Jakarta Menjadi Awal FJB 2009

Digelar selama 2 (dua) hari pada Sabtu, 23 Mei dan Minggu, 24 Mei 2009 di Plaza Selatan Gelora Bung Karno Senayan, arena FJB mulai dibuka untuk umum pada pukul 12.00 WIB hingga 22.00 WIB di hari pertama.

Sedangkan di hari kedua, arena FJB akan dibuka mulai pukul 09.00 WIB hingga 18.00 WIB. ”Sesuai dengan pilihan tema, kami hadirkan ratusan penjaja makanan pilihan berdasarkan keunggulan pada resep warisan, bahan baku pilihan, cara memasak otentik dan penyajian tradisional,” ucap Memoria Dwi Prasita, Brand Manager Bango, yang akrab disapa Memor.

“Melalui FJB, kami ingin mengajak masyarakat luas untuk melestarikan aneka masakan tradisional yang sudah dikenal luas dan dinikmati secara turun temurun dimana keberadaannya saat ini kalah populer dengan makanan siap saji dari mancanegara,” papar Memor. “Dalam festival kuliner inilah kita bisa memperkenalkan salah satu kekayaan budaya Nusantara, terutama keanekaragaman makanannya,” tambahnya.

Menurut Memor, dengan adanya kegiatan semacam FJB, diharapkan kecintaan masyarakat Indonesia terhadap warisan kuliner Nusantara kian tumbuh dan berkembang secara meluas.

Selain penjaja makanan lokal, FJB kali ini juga akan menghadirkan 8 Duta
Bango yang mewakili kota Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Medan dan Jakarta. Para Duta Bango yang ikut serta dalam FJB 2009 di Jakarta adalah Kupat Tahu Gempol Yang Jempol (Bandung), Soto Udang Medan RM. Rinaldy (Medan), Tengkleng Ibu Edi (Solo), Rujak Cingur Sedati Ibu Nur Aini (Surabaya), Sop Saudara Jl. Irian (Makassar), Brongkos Ibu Suprih (Yogyakarta) , dan Tahu Bakso Ibu Pudji – Ungaran (Semarang). Sedangkan Pondok Sate Pejompongan terpilih sebagai Duta Bango wakil Jakarta yang juga bakal mengikuti festival jajanan di kota Surabaya dan Bandung.

“Ini adalah kesempatan langka, dimana kita bisa mencicipi aneka ragam masakan Nusantara khas daerah masing-masing dengan citarasa enak dan kondang yang bisa dinikmati dalam satu kesempatan. Inilah salah satu keunggulan FJB, dimana kita bisa menikmati berbagai makanan khas Nusantara tanpa harus mengunjungi satu-persatu tempat makan enak yang tersebar di berbagai daerah,” jelas
Memor.

Menurut Memor, berbeda dengan FJB tahun-tahun sebelumnya, FJB 2009 akan menghadirkan Kampung Bango, etalase perjalanan dan kiprah Bango selama ini. Sebuah upaya Bango untuk semakin dekat di hati pecintanya. Pengunjung akan dibawa ke sebuah tur yang menguak proses pembibitan kedele hitam hingga produksi. Juga tampil Dapur Bango Cita Rasa Nusantara yang akan berbagi resep khas Nusantara dan tips memasak dipandu oleh Koki Bango.

Sebagai ucapan rasa terima kasih Bango kepada para pecinta kuliner Nusantara, akan dibagikan secara cuma-cuma ribuan porsi Rujak Bango sebagai ide resep baru kepada para pengunjung.

FJB kali ini benar-benar lebih memanjakan para pengunjung. Sambil menyantap kelezatan aneka makanan dan jajanan khas Nusantara, tersaji berbagai acara hiburan yang menawan. Menyadari bahwa makanan merupakan bagian dari budaya, FJB juga menampilkan berbagai macam kesenian tradisional yang ikut meramaikan acara ini, seperti pagelaran tari khas Betawi dan Barongsai dengan aksi yang penuh kejutan.

Juga akan tampil penyanyi tenar Kris Dayanti yang akan menghibur pengunjung FJB. Khusus buat para pengunjung yang membawa balita dan anak kecil, tersedia juga tempat bermain untuk anak, sehingga FJB dapat menjadi hiburan bagi seluruh anggota keluarga.

Para pengunjung juga punya peluang untuk mengikuti kuis dan permainan interaktif dengan aneka ragam hadiah menarik. Selain dinikmati para pengunjung, adanya FJB juga memberi pengaruh positif kepada para penjaja makanan yang berpartisipasi, karena dengan keikutsertaan mereka, pelanggan menjadi bertambah dan usaha mereka dapat lebih berkembang. Sebagai catatan, jumlah pengunjung FJB tahun lalu sebanyak 680.000 orang dan total penghasilan penjaja makanan sebesar Rp 4,991,000,000 (hampir Rp 5 milyar).

Read More ..

Spesialis Iga Sapi Penyet Suroboyoan

“Sumpah iga ene enak banget!!! luarnya garing, dalamnya empuk! sambalnya mantab, plus taburan bawang goreng kering bikin tambah lengkap...”

Penggalan kalimat di atas bukan bikinan atau pesanan. Tapi, sebuah ekspresi, penghayatan beberapa orang yang menuliskan pengalamannya di blog setelah merasakan iga sapi penyet Warung Léko asli Surabaya yang berdiri 2006 silam ini.

Setelah sukses di Surabaya, Warung Léko kini memiliki beberapa cabang dan franchise yang tersebar di beberapa kota di Indonesia. Salah satunya di Jakarta yang bertempat di Rukan Cordoba Bukit Golf Mediteranian, Pantai Indah Kapuk. Meski hadir di tengah kawasan elit, kesederhanaan masih menjadi gambaran yang tidak bisa dipisahkan darinya.

Sejak awal berdiri, kesan sederhana itu nampak dari gaya warungan sebagai konsep yang diusung pemiliknya. Selain membuat akrab sesama pelanggan, suasana warungan lebih dekat di hati masyarakat kita. Tidak ada kesan glamour, eksklusif atau serba wah lainnya.

Tengok saja meja dan kursi panjangnya, mirip warteg, yang menandakan semua orang di sana sama. Tanpa status, pangkat, jabatan, duduk sama rata menikmati iga sapi penyet yang disajikan. Ada juga deretan kursi bertahta payung penahan panas di teras luar yang langsung berhadapan dengan jalan boulevard PIK.

Menurut Pemilik Warung Léko PIK, konsep warungan sudah lekat dengan gaya hidup masyarakat. “Kalau iga sapi ada di restoran dan hotel itu sudah biasa. Tapi, kalau di warung, kan belum ada. Inilah yang menjadi ide kakak saya sejak awal, iga sapi penyetnya mengusung konsep warungan. Lagipula, iga sapi di tempat mewah, harganya jauh dari standar ekonomi masyarakat kita.”

Nama Léko sendiri dalam bahasa Jawa Suroboyoan berarti lahap. “Mas bisa lihat sendiri, orang yang makan di warung pasti memberi ekspresi tersendiri. Tanpa sungkan, mereka makan dengan lahap sesekali mengusap peluhnya yang jatuh karena saking nikmatnya. Sensasi ini yang kami hadirkan dari Warung Léko,” terang pria alumnus Universitas Petra Surabaya ini.

Merujuk komentar di atas, tak salah jika Warung Léko menghadirkan suasana warungan dengan menu spesial iga sapi penyet. Awalnya, saya heran mengapa iganya harus “penyet”? Setahu saya dipenyet berarti dipencet atau ditekan dari kedua sisi.

Ternyata keheranan saya tadi berujung pada pemahaman setelah pemiliknya menjelaskan bahwa istilah penyet merujuk pada cara mengolah sambalnya yang diulek di atas cowet atau cobek dari gerabah. Jadi, iga penyet maksudnya iga yang disajikan dengan sambal penyet.

Di tengah kepungan sambal instan kemasaan botol atau saset, sambal penyet setidaknya membawa kita kembali pada romantisme tradisi cara menyambal nenek moyang yang terlupakan. Dengan bahan terasi, cabai, dan garam yang dibuat secara manual di atas cobek, mengembalikan aroma khas yang lama hilang. Spesialnya lagi, bahan terasinya didatangkan langsung dari Surabaya.

Sedangkan iganya adalah iga sapi super dari pejantan lokal karena kualitas dagingnya baik dan sedikit lemak.

Iganya Nendang!
Sesuai dengan namanya, iga sapi penyet menjadi menu andalan khas Warung Léko. Sampai sekarang, Warung Léko tetap menyajikan iga sapi penyet sesuai pakemnya yaitu menggunakan piring dari gerabah atau tanah liat sebagai tempatnya. Di permukaan piring yang dilumuri sambal penyet tadi menjadi alas iga sapi dengan taburan bawang goreng di atasnya. Tak ketinggalan lalapan daun kol, kemangi dan mentimun menjadi teman setia sambal dan iga.

Satu porsi iga penyet berisi tiga potong iga besar yang pastinya bakal membuat selera makan Anda menjadi-jadi. Pasalnya, olahan iga sapinya terasa empuk sekali. Hanya dengan dua sentuhan jari tangan kita, daging iga mudah terkelupas dari batang tulang.

Hal yang membuat iga sapi penyet jadi dambaan adalah sambalnya yang terkenal pedas. Bisa dipastikan rasa pedas ini yang membuat orang lahap ketika menyantapnya. Namun, bagi yang tidak terbiasa dengan sambal pedas, tersedia sambal tomat.
Rasa pedas ini memang dipertahankan sedari awal. Ada 4 macam sambal yang bisa disesuaikan dengan selera pelanggan yaitu, sambal tidak pedas, sedang, pedas, dan ekstra pedas.

Menurut pemiliknya, pelanggan yang datang ke Warung Léko pasti mencari iga penyet. Tapi, banyak menu andalan lain yang tidak kalah dari iga penyet, sop iga misalnya. Karena disajikan di atas kompor, sop iga ini tetap hangat sehingga aroma kuah dagingnya tetap terasa sepanjang kita menikmatinya. Untuk menu sop iga, selalu ditemani sambal, suwiran daun bawang, dan jeruk nipis.

Di Warung Léko, ayam penyet, gurame penyet, otot penyet, untuk menyebut beberapa, adalah menu yang juga banyak dipesan selain iga penyet tentunya. Selain menu tadi, jangan Anda lewatkan cah kangkung yang ijo royo-royo dan cah toge.

Tapi, untuk minuman, Warung Léko menyajikan menu pada umumnya seperti, kelapa ijo, es cincau susu, teh tubruk, es teh manis dan aneka jus. Ketika Adinfo menanyakan kenapa menu minuman tidak spesial seperti iganya, pemiliknya hanya menjawab, “Kalau ke Léko, yang dicari iganya bukan minumannya.”

Di balik rahasia cita rasa khas Warung Léko, adalah keistimewaan bumbunya yang didatangkan langsung dari Surabaya. Hal ini berlaku untuk semua Warung Léko di manapun. “Rahasia bumbu dipegang mamah saya. Saya sebagai anaknya sendiri tidak tahu,” terang pemiliknya memberi sedikit bocoran pada Adinfo.

Meski baru dibuka 25 Maret lalu, Warung Léko yang juga akan hadir di wilayah Puri Kembangan , Jakarta Barat ini, sudah memiliki banyak pelanggan dari Pluit, Muara Karang, PIK dan sekitarnya. Pada hari-hari biasa, 150 kilogram iga sapi, atau setara dengan 400 porsi, bisa habis untuk memenuhi selera pelanggan yang datang. Sedangkan pada Sabtu dan Minggu, bisa habis sekitar 560 porsi. Seringkali, mereka yang mau menikmati iga sapi di akhir pekan harus buru-buru kalau tidak mau masuk waiting list.

Dari pada menambah kebingungan tak berpangkal, silahkan datang dan rasakan sendiri menu Warung Léko yang buka dari pukul 11.00 - 10.00 malam. Selain bisa dinikmati di tempat, Warung Léko juga menerima pesan antar dengan minimum pemesanan 3 porsi iga penyet untuk wilayah Pluit dan sekitarnya.


Read More ..

Menunggu Panas, Mengais Rezeki

Panas matahari siang itu tidak sampai menusuk ubun-ubun kepala. Teriknya sedikit bersahabat bagi kebanyakan warga ibukota. Tapi, tidak bagi mereka para pengasin ikan di Muara Angke. Hanya dengan terik yang menyengat, rezeki mereka tersurat.

Bagi para pengasin, “berjemur” membalik ikan agar cepat kering adalah hal biasa. Tak kecuali bagi penarik gerobak yang membawa ikan dari pelelangan menuju tempat penjemuran ikan. Terik yang membuncah, bagi mereka, seakan sudah menjadi anugerah. Tak peduli walau badan harus menghitam.

Faktor cuaca yang panas, oleh kebanyakan pengasin ikan Muara Angke, adalah rahmat. Mafhum saja mengingat mereka masih mengandalkan sinar matahari sebagai media alami mengeringkan ikan. Cara tradisional seperti ini hampir menjadi jurus pamungkas para pengasin ikan.

“Kalau panas sekali, waktu dua hari cukup untuk menjemur ikan. Tapi kalau cuaca mendung, apalagi hujan, perlu waktu berhari-hari agar kering. Kalau sudah begini, tidak ada cara lain kecuali menunggu terang,” kata H. Syarifuddin salah seorang pedagang ikan asin yang menjadi salah satu sesepuh di situ.

Cara tradisional mengeringkan ikan seperti ini pernah dicarikan jalan keluarnya oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI. Lewat pengurus Pengelola Hasil Perikanan Tradisional (PHPT), beberapa ahli diundang memberikan penyuluhan pada nelayan dan pengasin tentang cara mengolah ikan yang baik. Misalnya, jurus mengeringkan ikan lewat teknologi oven.

Namun, rumusan penyuluh di atas kertas jauh dari realitas di lapangan. Cara ini pernah diujicobakan pada mereka, tapi tidak bertahan lama. Yang ada, oven yang semula digunakan sebagai pengering ikan, sekarang teronggok begitu saja tidak terpakai.

Alasannya, secara kuantitatif, mengeringkan dengan oven hanya cukup menampung 1 - 2 kuintal ikan saja. Lain halnya jika ikan dikeringkan di atas penjemuran yang bisa mencapai puluhan ton. Lagipula, ketika musim ikan tiba, tidak semua orang bisa menggunakan oven pengeringan.

Dari segi rasa, ikan asin yang dijemur di bawah sinar matahari lebih gurih dan nikmat. Jauh dibandingkan ikan yang dikeringkan dengan oven. “Ikan yang dioven tidak ada rasanya. Hanya menang kering,” kata H. Syarifuddin sesekali mengisap rokok kreteknya dalam-dalam.

Lokasi pengolahan ikan asin Muara Angke yang berdiri tahun 1984, sejak awal diperuntukan untuk memfasilitasi para pengolah ikan agar produksinya bisa terkontrol kebersihannya. Berbagai jenis ikan asin, pindang, dan asap dihasilkan di sini. Beberapa toko banyak yang menjual ikan asin dalam partai besar maupun eceran. Di atas lahan seluas 4,5 hektar ini, para pedagang dan pengasin mencari banda untuk diri dan sanak saudara.

Para nelayan dan pengasin ikan di Muara Angke hidup di atas tanah pemerintah. Mereka harus mengeluarkan biaya sewa lahan sebagai tempat menjemur ikan. Antara tahun 1984 - 1999, para pengolah membayar sewa Rp 26.000/bulan. Namun, sejak tahun 2000 sampai sekarang sewanya dinaikkan menjadi Rp 50.000/bulan. Luas tiap unit 5 x 6 meter persegi.

Sebelum mendarat di Muara Angke, para nelayan dan pedagang ikan ini tinggal di Kali Baru, Cilincing, Jakarta Utara. Namun, pada 1990, mereka dipaksa angkat kaki karena di atas lahan yang mereka tinggali sekarang dibangun mega proyek pemerintah, Kawasan Briket Nusantara Marunda. Sebagian yang tidak tergusur tetap bertahan. Sedangkan yang tersisih harus pindah ke Muara Angke.

Usaha Turunan
Potensi ikan Muara Angke sungguh luar biasa. Menurut penuturan H. Syarifuddin, untuk pengasinan ikan, Muara Angke adalah tempatnya. Karena itu, Muara Angke menjadi terminal terakhir nelayan menjual hasil lautnya. Tak heran para nelayan Cilincing dan Marunda datang ke sini menjual hasil tangkapannya.

Produksi ikan asin Muara Angke antara 30-40 ton per hari. Terdiri atas berbagai jenis ikan, antara lain jambal, teri, cunang, cumi, pari dan tembang. Jumlah ini bisa bertambah ketika musim panen ikan yang jatuh Mei - Agustus. Tapi, memasuki 3 bulan di akhir tahun, jumlah ikan akan turun drastis. Selama tiga bulan ini, nyaris aktifitas menjemur ikan berhenti. Kalaupun ada, paling banyak 1 - 2 ton saja.

Harga ikan asin di sini tergantung dari jenis ikan dan musimnya. Musim seperti ini, harga per kilo ikan tenggiri sekitar Rp 45 ribu, jambal Rp 27 ribu, cumi Rp 30-35 ribu, tembang Rp 3 ribu dan ikan beesan (biasanya dipakai membuat pelet) Rp 1.500.
Para nelayan ini bergabung dalam Koperasi Mina Jaya yang tidak menangani pemasaran dan produksi, melainkan hanya menyediakan fasilitas pengolahan secara kredit seperti, garam atau uang untuk membeli bahan baku dari nelayan.

Namun, posisi koperasi ini sekarang tidak sentral seperti dulu. Tidak semua pedagang ikan menggunakan jasa koperasi. Pasalnya, sekalipun tanpa meminjam kredit dari koperasi, para pedagang bisa meminjam cukup dengan menghutang dari pedagang lainnya. Model kedekatan dan kepercayaan satu sama lain adalah salah satu cara mendapat pinjaman yang berjalan selama ini.

Ada belasan pedagang ikan asin ada di sini. Kebanyakan datang dari daerah pantai utara Jawa. Tidak semuanya pedagang besar, banyak juga yang kecil. Pedagang seperti H. Syarifuddin, misalnya, hanya menjual ikan untuk pembeli lokal. Ada juga pedagang yang menjual ikannya sampai ke Lampung. Biasanya diangkut 2 - 3 truk sekali kirim.

Tapi, pedagang seperti H. Syarifuddin mampu membesarkan keenam anaknya. Beberapa lulus di perguruan tinggi dan berdagang, bahkan ada yang menjadi polisi. Dengan kondisinya sekarang ini, dirinya masih mampu menggaji 5 karyawannya masing-masing Rp 1 juta. Gaji yang mereka terima sudah bersih, di luar makan dan rokok.

Kadang-kadang, kalau penjualan lagi bagus, para pengasin diberi uang jajan. Besaran gaji, biasanya naik sesuai musim ikan. Meski hanya sebagai pekerja pengasin, mereka selalu mendapat tunjangan hari raya dari majikannya, para pedagang.

“Membedakan pedagang besar dengan kecil patokannya cukup mudah. Kalau ikannya dikirim sampai ke Lampung itu besar. Karena ikan yang dikirim bisa terangkut oleh dua sampai tiga truk sekali jalan,” ujar H. Syarifuddin.

Selain Lampung, pasokan ikan Muara Angke juga memenuhi pasar lokal seperti Bandung, Serang, Garut, dan sekitarnya. Ada juga yang diproduksi keluar pulau dan kebutuhan ekspor.

“Dulu, menjadi pedagang ikan asin cuma modal dengkul. Kalaupun ada itu hanya kepercayaan. Tapi, untuk sekarang, kepercayaan saja tidak cukup. Sekarang banyak hal sudah berubah. Perlu modal besar,” kenang kakek dengan 12 cucu ini.

Selain modal dengkul, seperti yang dialami H. Syarifuddin, usaha pengasinan ikan adalah warisan turun temurun. Tidak sedikit pedagang sekarang adalah pewaris dari orang tuanya yang dulu menjadi pedagang ikan asin. Salah satunya adalah Hj. Eti, pewaris dan anak dari Hj. Uniah. Hj. Eti merupakan satu dari sekian pedagang besar yang biasa mengirimkan barangnya ke Lampung. Kini karyawannya mencapai belasan orang.

Menurut penuturan warga kampung nelayan, nelayan, pengasin dan pedagang Muara Angke kebanyakan datang dari Indramayu. Khusus pedagang, mereka datang dari Kampung Parean, salah satu kampung nelayan di Indramayu. Ada juga yang datang dari Serang, Tangerang, Tegal, dan Pekalongan.

Selain berdagang ikan, mereka juga berdagang garam yang dipakai untuk mengasinkan ikan. Barangnya mereka datangkan langsung dari Indramayu dan Cirebon. Awalnya, mereka mengambil dari koperasi. Namun, karena urusan pembayaran dan administrasi yang panjang, telah memaksa mereka mendatangkan garam dari kampung halamannya.

Sekarang, setelah digunakannya penyimpanan ikan di ruang pendingin (cold storage) keadaan berubah. Ruang pendingin ini dipakai mengawetkan ikan sehingga tekstur ikan terjaga dari kelayuan. Dengan pendingin, ikan atau cumi bisa bertahan 1 - 2 bulan.
Bagi pedagang kecil, cara ini tidak bisa ditempuh karena terbatas modal. Hal ini juga yang menyebabkan pemasukan mereka menurun. Butuh modal besar untuk memasukkan ikan ke sana. Memang, ikan yang disimpan dengan pendingin hasilnya bagus. Untuk yang bermodal besar, tidak sulit menempuh jalur ini.

Melihat kondisi tersebut, kontribusi pemerintah dalam pengadaan ruang pendingin dengan harga terjangkau mampu menaikkan harga ikan para pedagang kecil. Sehingga secara ekonomi, mereka juga terangkat. Sebagai negara kepulauan, pemerintah sudah saatnya mencari jalan keluar agar produksi hasil laut tangkapan nelayan memiliki daya jual. Saat ini saja, produksi ikan asin dari Muara Angke belum bisa masuk pasar ritel modern. Sayang. Potensi yang begitu besar, belum tergarap maksimal.

Read More ..

Flu Babi Mengintai Kapuk

Belum lama flu burung hilang, kini datang flu babi membawa antipati. Begitulah pandangan seragam masyarakat Kapuk, Jakarta Barat, yang resah mengingat Rumah Pemotongan Hewan atau RPH babi berada di kampungnya.

Meski belum sampai ada orang yang dicurigai menderita atau terinfeksi flu Meksiko, virus yang juga disebut A H1N1 ini bagai mimpi buruk buat warga Kapuk.

Pertimbangannya, bau tak sedap hampir sepanjang musim membuat warga Kapuk berpahit lidah kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memindahkan RPH yang tidak memenuhi standar kebersihan lingkungan tersebut.

Salah satu warga Kapuk, Nurachmat, mengatakan sudah puluhan tahun lebih warga mengeluhkan kondisi tersebut. Setiap hari warga dipaksa mencium bau menyengat yang berasal dari rumah pemotongan hewan itu.

"Karena itu, kami minta RPH tersebut dipindahkan. Sebab, limbahnya ke mana-mana. Apalagi kalau hujan, darah dan isi potongan perut babi ke mana-mana," kata Ketua RW 04 ini. Tuntutan itu menguat bukan saja lantaran bau tak sedap, tetapi saluran pembuangan limbahnya tidak memenuhi standar dan membahayakan kesehatan warga sekitar.
Sebagai bentuk kesigapan, Pemerintah Administrasi Jakarta Barat membentuk tim yang terdiri dari Suku Dinas Peternakan dan Perikanan, Sudin Kesehatan, Kantor Pengelola Lingkungan Hidup, dan Puskesmas.

Dalam tinjauan ke RPH Kapuk, tim gabungan ini mendapatkan Instalasi Pengolahan Air Limbah atau IPAL di RPH babi Kapuk yang tidak berfungsi. Lahan IPAL bahkan ditumbuhi alang-alang setinggi 30 sentimeter dan tercemar kotoran. Ditambah lagi pompa IPAL yang tidak berfungsi.

Kondisi demikian membuat RPH babi Kapuk terlihat kumuh karena limbah yang dihasilkan RPH itu dibuang tidak pada tempatnya. Akibatnya, saluran air di sekitar RPH yang seharusnya steril dari limbah menjadi tercemar dan menimbulkan bau tidak sedap. Ini menjadi catatan bagi tim untuk segera dicarikan jalan keluar.

"Saya memberi waktu satu bulan kepada pengelola RPH babi untuk memperbaiki IPAL yang dimiliki," ujar Kepala Kantor Pengelola Lingkungan Hidup Jakarta Barat, Yosiono Anwar Supalal,.

Kepala RPH Babi Kapuk, Widanardi, mengakui kalau IPAL di RPH babi Kapuk memang tidak berfungsi sejak lama. Namun hal itu bukan faktor kesengajaan dari RPH, melainkan karena mereka belum memiliki dana yang cukup untuk memperbaiki, karena biaya yang dibutuhkan memperbaiki IPAL cukup besar. Kendati begitu, Winardi berjanji akan segera mencari cara agar IPAL di RPH babi Kapuk bisa segera diperbaiki. "Kami akan berusaha memperbaiki IPAL tersebut dalam satu bulan," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI, Dien Emmawati mengatakan, manajemen Dinkes serta Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) dan seluruh Puskesmas telah siap menghadapi kemungkinan timbulnya penyakit flu babi di Jakarta. Bahkan, Dinkes mengumpulkan petugas Puskesmas kecamatan dan kelurahan serta Sudinkes untuk mengikuti sosialisasi flu babi.

Materi yang disosialisasikan menyangkut pemberitahuan kepada setiap pasien yang datang mengenai apa itu flu babi, gejalanya, dan pencegahannya. Jika ada warga yang diduga terkena flu babi, Dinkes DKI sudah menyiapkan dua rumah sakit rujukan yaitu, RS Sulianti Saroso dan RS Persahabatan.

Dari Kapuk ke Ciangir?
Tidak hanya warga Kapuk yang tak puas. Wali Kota Jakarta Barat, Joko Ramadhan juga menyampaikan keberatan warganya terhadap keberadaan RPH babi kepada Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto dalam Musrenbang (Musyawarah Rencana Pembangunan) tingkat provinsi. Selain bau dan limbah, sebagian besar warga yang beragama Islam merasa terganggu dengan banyaknya jumlah babi di RPH itu.

”Jakarta adalah kota metropolitan, tidak selayaknya ada RPH babi di kota ini. RPH sebaiknya direlokasi ke kota lain dan Jakarta hanya menerima kiriman dagingnya,” kata Joko.

Menindaklanjuti hal ini, Pemprov DKI akan merelokasi rumah jagal babi dari Kapuk ke Ciangir, Tangerang, menyusul desakan penduduk sekitar Kapuk yang khawatir akan risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh fasilitas tersebut.

Hal itu ditegaskan langsung Prijanto usai menghadiri Musrenbang di Balai Agung, DKI Jakarta, Selasa (5/5). Menurut Prijanto, lahan miliki Pemprov DKI yang nantinya bakal RPH Kapuk seluas 100 hektare. Lahan ini akan menyatu dengan tempat pengolahan sampah terpadu (TPSP) dan RPH ayam.

“Nanti, kita jadikan satu di Ciangir. Di sana kan jauh dari permukiman. Tapi diberi jarak antara RPH ayam dan RPH babi. Usulan ini sudah kami sampaikan ke Pemkab Tangerang, tapi belum mendapatkan persetujuan," ujarnya di Jakarta.

Prijanto menjelaskan, relokasi itu diperkirakan membutuhkan dana APBD DKI sekitar Rp10 miliar. Sayang, dia tidak menjelaskan kapan persisnya relokasi RPH Kapuk akan dilakukan, apakah tahun ini atau tahun depan.

Ketika ditemui terpisah, Kepala Dinas Kelautan, Peternakan dan Ketahanan Pangan DKI Edy Setiarto, mengatakan relokasi tidak dilakukan dalam waktu dekat karena saat ini pemprov telah merevitalisasi RPH Kapuk dengan dana sebesar Rp 3 miliar.

Selain itu, Dinas KPKP DKI mengintensifkan agar seluruh petugas di RPH babi menggunakan alat pelindung. Setiap hari, petugas harus melakukan pembersihan dan menyemprot desinfektan. "Biasanya pemotongan dilakukan pukul 14.00, setelah selesai seluruh petugas wajib membersihkan diri," tegasnya.

Sebelumnya, petugas penyembelih tak menggunakan pelindung sama sekali, kini seluru petugas diwajibkan menggunakan masker dan sepatu bot.

Mengenal flu babi
Setelah endemi flu burung merebak ke Indonesia, kini giliran flu babi membuat resah masyarakat kita. Hal itu terlihat dari sikap waswas masyarakat yang tinggal dekat peternakan atau kandang babi. Karena terlanjur resah, masyarakat menuntut agar dilakukan penutupan tempat atau kandang babi.

Tapi, tahukah masyarakat apa itu flu babi? Seperti diambil dari beberapa sumber, flu babi adalah penyakit flu yang disebabkan oleh virus influenza tipe A. Virus ini termasuk dalam keluarga Orthomyxoviridae. Virus flu babi masih satu genus dengan virus penyebab flu burung. Badan Kesehatan Dunia, WHO, membenarkan bahwa setidaknya sejumlah kasus adalah versi H1N1 influenza tipe A yang tidak pernah ada sebelumnya.
Virus influenza A ini menjadi perhatian karena galur virus yang berbeda menyebabkan influenza pada unggas, kuda dan babi. Flu babi merupakan salah satu penyakit zoonosis yang ditakuti selain flu burung karena dapat menginfeksi manusia.

Infeksi pada manusia relatif menyerang tukang potong dan peternak babi. Biasanya, mereka yang terserang flu babi akan mengalami penyakit pernafasan, demam, lesu, letih, nyeri tenggorokan, penurunan nafsu makan, dan mungkin diikuti muntah, mual dan diare. Penularan dari manusia ke manusia biasanya terbatas dan belum ada catatan pasti.

Sampai saat ini, wabah flu babi telah memakan banyak korban di negara asalnya Meksiko dan negara bagian Amerika juga Eropa. Di Meksiko, korban yang meninggal sudah mencapai 68 orang dan 20 orang positif flu babi. Sedangkan 1004 lainnya terinfeksi. Data ini bisa bertambah mengingat penyebaran flu babi sangat cepat.

Sementara di Amerika, jumlah korban yang terinfeksi flu babi berjumlah 8 orang di negara bagian Texas dan California. Meski belum diketahui pasti apakah status flu babi bisa menjadi pandemik seperti flu burung, langkah antisipasi dan pencegahan tetap harus digalakkan pemerintah dan warga. Karena itu, sosialisasi pemerintah kepada warga tentang flu babi dan cara pencegahannya menjadi penting.

Sebagai wujud tanggap terhadap virus ini, pemerintah sudah menyediakan layanan informasi dan penerimaan laporan kasus dugaan infeksi virus influenza tipe A subtipe H1N1 baru. Melalui pusat layanan pesan pendek di nomor 0812-80 000 358/0819-790 4919 dan layanan telepon ke posko KLB Departemen Kesehatan di nomor 021-425 7125, masyarakat bisa melaporkannya.

Tiga Jurus Mencegah Flu Babi

Seperti yang dilansir melalui Huffington Post, ada beberapa langkah pencegahan penularan flu babi yang dapat dilakukan :
1.Menjaga kebersihan tangan dengan selalu mencuci tangan. Meski sepele, mencuci tangan selama 20 detik ternyata ampuh menahan penyebaran virus yang bisa masuk melalui tangan yang terkontaminasi virus.
2.Hindari kontak dengan dengan orang-orang yang sedang tidak sehat. Begitu pula jika Anda sedang sakit, sebaiknya beristirahat dan menjauh dari tempat-tempat keramaian. Hal ini akan mencegah Anda terinfeksi virus ataupun menginfeksi orang lain.
3.Terakhir, kenali gejala penyakitnya dan segera berobat seandainya Anda menemukan tanda-tanda mengidap penyakit tersebut. Flu babi memiliki gejala mirip dengan flu pada umumnya seperti demam, sakit badan, sakit tengggorokan, batuk, berak bahkan muntah.

Read More ..

Sawasdee di Surganya Kuliner Thailand

Thailand bukan hanya terkenal dengan Bangkok-nya yang kosmopolitan. Bukan pula karena Phuket dan Krabi yang memiliki pantai-pantai terbaik di dunia. Tapi, negeri Gajah Putih ini pun sangat populer dengan kekayaan kulinernya yang kental rasa rempah-rempah.

Kuliner Thailand tidak terlepas dari masyarakatnya yang terbilang “doyan makan”. Makanya, tidak heran bila di negeri seluas 510.000 kilometer ini banyak berdiri rumah makan. Dari kelas “jalanan” sampai restoran sekelas Royal Dragon yang menurut Guiness Book of Records merupakan restoran terbesar di dunia.

Hidangan khas Thailand seperti, Kai Ho Bai Toei (ayam bungkus daun), Thotman Plakrai atau Thotman Kung (ikan atau udang goreng ala Thai), berbagai jenis Yum (selada Thai), dan aneka jenis Tom yam (sup asam manis) merupakan beberapa menu yang patut dirasakan.

Di Jakarta sendiri, tidak banyak dijumpai restoran yang menyediakan menu khas Thailand. Padahal, cita rasanya sangat spicy dan dekat dengan “lidah” orang Indonesia. Beruntung buat mereka yang tinggal di Tanjung Duren dan sekitarnya. Karena di Jalan Tanjung Duren Utara IV No. 227B, terdapat sebuah restoran otentik Thailand dengan nama Royal Thai.

Eksotika kuliner Thailand memberikan inspirasi usaha bagi pemilik Royal Thai. Dia yang gemar berwisata kuliner ini membuka Royal Thai sekitar sebulan lalu. Menurutnya, restoran ini merupakan resto otentik yang rasa hidangannya tidak berbeda dengan yang ada di Thailand. “Rempah dan bumbunya kami impor langsung dari Thailand dan diolah secara khusus,” katanya.

Pemilik resto ini sering berkelana mencari tempat-tempat makan yang enak. Dia suka sekali mencoba hidangan-hidangan “baru”, makanya Royal Thai pun dicitrakan sebagai tempat makan bagi para pengelana kuliner. “Food adventure start here”.

Meski Royal Thai dibuat identik dengan Istana Grand/Royal Palace, tapi restoran berkapasitas 40 orang ini bukanlah kategori tempat makan yang “mahal”. Pemiliknya sengaja membuat Royal Thai lebih familiar dengan semua kalangan. “Ngga mahal, ngga murah. Relatif terjangkaulah,” ungkapnya.

Sawasdee
Sawasdee Ka adalah ucapan selamat datang berbahasa Thailand yang kerap dikatakan ketika Anda menginjakkan kaki di Royal Thai. Begitu juga ketika Anda pulang, ucapan Kop Kun Ka yang artinya terima kasih, akan terdengar di telinga Anda. Bahasa tersebut sengaja digunakan untuk menambah karakteristik restoran ini sebagai resto otentik Thailand.

Meski begitu, Royal Thai tidak seratus persen seperti resto di Thailand yang pada umumnya bernuansa remang-remang dan gelap. Di sini kita akan menemukan suasana seperti resto kebanyakan di Jakarta. Bergaya minimalis dengan warna yang membuat kita nyaman dalam bersantap. “Konsepnya minimalis, tapi ringan. Tadinya mau dibuat dengan konsep tradisional, cuma takut terlihat mahal,” cerita pemiliknya.

Pilihan tempat duduk pun ada ragamnya. Bila kita senang duduk di sofa yang empuk, bisa memilih tempat yang bersandar dengan dinding. Buat Anda yang terbilang masih asing dengan menu khas Thailand, foto-foto di dinding bisa menjadi petunjuk. Semua foto yang dipajang merupakan menu-menu yang diunggulkan Royal Thai.

Ada cukup banyak menu otentik Thailand yang ditawarkan resto dengan simbol mahkota dan lotus ini. Di antara yang disodorkan Pemilik Royal Thai adalah Sop Tom Yam yang dibedakan dengan Sop Tom Yam Kung (isinya hanya udang galah) dan Sop Tom Yam Seafood (baso, ikan, cumi, kerang, udang, jamur).

Sop ini berbeda dengan yang biasa disajikan resto chinesse food kebanyakan. Bumbu dan rempah yang digunakan asli dari Thailand dengan kombinasi resep khas Royal Thai ditambah kaldu udang asli yang membuatnya lebih gurih. Rasanya sedikit asam dan pedas. Wangi rempahnya sangat khas sehingga menimbulkan kesan segar. Bumbu yang digunakan pun terbilang bercita rasa “berani”.

Dalam penyajiannya, sop yang ditempatkan dalam satu mangkok, dipadukan dengan daun seledri, bawang putih tumbuk, daun sereh, dan daun ketumbar. Hal yang istimewa adalah meski isinya berbagai seafood, tapi dijamin tidak ada bau atau rasa amis ketika disantap. “Biasanya sop ini dijadikan menu pembuka bagi masyarakat Thailand. Rasanya yang segar, menjadi pembangkit selera buat setiap orang,” ujar pemiliknya.

Sapi Panggang Thailand
Setelah mencicipi menu pembuka yang rasanya membangkitkan selera, sekarang kita coba menu utama yang disediakan Royal Thai. Pemilik Royal Thai lebih merekomendasikan Sapi Panggang Thailand, Gurame Salad Mangga, Kepiting Kare, dan Kare Ijo untuk dicoba AdInfo.

Tidak lama menunggu, menu yang pertama keluar adalah Sapi Panggang Thailand. Daging sapi yang digunakan dalam menu ini adalah bagian khas dalam tanpa lemak atau biasa disebut tenderloin. Penyajiannya, daging panggang yang sudah dipotong-potong, disandingkan dengan daun selada dan daun ketumbar.

Menurut Pemilik Royal Thai, cara pembuatannya tidaklah susah. Sebelum dipanggang, daging terlebih dahulu direndam dalam bumbu tertentu selama kurang lebih 3 jam. Setelah matang, lalu disajikan dalam piring yang kemudian disiram sambal. Sambal yang disiram segaris di atas daging, terbuat dari cabe ijo dan merah, jeruk nipis, serta bawang putih.

Mengenai rasanya, ada campuran manis, asam, dan pedas, dagingnya pun cukup empuk di dalam dan terasa kering di luarnya. Setiap gigitan daging panggang ini, sangat terasa gurihnya. Tidak rugi bila kita harus merogoh kocek Rp 36 ribu untuk satu porsinya.

Kare Hijau
Kare Hijau merupakan menu berikut yang disodorkan pada AdInfo. Karena berkuah, Kare Ijo disajikan dalam sebuah mangkuk dan terlihat sangat menggiurkan. Saking nikmatnya, kata pemilik Royal Thai, ada salah satu pembeli yang tergila-gila dengan kuahnya. “Dia makan dan menyeruput kuahnya sampai tetes terakhir,” katanya.

Kare Hijau tidak lain adalah daging sapi atau daging ayam (tergantung pilihan) yang dimasak berkuah santan dengan campuran cabe hijau yang sudah dihaluskan. Selain daging, dalam satu porsinya, dicampur potongan terong, lenca, dan daun kemangi.

Rasa yang paling menonjol dari menu ini adalah gurihnya yang terpadu dari daging dan kuah bersantan. Racikan bumbu rempah-rempahnya terasa sekali dan kental. Sehingga sayang bila tidak disantap habis sampai tetes terakhir. Menu seharga Rp 32 ribu ini sangat pas bila dimakan dengan nasi. Sama halnya dengan Sapi Panggang Thailand di atas.

Selain menu-menu yang telah dijabarkan, masih ada lagi menu favorit yang tidak boleh ketinggal untuk dicoba. Seperti telah disebutkan, ada Gurame Salad Mangga yang berupa gurame goreng krispi dengan mangga muda, atau Kepiting Kare yang dimasak dengan kare, santan, saos Thailand, dan telur. Menu kepiting ini disajikan berkuah dengan taburan daun bawang.

Sebagai penutup, bisa dicoba Singkong Thai yang direbus dan dihidangkan dengan santal kental. Rasanya manis dan gurih. Bisa pula Es Campur yang terbuat dari cendol khas Royal Thai, kelapa muda, dan “home made” merah delima. Atau langsung menenggak Thai Ice Tea yang berwarna oranye dengan campuran gula dan susu. Teh yang digunakan asli di datangkan dari negeri asalnya.

Buat Anda yang ingin mencoba menu Royal Thai, berlaku diskon 20% untuk setiap pemesanan sampai akhir Mei 2009. Kemudian, setiap jumlah pembelian Rp 50 ribu, Anda bisa membeli Sop Tom Yum atau Pad Thai Noodle hanya seharga Rp 5000.

Di samping menu-menu di atas, resto yang dilengkapi free Wi-Fi ini juga menyediakan lunch set berupa, Nasi Cumi Goreng Tepung, Nasi Ayam Panggang Thai, Nasi Ayam Kemangi dan berbagai hidangan Kwee Tiau lengkap dengan minuman hanya seharga Rp 20 ribu. Anda ingin menikmati hidangan Thai, silahkan mencoba dan “Be a real food adventure” bersama Royal Thai.

Read More ..

About This Blog

  © Blogger template 'Ultimatum' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP