Sutejo M. Dahlan: Saya Kecewa…

Tidak banyak yang dapat dilakukan para tunanetra di saat Pemilu kemarin. Di saat sebagian warga dengan hak pilihnya larut dalam euforia pesta demokrasi lima tahunan, para pemilih tunanetra justru harap-harap cemas. Terutama bila terkait dengan sarana dan prasarana Pemilu.

Bila masyarakat kebanyakan tidak memiliki halangan dalam memilih, mereka (para tunanetra) harus tergantung dengan alat bantu karena keterbatasan dalam melihat. KPU harus menyediakan alat bantu tersebut di tiap TPS yang memiliki DPT (Daftar Pemilih Tetap) tunanetra.

Saat ditemui, Sutejo M. Dahlan selaku Ketua PERTUNI (Persatuan Tuna Netra Indonesia) DPC Jakarta Barat, merasa kecewa dengan pelaksanaan Pemilu. Selain tanggapan KPUD Jakarta Barat yang dianggapnya “dingin”, sarana buat pemilih tunanetra di TPS pun tidak kunjung tersedia.

Berikut wawancara dengan Sutejo M. Dahlan seusai pemilihan legislatif pada 9 April 2009 lalu di kediamannya yang sekaligus Kantor PERTUNI DPC Jakarta Barat :

Apa Pendapat Anda Tentang Pemilu Kemarin ?

Pemilu kali ini saya tanggapi dengan semangat. Sebelumnya, saya melakukan kordinasi dengan anggota-anggota saya. Kami mencari alamat dan nomor telepon KPUD Jakarta Barat agar kami mendapat sosialisasi tentang Pemilu. Namun hal ini tidak membuahkan hasil. Alamat dan nomor telepon yang didapat pun bagai “rumah tak bertuan”.

Ketika menelepon, pihak KPUD Jakarta Barat menanggapi sangat dingin. Hal inilah yang membuat saya bersama anggota PERTUNI DPC Jakarta Barat memilih untuk pasrah. Pasrah yang dilakukan bukan tidak memilih atau “golput”. Tapi, saya harus mengikuti pemilihan anggota legislatif dengan didampingi orang terdekat.
“Saya sendiri harus didampingi oleh anak saya dalam mencontreng anggota legislatif pilihannya,” kata Sutejo.

Kami juga kan manusia, seharusnya kami diberi perhatian yang sama. Kami punya hak pilih, tapi tidak diberikan ruang untuk mengenal Pemilu. Bagaimana kami bisa mengenal dan memilih? Masyarakat biasa saja, yang masih bisa melihat, masih bingung ketika mencontreng, apalagi kami tunanetra yang tidak diberikan sarana.

Saya mengaku cukup kecewa dengan kurangnya perhatian pemerintah terhadap pemilih tunanetra. Salah satu buktinya adalah tidak adanya sosialisasi Pemilu di kalangan pemilih tunanetra. Padahal, sosialisasi tersebut sangat dibutuhkan kaum tunanetra yang memiliki keterbatasan penglihatan.

Sutejo khawatir kalau pemilih tunanetra yang tidak mendapat sarana di TPS, tidak dapat menggunakan hak pilihnya, atau karena dipaksakan, suaranya menjadi tidak sah dan akhirnya sia-sia belaka.

Apa yang Diharapkan Saat Pemilu Berlangsung?
Kami sebagai warga negara Indonesia yang punya hak memilih diberikan sarana. Dengan adanya alat bantu berupa template surat suara berhuruf Braille, para penyandang tunanetra bisa menggunakan hak pilihnya secara lebih rahasia meskipun masih terbatas pada pemilu anggota DPD dan pemilu presiden.

Selama ini, para pemilih tunanetra selalu menyiapkan seorang pendamping yang akan menemaninya di bilik suara. Di bilik suara, mereka bisanya akan diarahkan pada calon atau partai politik yang dipilih.

Tapi apa yang terjadi. Jangankan template surat suara berhuruf Braille, sosialisasi tentang Pemilu kepada kami pun tidak ada. Bahkan, ketika kami ingin meminta informasi tentang bagaimana pelaksanaan Pemilu, seolah kami tak dianggap.
Ketika hari pencontrenagn tiba, saya terpaksa dibantu oleh anak saya untuk mencontreng partai atau nama calon anggota legislatif Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi dan DPR RI, karena alat bantu yang disediakan hanya untuk Dewan Perwakilan Daerah saja.

Apa Kendala Saat Melakukan Pencontrengan ?
Mungkin bukan hanya kami penyandang tunanetra yang mengalami kesulitan ketika harus mencontreng. Selain lembaran kertas yang terlalu besar, nama caleg yang tersedia pun cukup banyak. Inilah yang membuat kami sedikit bingung. Selain itu, prasarana dan sarana berupa template surat suara berhuruf Braille pun tidak tersedia. Hal ini juga menjadi kendala kami.

Selain itu, dengan kurangnya sarana Pemilu, membuat kami harus mencontreng di TPS masing-masing. Bahkan, banyak juga anggota kami yang tidak mencontreng akibat tidak ada di DPT (Daftar Pemilih Tetap). Selain itu, ada pula yang hanya memiliki KTP daerah. Inilah yang menjadi kesulitan kami.

Harapan Setelah Mencontreng ?

Kami berharap, kepada wakil rakyat yang telah kami percaya untuk benar-benar mengemban tugas demi kemajuan bangsa dan negara. Selain itu, untuk pemilihan Pilpres dan Wapres nanti, dirinya berharap agar pemerintah lebih memperhatikan para tunanetra dan mereka yang berkebutuhan khusus. Di mana suara kami pun turut serta memanjukan bangsa dan negara ini.

Menyinggung tentang pemerintahan sekarang ini, dirinya dengan gamblang menuturkan bahwa beliau sangat simpatik dengan tokoh SBY. Menurutnya, beliau sungguh-sungguh memberantas korupsi tanpa pandang bulu. Dirinya pun berharap, jika nanti terpilih lagi sebagai presiden Indonesia, beliau lebih serius lagi dalam membasmi para koruptor yang membuat negara ini menjadi terbelakang.

Read More ..

Pemilu dan Pilu Masyarakat

Kebingungan masyarakat memang banyak dijumpai di beberapa TPS. Masyarakat merasa masih belum paham dan kurang tersosialisasi dalam Pemilu kali ini. Akhirnya, mereka tidak pasti dalam memilih calon legislatif yang akan mewakili mereka di parlemen.

Meski begitu, sebagian besar masyarakat masih menganggap kalau Pemilu dan pemberian suara adalah hak konstitusional yang harus mereka gunakan. Buktinya, dari beberapa TPS yang ada di komunitas kita, masih dipadati masyarakat yang ingin mencontreng.

Menurut pantauan AdInfo di beberapa TPS, pencontrengan dilakukan mulai pukul 07.00 – 12.00. Seperti terlihat di TPS 114 Duri Kosambi, TPS 08 dan 09 di Kembangan Selatan dan TPS 067, 068 dan 069 di Kembangan Utara. Di sana, masyarakat berbondong-bondong datang ke bilik suara guna menentukan pilihannya masing-masing.

Namun, di tengah antusias masyarakat di hari pencontrengan tersebut, ternyata masih ada masyarakat yang tidak bisa menggunakan haknya. Mereka tidak tercantum dalam (DPT) Daftar Pemilih Tetap yang dikeluarkan oleh KPU (Komisi Pemilihan Umum). Hal ini terjadi bukan hanya di komunitas kita saja, tapi juga di beberapa daerah di Indonesia.

Seperti dikutip dari Kompas (9/4), menurut Ketua DPD PDI-P DKI Jakarta Adang Ruchiatna, di Cengkareng, ada 2.440 orang dengan NIK (nomor induk kependudukan) sama dan kami juga mendapat laporan bahwa 50.000 orang di Jakarta Barat tidak tercatat dalam DPT, padahal terdaftar sebagai pemilih dalam Pemilu 2004 dan dalam Pilkada. Hal ini terjadi juga di daerah lain dan saya perkirakan mencapai 20 persen.

Selain tidak terdaftar dalam DPT, masyarakat juga merasa kecewa karena mereka tidak bisa mencontreng meski memiliki KTP. Padahal, data pemilih yang dikeluarkan oleh KPU bedasarkan data kependudukan yang diperoleh dari masing-masing pemerintah daerah.
“Saya juga heran kenapa saya dan keluarga bisa tidak ada dalam DPT. Padahal saya memiliki KTP di tempat saya tinggal. Kalau begini, bisa-bisa saya juga tidak bisa memilih dalam Pilpres nanti,” kata salah seorang warga di Cengkareng Barat.

Di samping permasalah DPT tersebut, masyarakat pun masih memiliki kendala lain. Banyak di antara mereka yang bingung dengan mekanisme dan pilihan calon legislatif yang akan dipilih. Terutama masyarakat awam dan masyarakat lanjut usia.

Seperti yang terlihat di TPS 114. Menurut Hisar, salah satu warga Duri Kosambi, Cengkareng, Pemilu kali ini sangat membingungkan dengan banyaknya partai dan anggota legislatif yang ada. Makanya, hingga pencontrengan tiba pun, saya masih belum mempunyai calonnya. “Jangankan saya. Anggota KPPS saja terlihat masih bingung,” ujarnya sambil tersenyum.

Di TPS tersebut, pemilihan berlangsung dengan lancar. Aparat keamanan pun terlihat siap berjaga di tengah-tengah pemilihan berlangsung. Bahkan, Lurah Duri Kosambi, H. Naman Setiawan S.Sos pun terlihat memantau lokasi tersebut. ”Selain di TPS ini, saya juga memantau hampir di semua TPS yang ada di wilayah Kelurahan Duri Kosambi. Mudah-mudahan semuanya bisa berjalan lancar,” katanya.

Berbeda halnya dengan di TPS 067, Kembangan Utara. Di sana, ketika perhitungan suara dilakukan, ada surat suara yang semua bagian kertas ditandai dengan tanda silang, bukan contreng. Hal itu mungkin menunjukkan ketidakpercayaan warga pada Caleg dan Partai Politik yang hanya bisa memberikan janji-janji palsu.

Bukan itu saja, di TPS tersebut, ada pula warga yang terlihat bingung ketika melihat papan calon nama anggota legislatif. “Kok, nama calon yang saya akan contreng gak ada ya mas? Masih ada lagi gak yang belum ditempel ?” tanyanya pada Adinfo.

Menyinggung soal Pemilu legislatif, Jones Djatisasmito, Caleg DPR-RI Dapil Jakarta III yang juga merupakan warga komunitas, pada tanggal 13 April 2009 lalu menuturkan, belum mengetahui berapa hasil suara yang diperoleh hingga saat ini. Padahal, sudah 4 hari terhitung pencontrengan berlangsung. Menurutnya, kali ini KPU kacau dan terbilang lambat. “Saya dapat informasi untuk Dapil saya, baru 30 % suara yg masuk dari seluruh TPS yg ada,” ujarnya.

Lebih jauh Jones Djatisasmito menuturkan, saya melihat manajemen KPU sekarang kurang profesional dan saya sendiri sampai sekarang belum tahu dapat suara berapa. Hal ini membuat saya pribadi sangat sedih melihat bangsa Indonesia. Di mana pemilu kali ini, rakyat dipaksa Golput dan hak asasi rakyat tidak ada yang membela, termasuk pemerintah sekali pun.

“Saya agak pesimis dengan demokrasi bangsa Indonesia. Yang ada saat ini, adalah demokrasi yang menurut saya itu sama dengan bangsa bar-bar,” ujarnya.
Sungguh sangat saya sesalkan adalah kenapa hak pilih rakyat Indonesia yang konon jumlahnya ada 250 juta, tapi tidak dapat memilih seluruhnya. Bahkan hal ini tidak ada pembelaan terhadap rakyat yang tidak bisa memilih tersebut.

“Jadi, percuma dong kita jadi rakyat Indonesia, jika keberadaan kita sebagai rakyat tidak pernah dihargain. Saat ini, kepada siapa rakyat harus cari pembelaan,” tukasnya.

Menurutnya, di sinilah kita bisa tahu banyak contoh yang salah satunya adalah masalah mengurus DPT. Ini menandakan memang rakyat tidak pernah diajak dengan sungguh-sungguh untuk membangun bangsa ini. “Untuk pilpres, saya rasa melihat hasil suara yang beredar sekarang, SBY masih kuat untuk menjadi kandidat. Saya takutkan ke depan adalah terjadi keributan seperti di Thailand. Di mana banyak kelompok- kelompok tidak puas dengan hasil pemilu sekarang,” tukasnya.

Read More ..

Mencari Salah dalam Pemilu

Konstruksi menjadi bagian penting dalam sebuah bangunan. Kapasitas dan kualitas setiap bagiannya harus sejalan dengan peruntukkan bangunan tersebut. Tidak bisa diselewengkan dan diremehkan agar bangunan bisa kokoh berdiri.

Kita ambil perumpamaan sebuah jembatan. Bila dibuat dengan bahan baku dan konstruksi yang mampu bertahan sampai 10 tahun, maka jembatan tersebut pun akan bisa bertahan sesuai usianya. Tapi, jika diselewengkan, jembatan itu bisa saja ambruk sebelum masanya. Ketidakmampuan dalam menahan beban menjadi pertanyaan karena seharusnya jembatan tersebut bisa bertahan sesuai kapasitasnya.

Jembatan tidak bisa dinilai hanya dari fisiknya yang terlihat kuat, kokoh, dan mentereng, tapi harus pula diperhitungkan kekuatannya dari konstruksi dan bahan baku yang digunakan. Sehingga kekuatan jembatan bukan hanya memiliki makna tersirat, tapi juga tersurat. Apalagi jembatan akan dilewati banyak orang yang pastinya berhubungan dengan keselamatan jiwa yang melaluinya.

Melihat kondisi politik sekarang ini, seusai hari pencontrengan, disadari atau tidak, masyarakat sebenarnya sudah memilih bahan baku dan konstruksi pemerintahan buat 5 tahun mendatang. Analogi jembatan di atas bisa diutarakan untuk melihat konskuensi dan menilai peta politik nantinya.

Kalau saja masyarakat salah memilih, pastinya jembatan republik ini akan cepat roboh. Tidak berumur panjang, atau akan cepat kropos karena kredibilitas konstruksi dan bahan bakunya tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Sekaranglah, masa di mana negara ini mengalami dekonstruksi politik dan pemerintahan. Masa ketika haluan politik dan pemerintah ditentukan. Akan berjalan di tempat, melesat maju, atau malah mundur ke belakang.

Namun, di saat pemerintahan dipilih kembali dan dilegitimasi ulang oleh rakyat, ada saja permasalahan yang timbul. Setelah penyesalan masyarakat mengenai kurangnya sosialisasi Pemilu yang menyebabkan mereka tidak memiliki pilihan caleg yang pasti, dan begitu banyaknya partai politik serta calon anggota legislatif yang membuat surat suara melebihi lebar bilik suara, lalu masyarakat masih menuai masalah karena tidak terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Dengan begitu, mereka tidak bisa mencontreng dan tidak bisa menunaikan hak konstitusionilnya.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) dinilai tidak melakukan tugasnya dengan baik. Akibatnya, protes banyak dilayangkan meminta pertanggungjawaban KPU. Partai politik dan Caleg pun ada yang terus memertanyakan hal tersebut. Mereka menilai pelaksanaan Pemilu 2009 amburadul.

Apapun alasannya, surat suara sudah masuk dalam perhitungan dan masyarakat pun sudah mengetahui hasilnya. Suka atau tidak, masyarakat harus menerima keputusan KPU sebagai badan yang memiliki otoritas dalam pelaksanaan Pemilu.

Hal yang perlu dicermati dalam kekisruhan ini adalah kebiasaan mencari “kambing hitam”, saling menuding, dan melempar tanggung jawab. Tidak berupaya untuk melihat dan memahami kalau kesalahan-kesalahan dalam Pemilu kali ini adalah kealpaan dari mereka pula.

Kalau memang ada kesalahan dalam pelaksanaannya, selain harus diperbaiki, masyarakat dan semua yang berkepentingan ada baiknya ikut andil sebelum pelaksanaanya. Tidak ribut di akhir pelaksanaan dan rajin mencari kesalahan pihak lain.

Sama halnya dengan membangun jembatan di atas, cobalah untuk teliti dan andil ketika jembatan akan dan saat dibangun. Berikan usulan agar jembatan kokoh berdiri dan kontrol bersama-sama. Jangan ketika jembatan sudah berlobang atau ambruk, baru teriak kalau bahan dan konstruksinya tidak bagus, ada kecurangan, dan tidak sesuai rencana semula.

Perlu disadari, Pemilu dilangsungkan untuk kepentingan masyarakat dan bangsa ini, bukan hanya untuk kepentingan Partai Politik, Caleg, atau KPU sekali pun. Pemilu pun bukan ajang mencari kesalahan, kalau ada yang hanya mencari kekuasaan belaka, orang inilah yang patut disalahkan. Bukan sistem yang telah dibuat secara kolektif. Bila begitu adanya, sama saja kita bertindak bodoh, mencari kesalahan atas perbuatan salah yang kita lakukan sendiri.


Read More ..

Banyak Bangunan Jakbar Tidak Miliki IMB

Ternyata, masih banyak bangunan liar dan tidak liar yang belum memiliki IMB (Ijin Mendirikan Bangunan) di Jakarta Barat. Terhitung sekitar 400 laporan yang masuk ke Sudin P2B Jakarta Barat mengenai bangunan-bangunan bermasalah di wilayah ini. Semuanya akan ditindaklanjuti dengan pembongkaran bila memang tidak ada inisiatif baik dari pemiliknya.

Sampai dengan akhir Maret, sudah 3 bangunan di Kapuk, Rawa Buaya, dan Cengkareng Timur melanggar yang dibongkar. Terakhir, akan dibongkar sebuah bengkel yang berlokasi di Kedoya. Semuanya dilakukan untuk ketertiban wilayah Jakarta Barat agar tertata dengan rapih.

Tidak tahu alasan yang pasti kenapa pemilik bangunan tidak segera mengurus IMB. Padahal aturan kepemilikan IMB sudah tertuang dalam Perda. Begitu juga dengan biayanya. Singkat kata, IMB sudah merupakan keharusan dalam syarat mendirikan bangunan.

Tapi, ada kemungkinan para pemilik bangunan ini tidak memiliki banyak waktu dalam mengurusnya. Dengan kata lain, mereka sibuk dan lebih memilih menggunakan jasa perantara atau calo.

Alangkah baiknya, bila pemerintah memberikan solusi dengan cara “jemput bola”. Seperti halnya dalam pengurusan perpanjangan SIM atau STNK dan surat-surat tanah. Dengan menggunakan mobil khusus, pihak Polda Metro Jaya dan BPN memermudah masyarakat dalam mengurus segala perizinan. Sekaligus menghindari praktek percaloan.

Dengan cara ini, secara tidak langsung akan membuat pemilik bangunan merasa punya akses cepat dalam pengurusan IMB. Imajinasi birokrasi yang berbelit-belit pun sepertinya akan sirna. Terganti dengan pelayanan yang cepat dan pasti dari Sudin Perizinan Bangunan. Pun meluruskan fungsi pemerintah yang harusnya melayani masyarakat, bukan dilayani oleh masyarakat.


Read More ..

Lipat Gandakan Wanita dalam Hidup Anda

Sobat, coba jawab pertanyaan ini: sepanjang mengikuti Hitman System, bagaimana respon para rekan-rekan wanita yang Anda miliki? Apakah rata-rata mereka menyambut dengan positif perubahan yang terjadi dalam perilaku Anda?

Karena bila Anda mempraktekkan setiap artikel yang Anda baca dengan sebagaimana seharusnya, sahabat Anda akan langsung terbelah menjadi setidaknya dua kubu, yakni mereka yang menikmati dan mereka yang mengecam. Jika ditelaah dengan teliti, maka akan ditemukan bahwa mereka yang menikmati dan semakin akrab justru adalah para sahabat wanita, sementara sahabat-sahabat pria cenderung sedikit membatasi diri dari interaksi dengan Anda.

Apakah Anda mengalami hal-hal tersebut di atas? Atau justru Anda malah mengalami persis kebalikannya?

Pola yang sama dapat dikonfirmasi dalam kisah cinta rekan-rekan saya yang sudah lebih dahulu menjalani masa-masa pendekatan, pacaran, dan hingga akhirnya pernikahan. Pola tersebut selalu ditemukan di mana-mana, sehingga saya melihatnya sebagai salah satu formula dinamika sosial yang bisa menjadi alat ukur kesuksesan perjalanan Anda dari pria lossy menjadi pria glossy.

Anda berada di jalur tranformasi yang benar ketika Anda menerima lebih banyak respon positif dari rekan-rekan wanita dari pada rekan-rekan pria.

Mengapa? Karena segala sesuatu yang kita lakukan dalam hidup adalah games atau sekumpulan permainan, tidak terkecuali dalam area romansa. Secara psikologis, pria dan wanita memiliki respon yang sedikit berbeda ketika berhadapan dengan permainan.

Pria terbiasa melihat “permainan” sebagai tantangan untuk membuktikan diri. Ia melihatnya sebagai kesempatan mencari perhatian, validasi dan pengakuan dari orang lain. Bagi pria, sebuah game adalah perkara menjadi yang terbaik, mencari siapa yang menang dan kalah.

Sementara wanita terbiasa melihat “permainan” sebagai undangan bersenang-senang. Mereka tidak peduli dengan kompetisi siapa yang lebih baik di antara mereka. Bagi wanita, sebuah game adalah kesempatan menikmati interaksi, sesuatu yang sulit mereka lakukan jika sedang sendirian.

Bila Anda mengikuti tulisan saya, Kei, dan Jet namun justru mendapat lebih banyak teman pria yang akrab dengan Anda, itu saatnya berhenti mengecek apakah Anda benar-benar melakukan transformasi persis seperti yang kami maksudkan dalam artikel.

Contoh perilaku salah yang membuat Anda semakin menambah sahabat pria dan kehilangan sahabat wanita adalah bila Anda sibuk bertindak sebagai konsultan, mentor, guru, dokter dan dukun untuk masalah-masalah percintaan teman Anda. Dengan kata lain, menggunakan informasi yang Anda dapatkan dalam Hitman System untuk membuat Anda terlihat cerdas atau berpengalaman tentang romansa.

Bisa dipastikan para pria yang melakukan aksi tersebut tidak pernah melihat hasil transformasi yang mereka inginkan. Glosifikasi yang kami maksudkan akan membuat Anda memiliki keleluasan untuk bermain dan bersenang-senang, sehingga wanita dengan sendirinya tertarik masuk ke gravitasi hidup Anda.

Ingat baik-baik: Pria menyukai pria lain yang banyak berbicara (atau cerdas) tentang game dan membatasi diri dari pria lain yang memiliki game, sementara wanita menyukai pria yang memiliki game, dan membatasi diri dari pria yang terlihat cerdas tentang game.

Di detik Anda lupa akan hal tersebut, Anda akan tersandung kembali ke jurang lossy.
Sehubungan dengan respon wanita terhadap game, ada fenomena menarik yang saya temui pada tahun ketiga ini semenjak Hitman System hadir membantu para pria di Indonesia. Berdasarkan survei, tercatat sekitar 11% dari pengunjung Hitman System adalah wanita. Dan dari jumlah tersebut, semakin banyak surat elektronik dari mereka yang berisikan komentar terima kasih, dukungan, dan pujian.

Ini adalah hal yang menggembirakan, apalagi jika dibandingkan surat berisi kata-kata kecaman pedas yang berdatangan dari para wanita pada saat awal-awal Hitman System berdiri. Ternyata seiring waktu, mereka akhirnya mengenali apa yang sebenarnya kami lakukan selama ini dan berubah seratus delapan puluh derajat.

Mengapa saya membagikan info di atas? Karena hari ini saya ingin mengajarkan satu hal krusial: seluruh transformasi yang Anda dapatkan ini bukanlah sesuatu yang Anda pakai untuk mempermainkan wanita, melainkan untuk bermain BERSAMA mereka. Dalam bahasa Inggris terlihat perbedaan yang lebih tajam: not playing games ON them, but playing games WITH them.

Sadarkah bahwa kemungkinan besar Anda selama ini mengalami kebuntuan karena Anda memperlakukan wanita sebagai obyek target? Tidak ada seorang pun yang senang dipermainkan. Pernahkah Anda dan si dia bisa berinteraksi asyik pada awalnya, namun ia selalu menghindar pada pertemuan berikutnya? Atau mungkin dia berubah sikap dengan mendadak?

Jika Anda belum mengetahui mengapa hal itu terjadi, simak baik-baik: mereka menyadari bahwa Anda lebih suka bermain untuk diri sendiri, bersenang-senang sendiri, menjadikannya sebagai obyek bulan-bulanan dari kebahagiaan Anda.

Seluruh revolusi paradigma yang kami tawarkan di sini adalah bagaimana meningkatkan diri Anda hingga titik maksimal hingga dapat menarik wanita untuk bersenang-senang bersama-sama dengan Anda. Bukan lagi Anda yang sibuk menyenangkan hatinya (atau dikenal dengan istilah pria lossy). Bukan juga Anda yang sibuk menyenangkan diri sendiri (atau dikenal dengan pria brengsek).

Ketika Anda memiliki game yang menyenangkan, wanita sulit untuk menahan ketertarikannya. Dan bila wanita sudah mendekati Anda, ingat untuk terus bermain bersama-sama mereka, bukannya mempermainkan.

Anda mengerti? Itulah kunci pelipatgandaan wanita dan romansa dalam hidup Anda.
(Hitman System)

Read More ..

About This Blog

  © Blogger template 'Ultimatum' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP