Xiang Man Lou Restaurant

Menikmati Tahu Rumput di Resto Wangi

Restoran makanan China atau lebih dikenal dengan Chinesse food, tidak terbilang jumlahnya di kawasan Pluit. Dari yang kaki lima sampai restoran berkelas fine dinning, mudah sekali ditemui di daerah Jakarta Utara ini.

Sayangnya, hanya sedikit tempat makan yang memiliki tempat parkir cukup luas. Sehingga sering kali mengganggu kenyamanan pengunjungnya. Apalagi bila restoran yang diminati terletak di pinggir jalan, rasa was-was terus membayangi saat kita bersantap.

Sekedar menyebutkan contoh, di Jalan Pluit Sakti, Pluit, kalau kita menyusuri jalan tersebut, akan ditemukan berbagai tempat makan Chinesse food yang memiliki sedikit lahan sebagai tempat parkir. Lain halnya kalau kita berbelok ke Jalan Taman Pluit Kencana, di sana kita akan menjumpai sebuah restoran yang bukan hanya memiliki tempat parkir yang luas, tapi juga jauh dari hiruk pikuk jalan utama.

Xiang Man Lou Restaurant atau yang dalam bahasa Indonesianya berarti restoran penuh wewangian ini memiliki 2 jalur tempat parkir di depan restorannya. “Belum lagi area di pinggir jalan. Selain leluasa, parkir di sini juga aman,” kata Manajer Xiang Man Lou Restaurant, Rita. Xiang Man Lou Restaurant

Read More ..

Apakah Anda Pria Pemimpin?

Kalau Anda adalah pembaca setia Hitman System, seharusnya sudah mengerti bahwa apa yang membuat wanita tertarik pada pria itu tidak ada hubungannya dengan ketampanan, perut six-pack atau jumlah tabungan yang melimpah. Wanita tertarik pada pria yang memiliki kepribadian bersinar – glossy.

Salah satu unsur kepribadian glossy adalah leadership, kepemimpinan. Seorang pria glossy adalah pria yang dapat memimpin, bukan saja dirinya sendiri, tapi juga orang-orang di sekitarnya dan yang pasti, para wanita. Para ahli ilmu sosial berkata, kebobrokan yang terjadi pada dunia kita dewasa ini adalah karena kita kekurangan sosok pemimpin. Stok pemimpin sangatlah terbatas. Itu sebabnya semua orang selalu tertarik pada sosok seorang pemimpin yang kharismatik, karena mereka adalah mahluk langka. Hal yang sama juga berlaku dalam masalah romansa, wanita selalu menginginkan sosok pria pemimpin. Apakah Anda Pria Pemimpin?

Read More ..

Mengapa Wanita Tertarik Pada Pria Egois

Anda tertarik dengan seorang wanita. Dia menerima semua perhatian yang Anda berikan, bersedia diajak pergi nonton atau makan malam, saling berbagi cerita dan tertawa. Sepertinya semua berjalan dengan lancar. Tapi ketika akhirnya Anda menyatakan keinginan menjalin hubungan lebih dekat, dia menolak Anda.

Saya yakin Anda pernah mengalami kejadian seperti di atas. Dan salah satu pertanyaan Anda adalah: "Kalau memang dia tidak tertarik dengan saya dari awal, KENAPA dia terus memberikan respon positif dan harapan-harapan kosong?"

Apakah wanita tahu ketika Anda sedang melakukan pendekatan? Apakah mereka tahu dari awal kalau mereka akan menolak Anda? Apakah mereka tahu bahwa ujungnya akan berakhir seperti itu?

Jawaban dari semua pertanyaan di atas adalah: YA!

Sejak pertama kali bertemu Anda, wanita hanya butuh waktu kurang dari 10 menit untuk memutuskan apakah dia akan mencoba melanjutkan hubungan atau menolak Anda. Lalu mengapa dia terus memberikan respon positif kalau akhirnya harus menyakiti Anda? Mengapa Wanita Tertarik Pada Pria Egois

Read More ..

Penyewaan Gedung Serba Guna

All In One, Ngga Perlu Repot

Bila hanya menggelar acara bersama keluarga, mungkin kita bisa melaksanakannya di rumah. Geser perabotan sana-sini, kegiatan sudah bisa dilangsungkan.

Lain halnya kalau kita ingin merayakan resepsi pernikahan, meski bisa juga diadakan di rumah, tapi banyak masyarakat yang memakai gedung serbaguna sebagai tempat resepsi. Selain ruangannya yang lebih besar, gedung dinilai lebih praktis, strategis, dan mudah ditemukan alamatnya.

Di samping itu, gedung serba guna juga kerap kali digunakan untuk seminar atau presentasi yang dihadiri banyak orang. Karena alasan-alasan di ataslah, properti ini disukai banyak masyarakat.

Seperti yang diungkapkan Roni, warga Kembangan ini pernah memakai salah satu gedung serba guna di daerahnya. Menurutnya, kalau kita menggelar pesta pernikahan di gedung, kita tak perlu repot. Semuanya serba praktis. Beda dengan di rumah, setelah acara, kita masih harus membereskan rumah lagi. “Repot, belum lagi kondisi badan kita yang pastinya lelah setelah melangsungkan acara,” ujarnya.

Tapi, lanjutnya, kepraktisan itu memang harus dibayar cukup mahal. Untuk menyewa gedung saja dibutuhkan biaya jutaan rupiah. Apalagi ditambah dengan biaya catering, foto, atau dekorasinya. “Biasanya, kita ngga bisa main harga di situ karena sudah disiapkan rekanan dari gedung,” jelasnya.

Gedung serba guna jamak menyediakan perusahaan/jasa rekanan dalam memberikan pelayanan pada konsumennya. Dengan begitu, masyarakat yang ingin menyewa gedung, tidak perlu repot-repot lagi. Resepsi pernikahan misalnya, setiap orang yang ingin melaksanakannya pasti akan ditawarkan jasa foto atau ketersediaan catering. Mereka (gedung, catering, fotografi) sudah menjalin kerja sama yang bersifat simbiosis mutualis dengan pengelola gedung. Saling menguntungkan dan mempromosikan rekanannya sendiri.

Di komunitas kita, cukup banyak gedung serba guna yang bisa kita sewa. Dari yang menyatu dengan sport center sampai gedung yang memang dikhususkan sebagai tempat pertemuan atau resepsi. Bahkan, ada pula gedung yang menyatu dengan pusat perbelanjaan sehingga tamu yang bertandang lebih mudah menemukannya dan bisa windows shooping setelah acara.

Fasilitas yang tersedia pun cukup memadai sebagai sebuah tempat pertemuan akbar atau resepsi pernikahan. Sekedar menyebutkan contoh, sound sistem, LCD projector, AC, lighting, dan sebagainya sudah disiapkan pengelola gedung sebagai pelengkap penggunaannya.

Tapi memang, semua gedung serba guna tersebut bertarif relatif mahal. Setidaknya, hanya masyarakat berekonomi menengah ke atas yang bisa menikmati gedung tersebut. Sebut saja Grand Intercon, gedung ini menawarkan harga antara Rp 9 - 15 juta sekali pemakaian ruangan selama 3 jam, tergantung dari ruangan dan fasilitas tambahan yang digunakan.

Di samping itu, gedung yang berlokasi di Komplek Intercon Plaza, Meruya ini, juga memiliki paket penyewaan gedung yang nilainya dari Rp 32juta – 89 juta. ”Paket tersebut sudah termasuk pemakaian gedung, catering, dekorasi, dan entertainment,” kata Pengelola Grand Intercon, Lina.

Namun, bagi gedung yang memiliki banyak ruangan, biasanya akan menyediakan paket yang beragam. Artinya, pengelola gedung membedakan harga sewa dari kapasitas dan fasilitas yang tersedia.

Prisma Sport Club di Kedoya, misalnya. Gedung yang berdiri sejak 1989 ini, memunyai beberapa ruangan yang harga sewanya bervariasi. Seperti ruang Prisma Ball Room I yang berkapasitas 1200 orang, ruangan ini disewakan dengan harga Rp 12.500.000/4 jam.

Berbeda dengan Prisma Ball Room II yang berkapasitas 100 orang, ruangan ini disewakan hanya dengan harga Rp 495 ribu/1 jam. Lebih murah dari ruangan yang pertama disebutkan karena memang berbeda kapasitasnya. “Selain kapasitas, kelengkapan ruangan yang diberikan juga berbeda,” ujar Marketing Prisma Sport Club, Aries Faizal.

Bagi yang memiliki bujet terbatas, ada pula gedung yang terbilang cukup murah. Ruang Serba Guna Kampus STT-PLN yang berlokasi di Menara STT PLN, Duri Kosambi, Cengkareng adalah salah satunya. Ruangan seluas 800 meter persegi dan berkapasitas 500 kursi ini disewakan dengan harga Rp 3,5 – 4 juta/hari. Dibandingkan dengan gedung lain yang disewakan selama 3-4 jam, ruang serba guna ini cukup murah karena dibandrol per hari.

Harga yang fleksibel dalam penyewaan gedung pun bisa didapat bila masyarakat ingin melakukan kegiatan yang bersifat amal atau sosial. Gedung World Transformation Centre yang berlokasi di Sentra Niaga Puri Indah, bisa memberikan harga fleksibel untuk acara seperti bazaar atau ramah-tamah. “Harganya fleksibel. Terlebih bagi umum yang ingin menggunakan ruangan untuk kegiatan sosial seperti bazaar, atau ramah tamah,” kata Bagian Umum WTC Indonesia, Aaron.

Begitu juga dengan Cladeo House, ruang serba guna ini cukup fleksibel dengan harga sewanya, apalagi buat masyarakat di Perumahan Taman Surya dan sekitarnya. “Kami memberikan harga yang cukup fleksibel. Dapat disesuaikan dengan even yang ada,” kata Marketing Cladeo House, Lena.

Ruangan serba guna ini, tambah Lena, bisa dimanfaatkan warga Taman Surya untuk berbagai keperluan. Sehingga mereka tidak perlu jauh-jauh bila ingin melangsungkan pesta ulang tahun, pernikahan, latihan tari, dan sebagainya.

“Bila warga sekitar memerlukan tempat untuk seminar, pesta group – group arisan, tidak perlu mencari ke tempat yang jauh karena di Taman Surya telah hadir ruang serba guna yang nyaman dengan harga terjangkau dan fasilitas yang lengkap,” ujar Lena.

Pesan Lebih Awal
Karena jumlah gedung serba guna tidak begitu banyak, ada baiknya setiap orang yang ingin menyewa, terlebih dulu memesan (booking) lebih awal. Apalagi biasanya masyarakat sering melangsungkan acara pada hari yang hampir berbarengan.

Seperti yang dikatakan Aries Faizal, setiap bulannya pasti ada saja yang menyewa gedung. Sedikitnya, sekitar 4 konsumen yang menyewa setiap bulan. Seperti di bulan Oktober, November, dan Desember 2009 nanti, sudah ada yang booking hampir setiap minggu untuk acara pernikahan. “Makanya, kalau ingin menyewa gedung, harus booking beberapa bulan sebelumnya,” tegas Aries.

Mengenai proses penyewaannya, tidaklah begitu rumit. Menurut Lena, masyarakat tinggal datang ke tempatnya. Setelah survey, mereka bisa langsung mengisi formulir penyewaan yang kami sediakan sekaligus membicarakan harga.

Lain halnya dengan cara penyewaan Ruang Serba Guna Kampus STT-PLN. Menurut Kepala Seksi Rumah Tangga Kampus STT-PLN, Sofyan Amir, penyewa diwajibkan membayar biaya sewa ruangan dengan ketentuan seperti pada saat mengisi formulir pernyataan penyewaan gedung. Penyewa wajib membayar uang muka sebesar 50% dari uang sewa. Sedangkan pelunasannya, harus sudah dibayar selambat-lambatnya 2 minggu sebelum hari H.

Menurut Sofyan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan penyewa dalam menghias ruangan atau mendekorasi, tidak boleh memaku tembok dan menggunakan penerangan secukupnya. Segala kerusakan yang timbul selama penggunaan ruangan menjadi tanggung jawab penyewa. “Sedangkan hal-hal yang belum diatur dalam peraturan ini dapat dimusyawarahkan bersama dengan pihak pengelola,” ungkapnya.

Read More ..

Menasbihkan Maaf dan Mudik Sebagai Kultur

Tahun lalu, dan mungkin tahun ini juga, banyak orang bersalaman meminta maaf setelah sholat Ied. Menurut sebagian besar masyarakat, peleburan dosa akan lengkap setelah kita saling bermaafan secara horisontal -sesama manusia.

Bukan hanya dalam lingkup rukun tetangga atau rukun warga, tradisi saling bermaafan ini pun sudah berakar dalam tatanan keluarga. Anak meminta maaf pada orang tuanya, adik saling bermaafan dengan kakak dan saudara lainnya, adalah seremoni yang kerap terjadi di saat Lebaran.

Ditemani berbagai penganan seperti kue kering dan minuman beraneka warna, masyarakat banyak yang seperti berpesta pada hari itu. Merayakan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Belum lagi sajian menu masakan khas seperti ketupat yang ditemani dengan opor ayam atau daging rendang. Sungguh, hari itu merupakan hari terindah dalam satu tahun berlalu.

Kebiasaan ini sudah lama dilakukan masyarakat Islam di Indonesia. Tidak tahu kapan dimulainya. Meski tidak ada hadits atau ajaran nabi Muhammad SAW yang menganjurkannya, tapi saling bermaafan saat Lebaran terus dilakukan sebagai rutinitas yang dianggap sakral.

Padahal, akibat kebudayaan itu, setiap menjelang Lebaran, harga-harga sembilam bahan pokok pasti naik karena tingginya permintaan pasar. Belum lagi adanya “tekanan” secara komunal untuk membeli dan menggunakan yang serba baru. Misalnya, menggunakan pakaian baru, sepatu baru, bahkan mobil, atau rumah baru.

Akibatnya, masyarakat pun menjadi lebih konsumtif dibanding hari-hari biasa. Bahkan, cenderung bertindak boros. Celakanya, trend ini dilakukan secara masif dalam waktu yang relatif bersamaan. Sehingga menimbulkan multipel efek seperti membludaknya orang di pusat perbelanjaan atau lubernya kendaraan di jalan-jalan yang menyebabkan kemacetan luar biasa.

Fenomena ini belum termasuk tradisi mudik yang banyak dilakukan masyarakat Jakarta. Bagi masyarakat pendatang, mudik saat Lebaran adalah keharusan. Mereka rela meski harus mengantri tiket transportasi sampai berhari-hari, bersabar di tengah kemacetan Jalur Pantura, atau menahan pegal karena harus membonceng anak istri dengan sepeda motor.

Semua itu mereka lakukan karena ingin bersilaturahim dan saling bermaafan di kampung halaman. Sadar atau tidak, apa yang mereka lakukan adalah hanya mengikuti tradisi, kultur, budaya yang dibuat oleh masyarakat sebelumnya. Kebiasaan saling memberi maaf yang seharusnya tidak hanya pada saat Lebaran, dikultuskan menjadi fatwa wajib. Padahal kata maaf bisa saja diberi atau diterima kapan saja, tidak harus menunggu Lebaran.

Bukan bermaksud mengharamkan tradisi “maaf” atau “pulang kampung” dalam Lebaran, tapi coba kita lihat dari sisi yang lebih baik. Apakah harus pulang mudik bersama istri dan anak berumur 2 tahun sementara tiket kereta api harganya melonjak 2 kali lipat dari biasanya dengan penumpang penuh sesak? Apakah harus pulang kampung mengendarai sepeda motor dengan mengorbankan kondisi badan kita karena harus menempuh jarak yang jauh? Belum lagi resiko kecelakan yang kerap menghantui di jalan.

Kondisi alat transportasi dan infrastruktur jalan sepertinya juga belum memungkinkan masyarakat berpergian secara bersamaan. Apalagi kalau dibanding dengan jumlah pemudik. Alih-alih mendapat kondisi yang nyaman, mendapat tempat duduk di kereta api atau bis saja, sudah terbilang untung.

Dalam prakteknya, esensi bulan Ramadhan yang identik dengan berpuasa dan sholat Taraweh pun seperti dinomerduakan. Kewajiban dalam berpuasa sering ditinggalkan dengan alasan karena harus berpergian jauh.

Memang, ada adrenalin tertentu menyelubungi masyarakat yang hijrah ke kampung halaman. Sehingga mereka tak menghiraukan hal tersebut, bahkan terus diulang dari tahun ke tahun. “Sengsara” di perjalanan, mereka ubah menjadi perasaan senang dan bahagia.

Secara logis, kita juga tidak akan mengerti kebiasaan tersebut, tapi itulah yang terjadi dalam kultur masyarakat Islam di Jakarta maupun Indonesia. Bila masyarakat (yang biasa pulang kampung-bermaafan saat Lebaran) tidak melakukan hal tersebut, mereka seperti merasa salah, melanggar tradisi, dan “berdosa” pada masyarakat.

Benar apa yang dikatakan Alasdair MacIntyre dalam After Virtue (1981), dia mencoba menunjukkan bahwa moralitas hanya dapat diberi pendasaran dengan mangacu pada tradisi-tradisi historis dengan kebiasaan-kebiasaan etis dan pandangan teleologis tertentu. Tidak ada moralitas an sich, yang ada hanyalah moralitas-moralitas menurut (tradisi atau komunitas) tertentu. Moralitas dipelajari lewat cara hidup komunitas tertentu.

MacIntyre juga mengatakan, apa yang saya pelajari sebagai pedoman tindakanku dan tolok ukur penilaiannya tak pernah moralitas sendiri, melainkan selalu sebuah moralitas sangat khas dalam tatanan sosial sangat khas.

Artinya, segala tindakan, kebiasaan yang dianggap benar adalah yang biasa atau sering dilakukan kebanyakan masyarakat/komunitas. Kita tidak bisa membuat/menilai tingkah laku atau perbuatan yang baik tanpa campur tangan dari masyarakat/komunitas.

Sama halnya dengan saling bermaafan saat Lebaran dan pulang mudik di atas, tradisi tersebut sudah menjadi moralitas yang sangat khas dalam tatanan sosial yang khas pula. Tidak bisa disangkal, meski sejatinya puasa dan Lebaran adalah aturan vertikal, tapi hal tersebut sudah terikat dengan tradisi masyarakat yang sepertinya malah lebih dominan mengatur masyarakat.

Read More ..

About This Blog

  © Blogger template 'Ultimatum' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP