Bagaimana Menata Ruang Pertemuan

Dalam mengatur ruang pertemuan, selayaknya kita tidak begitu saja menerima apa yang tersedia dalam gedung. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan dan beberapa tata letak yang bisa digunakan.

Pertimbangan letak meja dan kursi harus diatur sesuai tujuan dan isi acara. Bahkan tata letak pun harus lebih dipikirkan bila menuntut pendengar atau audien untuk berpartisipasi dan berinteraksi. Pilihlah ruangan yang memang membantu tujuan-tujuan tersebut. Berikut beberapa tata letak ruangan yang bisa digunakan.

Gaya Kelas (classroom style)
Tata letak ini membariskan meja dengan 2 atau 3 kursi. Meja-meja disusun menghadap bagian depan ruangan. Tata letak ini tepat untuk konferensi atau presentasi di mana presenternya sering memberikan informasi dan berdialog dengan peserta.

Gaya Teater (theater style)
Gaya Teater dibuat dengan deretan kursi yang menghadap ke depan ruangan. Terdapat pemisah seperti gang kecil antar kelompok. Tata letak ini dipakai untuk memaksimalkan ruangan dan presentasi kurang dari 2 jam. Cocok buat pertemuan yang menuntut pesertanya untuk mencatat.

Gaya Konferensi (conference style)
Meja 6 atau 8 kaki disatukan di tengah ruangan sebagai tempat berkumpul. Kursi-kursi ditempatkan di sekelilingnya. Tata letak ini cocok untuk sesi brainstorming di mana tidak ada yang namanya pimpinan rapat. Pun memiliki ruang yang cukup lapang buat semua peserta dan pandangan yang bebas pada masing-masing peserta.

U-Shape U-Shape
Meja 6 atau 8 kaki ditempatkan dari ujung ruangan ke ujung lainnya membentuk huruh U. Kursi-kursi ditempatkan di luar huruf U. Bagus untuk kelompok-kelompok kecil yang membutuhkan percakapan, baik antara presenter dan peserta atau peserta dengan peserta.

Hollow Square
Meja 6 atau 8 kaki ditempatkan dalam kerangka persegi panjang dengan ruang terbuka di tengahnya. Kursi-kursi diletakkan di luar sekeliling persegi panjang tersebut. Sama halnya dengan Gaya Konferensi, Tata letak ini cocok untuk sesi brainstorming di mana tidak ada yang namanya pimpinan rapat. Pun memiliki ruang yang cukup lapang buat semua peserta dan pandangan yang bebas pada masing-masing peserta.

Gaya Banquet
Digunakan untuk acara makan-makan dengan diameter meja sekitar 60 – 72 inci. Meja bundar yang disusun menyerupai bunga, berkapasitas sekitar 8 atau 12 kursi.

Half Moon Rounds
Tata letak ini dibuat setengah lingkaran. Tempat duduk diletakkan setengah dari meja bundar. Semua peserta menghadap depan dan tidak ada yang membelakangi presenter.

Chevron or "V" Shape
Gaya Chevron memungkinkan diskusi kelompok kecil antar peserta setelah presenter memberikan materi pada semua peserta. Tata letak ini menghilangkan perasaan tertutup buat presenter dan peserta.

Herringbone Herringbone
Sangat tepat untu pertemuan yang bersifat presentasi informatif. Presenter memberikan informasi diselingi dengan beberapa dalog dengan peserta. Herringbone menghilangkan perasaan tertutup buat presenter dan peserta.

Read More ..

Kuta and Legian

“Beach Blanket Babylon” of The East

Kuta/Legian beach is living proof that one man’s hell is another man’s paradise. This bustling beach resort has in the short space of just two decades spontaneously burst onto center stage in the local tourist scene. It is here that many visitors from their first (if not only) impressions of what Bali is all about. Many are shocked and immediately flee in search of the “real Bali” (a mythological destination somewhere near Ubud).

The truth is, nevertheless, that certain souls positively thrive in this labyrinth of boogie bars, beach bungalows, cassette shop, and hongky tonks- all apart of Kuta life style. What then is the magic that has transformed this sleepy fishing village overnight into an overcrowded tourist Mecca –with no end in sight to its haphazard expansion?

Before tourism come to the area, Kuta was one of the poorest place on Bali –plagued by poor soils, endemic malaria and a surf-wracked beach tha provides little protection for shipping. In the early days, it nevertheless served as a port for the powerful southern Balinese kingdom of Badung, whose capital lay in what is now Denpasar. Kuta and Legian

Read More ..

Manajer Satu Menit Bertemu dengan Monyet

Melihat judul buku tersebut membuat saya bertanya-tanya, kira-kira apa yang ingin dijelaskan oleh buku tersebut, apakah tentang bagaimana menangani orang yang pentalitan seperti (maaf) monkey? Atau apakah tentang anekdot, ilustrasi, atau mungkin salah judul (Manajer Bertemu dengan Monyet Satu Menit)?

Perlu waktu cukup lama bagi saya untuk memutuskan apakah akan membelinya atau tidak. Akhirnya, karena didorong oleh rasa ingin tahu yang kuat maka saya membeli buku tsb. Sesampai di rumah, saya mulai membacanya, 1 jam, 2 jam tak terasa ternyata buku tersebut isinya sangat menarik dan sangat relevan dengan pekerjaan saya di kantor. Membaca isi buku tersebut kadang membuat saya tertawa. Sekaligus juga meringis karena mengingatkan saya akan beberapa kekonyolan yang saya lakukan, khususnya dalam mengatur pekerjaan dengan atasan dan staf saya.

Inti buku tersebut seperti yang dikatakan oleh Kenneth Blanchard (salah seorang penulis Manajer Satu Menit) ; Penulis buku ini William Oncken, Jr dan Hal Burrows ingin mengajarkan kita “Jika anda benar-benar ingin menolong sesama, Anda perlu mengajari mereka memancing ketimbang memberi mereka ikannya. Mengambil inisiatif orang dan mengurus serta memberi makan monyet-monyet mereka itu tidaklah lebih daripada mengerjakan bagi mereka, hal-hal yang sesungguhnya dapat mereka kerjakan sendiri.

Buku ini berkisah tentang manajer yang kewalahan, yang lembur bekerja keras, tetapi tampaknya tidak pernah sempat menyelesaikan segala pekerjaannya. Belakangan ia belajar soal manajemen monyet dan bagaimana caranya agar tidak mengambil inisiatif orang-orangnya agar mereka bisa mengurus dan memberi makan “monyet-monyet” mereka sendiri.

Dalam prosesnya, ia belajar menjadi lebih efektif dalam menangani atasannya, bawahannya, dan tuntutan-tuntutan organisasinya. Performa departemennya meningkat drastis seperti prospek karirnya sendiri.
Ada 4 langkah aturan mengatur monyet yang diajarkan oleh buku ini:

1.Uraikan monyetnya : rapat/pertemuan tidak boleh diakhiri sampai “langkah-langkah berikutnya” ditentukan
Kebanyakan dalam suatu rapat atau pertemuan dengan bawahan, pertemuan berakhir tanpa semua orang yang hadir menyepakati apa saja “langkah berikutnya”, kapan langkah-langkah harus diambil, dan siapa yang bertanggung jawab mengambilnya. Masalahnya, jika tidak ada yang diserahi tanggung jawab berarti hal tersebut menjadi tanggung jawab semua orang (atau lebih tepatnya, bukan tanggung jawab siapa-siapa).

Tidak jarang anak buah membawa persolannya kepada boss. Dalam pertemuan seperti itu seringkali seorang atasan tergoda untuk melindungi dirinya dengan merebut monyet bawahannya.“Biar saya pikirkan dulu, nanti saya beri kabar”. Tindakan tersebut membuat staf dan pekerjaan proyek menjadi berhenti; inisiatif orang yang bersangkutan diambil oleh sang boss. Semestinya si boss tersebut bisa mengatakan “Renungkanlah dan pelajarilah persoalannya lebih lanjut” atau “Buatlah rekomendasi berdasarkan apa yang telah kita ketahui sampai saat ini”. Dengan demikian, situasinya tidak tertunda dan proyek dapat terus berjalan.

2.Semua monyet harus dimiliki dan ditangani pada tingkatan yang serendah mungkin sesuai dengan kesejahteraan mereka.
Sejujurnya, bawahan Anda jauh lebih pintar dan lebih tahu untuk menangani permasalahannya sendiri ketimbang Anda. Karena mereka lebih berpengalaman dalam pekerjaan mereka, mereka lebih dekat dengan pekerjaan mereka, langsung berhubungan dengan mesin, pelanggan. Contoh, bagian penjualan di supermarket lebih mengetahui siapa pelanggannya dan barang-barang apa saja yang biasa dibelinya. Jika staf tersebut meminta Anda memecahkan permasalahan tentang barang-barang apa yang harus mereka pesan, jelas mereka lebih tahu ketimbang Anda. Jadi, kenapa Anda yang harus memecahkan masalah tersebut? Kembalikan monyet tersebut ke pemiliknya.

3.Asuransikan monyet-monyet tersebut
Aturan ini untuk menyeimbangkan kebutuhan staf Anda akan kebebasan menangani monyet mereka dengan sekaligus tanggung-jawab Anda atas hasilnya. Kebebasan yang Anda berikan memungkinkan orang-orang Anda menikmati manfaat-manfaat manajemen diri (lebih puas, lebih berenerji, moral lebih tinggi). Tetapi manfaat tersebut ada harganya/resikonya.

Ketika seseorang diberikan kebebasan, mereka pasti membuat kesalahan. Asuransi monyet dirancang untuk memastikan mereka membuat kesalahan-kesalahan yang terjangkau harganya. Salah satunya adalah polis asuransi “rekomendasikan dulu baru bertindak”.

Untuk situasi-situasi di mana Anda merasa ada resiko yang cukup besar, kalau-kalau bawahan Anda membuat kesalahan yang tidak terjangkau harganya kalau dibiarkan sendiri. Mintalah orang-orang Anda untuk merumuskan rekomendasi yang harus Anda setujui terlebih dahulu sebelum mereka melangkah lebih lanjut.

Inti dari aturan ke-3 ini, usahakan sebanyak mungkin mempraktekan manajemen tanpa campur tangan dan mempraktekan manajemen campur tangan hanya bilamana perlu.

4.Periksalah monyetnya, setiap monyet hendaknya diberikan jadwal pemerikasaan yang lengkap supaya tetap sehat.
Kesehatan perusahaan tergantung dari kesehatan para monyetnya. Ada 2 tujuan utama yang ingin dicapai. Pertama, kalau pemeriksaan lengkap menunjukkan bahwa monyet tidak sehat, berarti itu mengungkapkan ada masalah dalam proyek tersebut dan harus segera dilakukan tindakan perawatan, korektif, supaya proyek tersebut bisa sehat dan berjalan kembali. Kedua, jika hasil pemeriksaan lengkap menunjukkan monyetnya sehat, itulah saat yang baik untuk menunjukkan perhargaan dan pujian kepada si pemilik monyet.

Dengan ke-4 aturan tersebut, diharapkan bawahan Anda menjadi lebih diberdayakan, dan Anda sendiri memiliki cukup banyak waktu untuk mengurusi monyet-monyet Anda sendiri dan monyet atasan Anda. Yang pada akhirnya akan meningkatkan performa departemen Anda dan mudah-mudahan meningkatkan karir Anda.

Dikutip dari (The One Minute Manager Meets Monkey) Manajer satu menit bertemu dengan monyet. Karangan. William Oncken Jr. & Hal Burrows- Karisma Publishing Group

Read More ..

Emosi Berpengaruh Pada Disfungsi Seksual

Kita sudah mengetahui bahwa disfungsi seksual pada kaum pria dapat disebabkan oleh sejumlah faktor yang bersifat fisik. Seperti tersumbatnya aliran darah, tekanan darah tinggi dan kadar gula darah yang tinggi . Namun, perhatikan juga faktor non fisik seperti tingkat emosional Anda.(Emosi Berpengaruh Pada Disfungsi Seksual)

Read More ..

Disfungsi Ereksi Bisa Diatasi

GANGGUAN seksual (disfungsi seksual) yang dialami kaum pria selain ejakulasi dini Edi) adalah disfungsi ereksi (DE). Pada dasarnya, pria yang DE tidak mampu mendapatkan dan mempertahankan ereksi untuk aktivitas seksual memuaskan. Di mana proses-proses aktivitas seks terjadi dari naiknya libido, mengalami ereksi, kemudian ejakulasi dan terakhir merasakan orgasme.

Menurut Dr Herdinan Bernard Purba, SpRM, seksolog dari RSCM, definisi ereksi melibatkan pembuluh darah di penis dan sistem syaraf. Penis terdiri atas dua struktur yang bermula pada bagian dalam pelvis dan mengalir sejajar satu sama lain sampai mencapai ujung-ujung penis. (Disfungsi Ereksi Bisa Diatasi)

Read More ..

Sanur
Resort with a “Checkered” Past

The black and white checkered cloth-standard of Bali’s netherworld- is nowhere more aptly hung than on the ancient coral statue and shrines of Bali’s largest traditional village: Sanur. This was Bali’s first beach resort- a place of remarkable contrasts.

Sanur today is a golden mile of Balisque hotels that has attracted millions of paradise seeking globetrotters. And yet within the very grounds of the 11-story The Grand Bali Beach Hotel, a war-reparation gift from the Japanese, nestles the sacred an spikey temple of Ratu Ayu of Singgi , the much feared spirit consort of Sanur’s fabled Black Barong.

Sanur is famous throghtout Bali for its sorcery. Black and white magic pervades the coconut groves of the resort hotels like an invisible chess game. And yet the community is modern and properous.

Sanur is one of the few remaining brahman kuasa villages in Bali- controlled by members of the priestly castle – and boasts among its charm some of the handsomest processions on the island, Bali’s only all female keris dance, the island’s oldest stone inscription, and the hotel world’s most beautiful tropical garden. Even the souvenirs sold on the beach- beautiful crafted kites and toy outriggers-are a cut above those found on the rest of the island. Sanur

Read More ..

Serangan Island
Important Temple on “Turtle Island”

Serangan is a small island lying just off Bali’s southern coast near Sanur. It has an area of only 180 acres and a population of about 2500 and its known principally for its turtles and its important Sakenan Temple.

Serangan is too dry for wet rice farming, but its residents grow corn, maize, peanuts and beans. Some islander earn a living making shell trinkets to sell to the tourist who come here in ever increasing numbers. But the trade in another distinctive item is even more crucial to the local economy.

The sea turtles which give Serangan its popular name are not found swimming pictur-esquely under ocean cliffs- here they are caught and sold as food. People in the Denpasar area are found of turtle meat, especially on festival days. Serangan residents make a living capturing and wholesaling the creatures, also buying them from Muslim fishermen from islands to the east. Serangan Island

Read More ..

Denpasar
Village City with Regal History

Denpasar is a village city with an aristocratic past. Born from the ashes of the defeated Pemecutan court following the Puputan massacre of 1906. Denpasar become a sleepy administrative outpost during Dutch times.

Since independence, especially after it was made the capital of Bali in 1958, it has been transformed into a bustling city of some 350.000 souls that provides administrative, commercial and educational services not only to booming Bali, but too much of estern Indonesia as well. Denpasar is the most dynamic city east Surabaya, and arguably the richest in the country- the are more vehicles per capita here tha in Jakarta.

New City Old Villages
Originally a market town- its name literally means “east of the market”- Denpasar has far outgrown its former boundaries, once defined by the Pemecutan, Jero Kuta and Satriya palace and the brahmanical house of Tegal, Tampakgangsul and Gemeh. Spurred in all direction by population pressures and motorized transport, urban growth is little by little envolping the neighboring villages and oblitering surrounding ricefields, leaving in a new urban landscape in its wake housing estate in the midst of ricefields and ricefields in the middle of the city. Denpasar

Read More ..

About This Blog

  © Blogger template 'Ultimatum' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP