalam berbagai hal,” kata Caleg DPRD DKI Jakarta daerah pemilihan Jakarta Barat, Lendry Suseno Martio.

Misalnya saja, lanjut Caleg bernomer pilih 16 dari Partai Damai Sejahtera ini, dalam hal pengurusan Pasport atau SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan RI) yang berbelit-belit. Tidak mudah mereka mengurus dokumentasi tersebut. Ujung-ujungnya¸ mereka pasti diminta mengeluarkan uang yang tak jelas peruntukkannya.

Begitu juga dengan warga Tionghoa yang tergolong masyarakat ekonomi lemah. Seperti pernah ditemui Lendry ketika mengadakan bakti sosial di Cengkareng dan Teluk Naga Tangerang. “Di sana, saya menemui warga Tionghoa yang menjadi pemulung dan pengemis. Mereka pun ternyata diperlakukan diskriminatif dalam pengurusan Kartu Gakin, KTP, atau pembagian Raskin,” ujar Ketua LSM Peduli & Pemberdayaan Manusia (Permen) ini.

Fenomena menyimpang dari hubungan masyarakat dan pemerintahan seperti inilah yang menjadi salah satu titik perhatian Lendry ketika menyebutkan misinya dalam menjadi Caleg 2009. Mantan anggota FORUM Perlawanan Sengkerta Tanah Meruya Selatan ini memiliki misi pertama, memerjuangkan adilnya persamaan hak dan kewajiban sebagai warga negara, tanpa membedakan suku, agama, golongan, ras, status sosial, dan gender.

Sedangkan misi kedua-nya, akan memerjuangkan ekonomi yang stabil dan lapangan kerja yang luas. Sehingga akhirnya akan bermuara pada kemakmuran rakyat, khususnya warga DKI Jakarta.

Secara kongkrit, Lendry memang akan lebih memerjuangkan anti diskriminasi masyarakat, khususnya warga Tionghoa dan peningkatan ekonomi rakyat serta perluasan lapangan kerja.

Dalam pengejawantahan misi keduanya, salah satu tokoh Meruya Selatan ini memiliki pandangan kalau Jakarta adalah barometer ekonomi di Indonesia. Dengan begitu, ekonomi Jakarta harus terus dikembangkan. Contoh nyatanya adalah dengan mengembangkan Usaha Kecil Menengah (UKM).

“UKM harus dikembangkan, ditata, dan ditatar. Tempatkan mereka di lokasi yang tidak menggangu ketertiban. Jangan sering digusur karena mereka adalah penompang Jakarta,” katanya.

Lagi pula, tambahnya, banyak masyarakat Jakarta yang bergantung pada UKM. Akibat biaya hidup yang besar, banyak masyarakat yang lebih memilih produk-produk buatan UKM yang harganya terjangkau.

Mengenai persoalan ini, harusnya pemerintah tidak berbelit-belit dalam pengurusan surat ijin usaha. “Biayanya bisa saja dihapus. Dengan begitu, akan bisa pula menghilangkan biaya-biaya siluman,” usul Lendry.

Dari sisi pengusaha besar yang bukan dalam kategori UKM, mereka biasanya akan membantu perekonomian suatu daerah dengan menanam investasi. Namun, dalam menanamkan investasinya, para investor tersebut akan lebih dulu melihat beberapa hal. Misalnya saja, mengenai birokrasi dan penegakan hukum.

“Kita bisa saja memberikan stimulus pada investor dengan cara memangkas birokrasi. Dengan begitu, dalam usaha mereka menanamkan modal, tidak mengalami banyak batu sandungan. Kepastian dan penegakan hukum pun perlu diterapkan,” ucapnya.

Menurutnya, coba lihat saja berapa banyak sengketa tanah yang terjadi di Jakarta. Selesaikan permasalahan tersebut sehingga bisa memberikan kepastian hukum dan ketenangan investor dalam menanamkan modalnya.

Dana 1 Milyar
Masih dalam koridor pengembangan UKM di Jakarta, Lendry mengomentari tentang dana Rp 1 milyar yang diberikan pemerintah buat masyarakat yang ingin menjadi wira usaha. Program Pemda Jakarta untuk memberdayakan peningkatan ekonomi dalam skala keluarga ini sepertinya tidak berjalan lancar.

“Program ini kurang sosialisasi. Sedikit sekali masyarakat yang memanfaatkan program ini. Kalau pun ada yang menerima, paling-paling hanya orang-orang di lingkungan kelurahan saja,” kata Lendry.

Badan pelaksananya kurang tepat, lanjutnya, akan lebih baik kalau pelaksanaan diserahkan pada badan independen yang dipantau oleh dewan kelurahan dan lurah. Sehingga penyalurannya bisa tepat sasaran.

Dulu saya pernah mengajukan pinjaman buat seseorang yang ingin membuat warung sembako, tapi ditolak, Lendri menambahkan. Padahal, waktu itu program tersebut masih terbilang baru dan saya menjabat sebagai ketua RT.

Kalau saja dana tersebut bisa tersalurkan dengan benar, tentunya akan banyak masyarakat yang terbantu dalam hal permodalan. Mereka bisa memulai usaha kecil rumahan yang bersifat home industri. Dengan begitu, perekonomian masyarakat bisa meningkat dan otomatis akan mendongkrak kemakmuran Jakarta.

Tidak berhenti sampai di situ, Lendry yang aktif dalam organisasi internasional Full Gospel Bussines Men’s Fellowship International (FGBMFI) ini, terus berusaha membantu masyarakat kecil melalui LSM-nya.

Menurutnya, masih banyak warga Jakarta yang hidup di bawah garis kemiskinan. Saya ingin membantu dengan memberdayakan mereka. “Kalo ada orang yang bisa bikin siomay atau tahu, kasih mereka gerobak dan tempat berjualan. Sehingga mereka bisa mencari uang, tanpa pusing memikirkan modal awalnya,” ucap Lendry.

Hal itu, lanjutnya, sudah saya lakukan dengan membantu 2 orang masyarakat yang ingin berjualan. Saya bantu mereka dengan uang sendiri.

Bukan Uang dan Kekuasaan
Menyikapi isu banyak Caleg sekarang yang mencalonkan diri karena uang dan kekuasaan, Lendry mengatakan, motivasi saya menjadi Caleg 2009 bukan karena uang dan kekuasaan, tapi dengan alasan kondisi masyarakat sekarang.

“Banyak masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan, saya ingin membantu mereka,” kata pria kelahiran Pontianak, Kalimantan Barat ini.

Bila alasannya hanya uang, tambahnya, saya sudah merasa cukup dengan pekerjaan menjadi importir. Kekuasaan pun sudah saya dapat dengan menjadi ketua di berbagai organisasi. Misi saya dalam membantu masyarakat sejalan dengan LSM yang saya dirikan, membantu masyarakat dalam persamaan hak dan kewajiban, memerjuangkan stabilitas ekonomi, dan membuka lapangan kerja.

Read More ..

Usaha Penyewaan Mobil

Tanya :
Mohon pendapat pengasuh Wira Usaha mengenai ide usaha penyewaan mobil. Kira-kira bagaimana prospeknya? Bagaimana dan apa saja yang perlu saya perhitungkan dalam memulai usaha ini?

Kemudian mengenai modal usaha, mohon dijelaskan cara yang lebih baik dalam memerolehnya karena saya pikir modal saya masih belum mencukupi.

Mengenai strategi pasar, adakah cara-cara lebih baik agar mobil saya terus mendapat order penyewaan? Apa harus terus diparkir di pinggir jalan dengan menempelkan nomer telepon di mobil? Atau menawarkan rental ke beberapa perusahaan? Terakhir, perlukah mobil sewaan saya diasuransikan?

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas penjelasannya.


Jawab:
Pak Hartanto di Meruya, sejalan dengan perkembangan bisnis, industri serta pariwisata di tanah air yang cukup pesat, maka usaha penyewaan mobil (car rental, rent-a-car) juga mengalami pengaruh positif yang menggembirakan. Dengan demikian, saya berani mengatakan bahwa prospek bisnis tersebut amat baik. Sebab apa?
Ada beberapa penyebab yang perlu saya paparkan, antara lain:

1. Perkembangan yang terjadi di dunia bisnis dan industri, menyebabkan para pelaku usaha sekaligus orang-orang yang terkait dengan kepentingan mereka, meningkat mobilitasnya. Fenomena ini tentu saja memerlukan dukungan peralatan dan layanan transportasi yang memadai. Sehingga peran-serta perusahaan-perusahaan penyewaan mobil menjadi besar artinya, terutama didasari atas kenyataan bahwa bagi beberapa kelompok orang, menggunakan mobil secara menyewa, diperhitungkan akan lebih efisien daripada membeli.

2. Hal yang sama juga terjadi dalam dunia pariwisata. Indonesia, sebagai salah satu negara besar yang mengandal sektor pariwisata guna memperoleh devisa, membuka pintu lebar-lebar bagi kedatangan para wisatawan, baik domestik mau pun asing. Dengan demikian, keberadaan perusahaan-perusahaan penyewaan mobil menjadi amat krusial guna mendukung lancarnya program pemerintah di sektor ini.

3. Berdatangannya orang-orang dari mancanegara, apakah itu tenaga-tenaga kerja asing yang kita kenal dengan sebutan expatriates, atau wisatawan asing yang berlibur, merupakan nilai tambah yang menguatkan alasan mengapa penyewaan mobil layak diperhitungkan sebagai salah satu bidang usaha yang cukup menguntungkan. Seperti diketahui, daya beli para pendatang mancanegera boleh dikata jauh lebih tinggi daripada kemampuan masyarakat kita pada umumnya.

Untuk memulai usaha ini, saya rasa Anda dapat berpegang pada suatu azas yang bersifat universal, yaitu mulailah dari skala kecil dahulu. Memulai secara kecil-kecilan, memberi manfaat ganda bagi kita yaitu, memperkecil risiko kegagalan dan sekaligus sebagai sarana familiarisasi serta pembelajaraan melalui pengalaman nyata di lapangan.

Memulai usaha pun, seharusnya tidak melulu bergantung pada kondisi keuangan pribadi yang ingin kita sisihkan sebagai modal. Bila kita tidak punya modal finansial, Anda dapat mengajak orang lain yang bukan saja punya uang, tapi tentunya juga berminat dalam bisnis sewa-menyewa kendaraan.

Mulailah dengan menggunakan 1 - 3 mobil saja dulu, dan itu pun tidak harus punya Anda semua. Anda bisa menyosialisasikan pada orang-orang dekat bahwa Anda memiliki bisnis yang bisa dimanfaatkan untuk meraup keuntungan dari mobil-mobil mereka yang penggunaannya kurang efektif. Berilah pencerahan bahwa dengan menitipkan pada Anda, mobil-mobil yang selama ini hanya menguras keuangan para pemiliknya guna keperluan pemeliharaan, akan dapat membiaya dirinya sendiri melalui uang sewa. Bahkan kesempatan mendapat profit bisnis cukup besar pun, akan terbuka lebar. Hal inilah yang disebutkan oleh Robert Kiyosaki bahwa setiap barang seharusnya dibuat menjadi aset yang menghasilkan, bukan liabilitas yang membebankan.

Kalau Anda bertanya adakah cara-cara yang lebih baik dalam hal meningkatkan pemasukan serta menambah jumlah order, maka tiada kata lain selain Anda harus proaktif. Bagaimana persisnya?

Anda harus giat mengajukan penawaran-penawaran kerjasama pada berbagai institusi bisnis. Misalnya, kalau Anda tinggal di Bali, Jogya atau daearah-daerah wisata lainnya, Anda bisa mengadakan kerjasama dengan berbagai hotel atau perusahaan tour and travel yang memungkinkan perusahaan Anda dipercaya untuk menangani urusan antar-jemput tamu-tamu mereka.

Demikian juga kalau tinggal di Jakarta, Cikarang atau daerah-daerah industri pada umumnya, Anda juga bisa menggelar penawaran pada berbagai perusahaan untuk memberikan layanan sewa mobil pada expatriates yang tinggal di sini dalam jangka panjang. Sewanya bisa dalam basis harian, mingguan, atau bulanan, terserah Anda.
Efektifkah kalau mempromosikan usaha dengan jalan memparkir kendaraan yang disewakan di pinggir jalan dengan menempelkan nomor telepon?

Cara demikian mungkin saja bisa jalan, tapi menurut hemat saya kurang efektif karena cakupannya hanya pada lingkungan terbatas. Yaitu, hanya berdampak pada mereka yang tinggal di sekitar tempat tersebut, atau pada mereka yang kebetulan melintas dan melihat “jualan” Anda. Strategi seperti ini sifatnya statis, saya menamakannya sebagai (maaf) strategi “kotoran kerbau menunggu datangnya lalat”. Boleh saja dijalankan, tapi seyogyanya dibantu dengan cara-cara yang lebih proaktif dan profesional.

Perlukah mobil-mobil sewaan diasuransikan? Menurut saya, wajib! Jangankan mobil sewaan, mobil pribadi pun seyogyanya diasuransikan mengingat faktor keamanan dewasa ini yang semakin rawan. Risiko dapat terjadi kapan saja, apalagi kalau mobil sewaan itu dipakai oleh segala macam tipe orang yang tidak kita ketahui, sembronokah, cerobohkah, piawaikah atau..?

Pesan saya, sebelum Anda benar-benar terjun total, perhatikan juga faktor persaingan. Lalu ciptakan keunggulan spesifik apa yang dapat ditawarkan pada calon pelanggan, yang tidak ditawarkan orang lain. Sehingga jelas alasannya, mengapa pelanggan harus datang ke Anda untuk menyewa mobil, dan bukan datang ke pesaing Anda. Selamat berjuang!

Rusman Hakim

Read More ..

Welcome to The Jungle

Baris kata di atas bukanlah judul lagu kesohor dari band heavy metal Guns ‘N Roses yang sempat terkenal di era 90-an. “Selamat Datang di Hutan” merupakan ungkapan buat kita yang akan memilih saat Pemilu nanti. Kita akan dihadapkan pada pilihan di dalam bilik suara yang diibaratkan dengan hutan belantara.

Kenapa bilik suara disamakan dengan hutan? Ya, karena di situlah kita bisa menjadi tidak tahu, asal pilih, dan bingung siapa atau apa yang harus dicontreng. Sama saja dengan kita yang tersesat di hutan. Tidak tahu jalan mana dan siapa yang akan membawa kita keluar. Padahal, dari situlah nasib dan perjalanan negeri ini ditentukan.

Tersesat memang bukan hal yang menyenangkan, apalagi kalau di hutan. Bila ada orang yang bisa ditanyai, mungkin kita akan keluar dari hutan dengan selamat. Itu pun kalau orang tersebut memang benar-benar tahu jalan keluarnya. Kalau tidak, kita akan terus tersesat, bahkan bisa saja semakin jauh ke dalam hutan.

Saat ini, mungkin sudah ada Caleg atau Parpol yang mengutarakan misi dan visinya bila terpilih nanti. Keduanya merasa sudah punya formula tersendiri keluar dari kondisi sekarang yang dalam pandangannya masih saja salah. Mereka berlomba mengajak, memberi janji, dan keriaan pada masyarakat untuk memilih diri mereka dan bersama keluar dari kenyataan hari ini.

Bukan hanya ajakan, mereka pun sudah menggelar “karpet merah” di hutan. Orang yang tersesat malah seperti “raja hutan”. Karena banyaknya Caleg dan Parpol yang ikut serta dalam Pemilu 2009 ini, hutan pun menjadi ramai. Tidak sepi seperti dulu lagi.

Begitu juga dengan binatang-binatang hutan, mereka tak terlihat lagi batang hidungnya. Mereka membiarkan para Caleg dan Parpol mencari orang hilang untuk diajak keluar dari hutan. Sama halnya dengan rumput, pepohonan, semak belukar, dan tetumbuhan lainnya. Mereka rela ditempelin poster, spanduk, baliho, dan stiker yang berguna untuk memberi petunjuk bagi orang-orang tersesat.

Binatang dan tetumbuhan hutan sudah mengerti kalau setiap 5 tahun sekali, hutan mereka akan semrawut, acak-acakan, dan kotor. Mereka juga tahu kalau lebih dari 170 juta orang akan tersesat dalam periode tersebut.

Tapi, dalam keramaian hutan, orang yang tersesat bukan menjadi tenang, mereka malah menjadi bingung dan bertanya-tanya. Siapakah orang yang memang benar-benar mengetahui seluk beluk dan bisa mengeluarkannya dari hutan. Mereka semua mengaku ahli dalam bidangnya, tahu jalan pintas keluar hutan, dan merasa sudah berpengalaman menjadi ranger.

Kebanyakan dari mereka pun adalah orang-orang yang kurang populer, belum terbukti kredibilitasnya, dan terasa asing. Sehingga membuat orang tersesat memiliki prasangka yang tidak baik. Apa benar mereka akan membantu kita tanpa pamrih? Atau malah menyesatkan, memiliki agenda tersembunyi, dan meninggalkan dalam kesesatan setelah keinginannya terpenuhi.

Kawan atau Lawan
Masuk ke dalam hutan di mana banyak binatang hidup di sana, ada sebuah fabel yang menceritakan seekor bangau dan ikan-ikan di sebuah danau. Dalam sebuah perjalanannya, seekor bangau menemukan danau yang banyak didiami oleh ratusan ikan.
Di situ, sang bangau berdiri dengan kaki satu di dataran dangkal danau. Dia tidak bergeming ketika banyak ikan-ikan yang lalu-lalang di bawahnya.

Karena bangau tidak menghiraukan kehadirannya, maka ikan-ikan pun menjadi tidak takut. Ikan menganggap bangau sebagai seorang pertapa yang sudah meninggalkan urusan keduniawian.

Pada suatu hari, sang bangau terlihat bersedih dan menitikkan air mata. Melihat hal tersebut, seekor raja ikan datang menghampiri dan menanyakan kenapa bangau bersedih. Sang bangau pun mengatakan kalau tidak berapa lama ikan-ikan di danau akan musnah ditangkap manusia. Mereka sudah menyiapkan jaring yang besar untuk menangkap ikan.

Bangau bersedih karena tidak bisa menyelamatkan ikan-ikan di danau. Tapi, dia memiliki ide, usulan, dan pemikiran untuk menolong ikan dengan memindahkan mereka ke danau lain yang tak jauh letaknya.

Karena tidak tahu harus bagaimana dan meminta pertolongan pada siapa, ikan-ikan pun menyetujui usulan bangau tersebut. Malang buat ikan, satu per satu mereka dipindahkan, tapi bukan ke danau lain, melainkan dibawa ke sarang bangau sebagai makanannya sampai ikan di danau habis.

Begitulah tipu muslihat bangau dalam mencari makanan. Berpura-pura baik, tapi dalam hatinya tersembunyi maksud jahat. Berkamuflase melindungi keinginannya menyantap ikan-ikan danau. Di lain sisi, ikan pun termakan rayuan dan omongan bangau karena merasa tidak berdaya dan tidak mau berpikir jernih.

Di situlah terdapat perbedaan yang tipis antara kawan atau lawan. Membantu atau menghancurkan. Seperti juga orang tersesat yang tidak tahu siapa penyelamatnya. Semua bermuka sama, terlihat baik, dan memasang senyum manis. Welcome to The Jungle!

Read More ..

Kampanye Damai, Bukan Kampanye Berdarah

Tidak ada kerusuhan yang tidak membawa malapetaka. Setiap kerusuhan terjadi, di situ ada etnosentris, ego, dan fanatisme berlebihan yang bersifat otoriterian dan destruktif.

Menghadapi musim kampanye terbuka, masyarakat Indonesia diharapkan juga bisa terbuka dalam pandangan, pikiran, dan kenyataan yang akan terjadi saat Pemilu 2009. Pesta demokrasi yang akan digelar mulai April nanti diharapkan tidak ada kerusuhan, gesekan massa, dan kecurangan.

Bila sebelumnya banyak terjadi gesekan-gesekan di masyarakat seperti saat pemilihan kepala daerah, hal itu bukanlah perumpamaan yang harus diikuti. Menggangu kelancaran Pemilu adalah pelanggaran yang tidak bisa ditolerir oleh pemerintah.

Pemerintah, Komisi Pemilihan Umum, dan Partai Politik sendiri sudah sepakat untuk menjalankan kampanye Pemilu dengan damai pada pertengahan Maret lalu. Semua komponen tersebut sudah berikrar untuk melaksanakan Pemilu yang damai dan jauh dari anarkisme serta vandalisme.

Tapi, bagaimana dengan masyarakat? Apakah mereka sudah siap menerima keyakinan politik selain partai politik yang dianutnya? Apakah mereka sudah cerdas untuk tidak ditunggangi dan diperalat hanya sebagai corong dalam mencari popularitas para peserta Pemilu?

Biar bagaimana pun, masyarakatlah yang paling ditekan dalam pelaksanaan Pemilu nanti. Karena gesekan yang paling dilihat dan terbuka memang ada di kalangan grass root. Masyarakat akan menjadi korban dan merugi. Masyarakat harus sadar kalau pemerintahan itu ada karena mereka, Pemilu bisa berlangsung karena mereka dan untuk kepentingan mereka pula.

Euporia Pemilu selayaknya didengungkan dan dilaksanakan sewajarnya, tetap mematuhi koridor dan peraturan yang telah disepakati bersama. Bukan dengan saling mengkhianati, menutup mata, dan subjektif.

Apa yang terjadi saat penandatanganan kesepakatan kampanye damai beberapa waktu lalu, seharusnya tidak dibiarkan. Masyarakat pendukung parpol tidak selayaknya naik ke atas panggung sambil mengibarkan bendera dan yel-yel ketika pimpinan parpol menandatangani kesepakatan damai. Masyarakat tidak bisa mengartikan damai dengan bertindak semaunya, tidak menghormati orang lain, dan berbuat onar.

Kenapa mereka (orang-orang yang naik ke atas panggung) tidak bisa menghormati pimpinan parpol yang akan membuat kesepakatan? Bukankah tindakan ini bisa memicu masyarakat pendukung parpol lainnya untuk berbuat hal yang sama? Kalau itu terjadi, panggung Deklarasi Pemilu Damai bisa menjadi ring tinju yang tidak hanya diisi oleh 2 orang petinju, tapi semua orang pun akan bertinju.

Memang wajar adanya bila hal demikian terjadi di era demokrasi ketika dinamika berpolitik masyarakat sudah semakin tinggi. Tapi, embrio yang tidak berpihak pada kedamaian tidak bisa dibiarkan terus hidup karena dapat berkembang menjadi kebiasaan yang normatif.

Seperti saat musim kompetisi sepak bola yang banyak diwarnai tawuran, pengrusakan, dan baku hantam antar suporter. Masyarakat sudah menganggap biasa kerusuhan yang ditimbulkan suporter bola. Kerusuhan dalam sebuah pertandingan bola dianggap sebuah kewajaran.

Padahal, kebiasaan tersebut menggangu ketertiban dan ketentraman masyarakat lainnya. Melanggar hak masyarakat lainnya dan mengancam eksistensi dari klub dan dunia sepak bola itu sendiri.

Sama halnya dengan Pemilu, bila hajat demokrasi ini tidak berjalan lancar, dan rusuh, maka kelangsungan masyarakat dan pemerintah berada di ujung tanduk. Indonesia bisa tidak berdaulat dan akan dikuasai pihak asing sehingga masyarakatlah yang akan merugi.

Oleh karena itu, sejalan dengan deklarasi kampanye damai yang dibuat pimpinan parpol dan KPU, tidak ada salahnya bila masyarakat menahan diri untuk tidak saling menghujat, menghina, mengolok-ngolok, memancing emosi, dan berbuat anarkis dalam berkampanye.

Marilah kita sukseskan Pemilu 2009 tanpa kerusuhan, kecurangan, dan tidak membuat “kampanye damai” menjadi “kampanye berdarah”.

Read More ..

07/03/09

Mulailah dengan yang Palsu

Apa yang disajikan pertama kali ketika Anda memesan makanan di restoran? Kebanyakan, hanya buku menu yang dilengkapi foto makanan. Foto sengaja disiapkan agar Anda bisa membayangkan menu pesanan. Tapi, foto tidak memiliki dimensi dan porsi sebenarnya.

Berbeda dengan replika makanan (food replica) yang memiliki dimensi, ukuran porsi, dan bentuk sesuai aslinya. Dengan begitu, kita bisa membayangkan utuh apa yang akan kita pesan, meski nama menunya sangat asing.

Replika makanan ini memang belum populer di Indonesia, tapi restoran atau tempat makan berskala besar, sudah banyak yang menggunakannya. Sebut saja tempat makan Pasta de Waraku di Gran Indonesia yang memajang puluhan menu replikanya.

Selain bisa tahan sampai 8 tahun, replika makanan ini juga bisa menghemat biaya dan menarik pengunjung. Pengusaha restoran tidak perlu mengeluarkan ongkos promosi dengan membuat display food setiap hari. “Meski begitu, replika ini sebenarnya bukan untuk display food restoran, tapi untuk promo seperti di pameran,” kata Stefanus Susanto yang mulai menggeluti usaha ini setahun lalu.

Karena bentuk, dimensi, dan ukurannya yang seperti asli, banyak orang akan terkecoh dengan replika ini. Bila dibandingkan dengan yang asli, kita pasti akan sulit membedakannya. “Satu hal yang bisa membedakan adalah baunya. Dari jauh, kita sulit membedakan, tapi kalau sudah dekat, kita akan tahu dari baunya,” jelas Stefanus yang memiliki workshop di daerah Pesing, Jakarta Barat.

Berbagai menu makanan bisa dibuat Stefanus lengkap dengan berbagai campuran di dalamnya. Dari koleksi dan pesanan yang diterimanya, terdapat beberapa menu masakan khas Indonesia, makanan China dan Jepang, serta berbagai menu minuman.

Semuanya dibuat dengan detil yang lengkap. Mulai dari warna sampai tekstur yang timbul dipermukaan replika. Uniknya, Stefanus membuat setiap replika secara terpisah-pisah. Misalnya, replika nasi goreng, dia akan membuat nasi, suwiran daging, telor goreng, tomat, selada, bawang dan lainnya secara terpisah. “Nasinya saja, saya buat per butir. Begitu juga dengan yang lainnya. Jadi, campuran nasi goreng tersebut bisa dipisah-pisah,” ungkap Stefanus yang juga menjadi pengusaha bahan pembuat kue.

Replika ini sebenarnya tidak hanya untuk makanan, tapi bisa pula untuk benda lainnya sehingga fungsinya bisa berbeda-beda. Misalnya, bisa pula dibuat anatomi tubuh atau replika buah dan binatang yang bisa membantu dunia pendidikan. Bahkan bisa pula untuk gift atau kado pernikahan.

Di beberapa negara seperti China dan Korea, replika makanan ini sudah lazim digunakan di restoran-restoran. Bahkan, beberapa maskapai penerbangan dan perusahaan kereta api luar negeri sudah menggunakannya di kelas bisnis.

“Replika ini akan memudahkan mereka dalam memilih makanan, apalagi buat orang asing. Mereka jadi tidak salah pesan karena tidak tahu bentuknya,” kata Stefanus yang memiliki toko peralatan pembuat kue bernama Guten Braun di daerah Glodok ini.

Dimulai dari Jepang

Ide pembuatan replika makanan ini dimulai ketika Stefanus pergi ke Jepang. Waktu itu, temannya memesan replika makanan untuk restorannya. Tapi, karena takut tidak sesuai dengan harapan temannya, dia pun urung membantu.

“Soalnya, teman saya tidak bisa melihat barangnya. Kalau tidak sesuai, saya tidak mau disalahkan. Apalagi itu barang impor yang tidak bisa dikembalikan. Harganya pun 3X lipat dari replika makanan yang saya buat,” ujar Stefanus yang pernah mendapat rekor MURI untuk kertas kue yang mampu menahan panas oven.

Setelah mendapat ide, Stefanus mendalami pembuatan replika makanan di Korea selama 2 tahun dan baru setahun lalu karyanya dikomersilkan.

Sekarang, dengan dibantu 3 karyawannya, Stefanus sudah mendapat pesanan dari beberapa tempat makan dan kafe ternama di Jakarta. Sebut saja JCO Donuts dan BreadTalk. Terakhir, dia sedang mengerjakan 50 jenis pesanan dari Departemen Kelautan untuk digunakan dalam pameran. “Saya diminta membuat replika berbagai ikan dan hasil laut di Indonesia,” ucapnya.

Sayangnya, replika buatan Stefanus dengan label Arts Display Food ini, belum bisa diproduksi secara massal. Karena pembuatnya sendiri menganggapnya sebagai kerjaan seni dan dibuat handmade. Apalagi kalau masalah harga.

“Saya ingin orang yang memesan menghargai karya seni. Seperti halnya lukisan, harganya tergantung bagaimana apresiasi seni pembelinya. Tidak ada tawar menawar dalam membeli lukisan,” ungkap Stefanus yang bercita-cita membuat galeri khusus replika makanan.

Meski begitu, Stefanus mengatakan kalau harga replika makanannya itu tergantung dari ukuran dan tingkat kerumitan. Dia mencontohkan replika bebek Peking yang dilego seharga Rp 1,25 juta. “Makin besar ukuran dan tingkat kerumitan, harganya bisa menjadi lebih mahal,” kata Stefanus yang akan mengikuti kontes pembuatan replika makanan tingkat internasional di Jepang dengan membuat nasi tumpeng.

Cara Membuat
Replika makanan ini dimulai dengan pembuatan cetakan atau mold. Pengerjaannya tentu dengan mencontoh makanan asli atau fotonya. “Saya lebih menyarankan menggunakan makanan asli agar warna dan teksturnya bisa sama,” ujarnya.

Bahan dasar yang digunakan adalah plastik jelly, tapi banyak orang juga menyebutnya PVC atau silikon. Dalam keadaan cair, bahan dasar tersebut dituangkan dalam mold lalu kemudian dikeringkan dalam oven.

Dalam pembuatannya, dipertimbangkan pula jenis makanan yang akan dibuat. “Disesuaikan juga mengenai komposisi, tekstur, dan jenis makanan. Apa makanan tersebut keras atau lunak? Semua disesuaikan dengan aslinya,” jelas Stefanus.

Setelah kering, replika makanan yang masih berwarna putih tersebut, diwarnai sesuai aslinya dengan cat minyak. Bila replikanya satu porsi menu, maka akan ditambahkan pelengkapnya yang dibuat terpisah.

Pembuatan replika ini bisa memakan waktu 1 – 2 minggu, tergantung tingkat kesulitan. Dari proses pembuatan tersebut, paling lama saat membuat mold dan finishing.

Bisnis replika makanan ini, menurut Stefanus, memiliki prospek yang cukup bagus. Apalagi sekarang banyak berkembang restoran-restoran. Ke depannya, Stefanus akan membuat replika makanan yang tidak hanya sama dalam bentuk, tapi juga baunya.

Read More ..

  © Blogger template 'Ultimatum' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP