29/06/10

Soto Surabaya dengan Bumbu Tumbuk

Soto bukanlah makanan asing bagi warga Jakarta, baik yang isinya daging ayam atau sapi, cukup banyak peminatnya. Karakteristik rasa dan tampilan menu pun bisa bervariasi berdasar daerahnya.

Bila ingin mencicipi soto Surabaya yang khas dengan taburan koyanya, coba saja datang ke kedai Soto Bumbuk yang berlokasi di jajaran Ruko Taman Palem Lestari, Cengkareng. Di sana, akan dapat dirasakan soto Surabaya yang diolah dengan cita rasa dari pemiliknya, Lina.

Salain rasa, pengolahan bumbu masaknya pun terbilang masih tradisional. Caranya dengan ditumbuk. Dengan begitu, rasanya pun lebih nikmat. “Karena itulah, saya menamai kedai makan ini dengan Soto Bumbuk (Bumbu Tumbuk),” kata Lina.

Istimewanya lagi, meski tempat makan ini berada di ruko dengan pendingin ruangan yang nyaman, tapi harganya bisa dibilang murah. Bahkan, bisa bersanding dengan pedagang kaki lima. Misalnya, harga soto ayam hanya Rp 8000/porsi. Sedang soto ayam mie dan soto ayam lontong, harganya cuma Rp 10.000/porsi. Makanya, Lina menyebut rumah makannya memiliki “Rasa Hotel Bintang 5, Harga Kaki 5”.

Enaknya lagi, Soto Bumbuk juga menyediakan sandingan soto selain nasi. Seperti campuran mie atau lontong. Selain itu, tersedia pula aneka minuman seperti, es jeruk, es cin cau, es agar-agar, dan lainnya.

Makan soto tidak nikmat bila tanpa sambal. Nah, Soto Bumbuk juga punya sambal goreng khas yang terbuat dari cabe rawit merah dengan campuran kuah soto. Rasanya cukup pedas dan masih beraroma soto.

Kemudian, sambil menunggu pesanan, Anda bisa melihat-lihat berbagai produk interior seperti kawat nyamuk, vertical blind, roman shade, krei, dan sebagainya. Produk yang diimpor dari Taiwan ini, sengaja dipajang di ruang makan dan dijual dengan harga mulai Rp 100 – 500 ribu/m2. Tersedia berbagai jenis kain dari kualitas standar sampai deluxe dengan warna-warni yang variatif.

Soto Bumbuk yang baru saja dibuka akhir Mei 2010 ini, buka dari pukul 09.00 – 20.30.

Read More ..

28/06/10

Green Belt Dengan Sejuta Pohon Bakau

Pemprov DKI Jakarta kini memiliki taman wisata alam di daerah konservasi mangrove. Taman seluas 99,82 hektar yang terletak di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara ini, akan menjadi paru-paru kota bagi warga Jakarta.

Panas terik siang menerpa Pantai Indah Kapuk (PIK). Suhu panas saat itu kira-kira 350C. Gerah dan keringat membasahi sekujur tubuh para awak AdInfo yang berniat menyambangi Taman Wisata Alam Angke Kapuk (TWA) tersebut.

Tak lama berselang saat berada di pintu masuk TWA, udara berasa sejuk karena semilir hembusan angin yang melewati sela-sela rerimbunan pohon bakau (mangrove). Sebagai catatan, hingga kini baru ada dua taman wisata yang dipenuhi pohon mangrove, yakni di Jakarta dan Bali. Ke depannya, diharapkan daerah lain akan mengikuti langkah Jakarta dan Bali.

Taman Wisata Alam sendiri dibangun dalam 12 tahun terakhir dan berada dalam pengawasan Pemprov DKI Jakarta. TWA sendiri merupakan bagian dari wilayah pesisir pantai Jakarta Utara yang telah dilabeli sebagai green belt, termasuk Kawasan Taman Wisata Kapuk Angke.

Taman ini diharapkan bisa menjadi andalan dari 12 destinasi wisata pesisir yang sekarang sedang giat-giatnya dipromosikan. TWA memang diplot sebagai lokasi konservasi hutan bakau sekaligus sebagai tempat wisata alam dan terbuka untuk umum.

Diresmikan Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan pada 25 Januari 2010 lalu, TWA memiliki area seluas 99,82 hektar dan akan menjadi paru-paru kota bagi warga Jakarta.


Dengan memiliki jutaan tanaman mangrove, nantinya daerah ini berfungsi menghalau air laut pasang atau rob, termasuk abrasi laut. Di sini juga terdapat tempat pelestarian flora dan fauna sekaligus sebagai tempat sarana pendidikan masyarakat.
Menurut Menhut, dalam pengelolaannya, konservasi flora dan fauna itu akan melibatkan rakyat seluas-seluasnya. Rakyat akan diberikan pendidikan akan arti penting konservasi hutan mangrove.
Senada dengan Menhut, Wali Kota Jakarta Utara, Bambang Sugiyono mengatakan, wilayah Jakarta Utara telah dijadikan wilayah green belt, termasuk Kawasan Wisata Alam PIK dan menjadi bagian dari jalur dan tujuan wisata di Jakarta Utara.

Paru-paru Jakarta
Selain sebagai daerah konservasi pertama di ibu kota, TWA ini juga merupakan satu-satunya yang berada di ibu kota negara. Taman ini, selain menjadi paru-paru Jakarta, juga sebagai tempat pelestarian flora dan fauna dan sarana pendidikan masyarakat.

“Kami harus mengikutsertakan rakyat seluas-luasnya dan memberikan pendidikan kepada mereka. Tujuannya, agar mereka sadar pentingnya konservasi alam seperti yang tengah dilakukan Taman Wisata Alam Angke Kapuk,” tegas Bambang.

Menilik dari sejarahnya, pada tahun 2007, kawasan ini menyimpan 79 - 100 juta pohon produktif. Namun, karena telah terjadi abrasi, maka sepanjang tahun 2009 dilakukan penanaman pohon mangrove secara kontinyu. Sehingga pada tahun 2009, tercatat ada 203 juta bibit pohon bakau yang ditanam di kawasan tersebut.

Dulunya, banyak sekali penambak liar di sini. Perlahan tapi pasti, berbagai pihak terkait berusaha mengembalikan fungsi lahan ini sebagai tempat konservasi hutan mangrove, juga aneka binatang yang ada seperti biawak dan udang.

Tidaklah susah menuju lokasi TWA, ada beberapa akses jalan untuk menuju ke sana. Bisa melalui Tol Kapuk atau Jalan Mandara Permai (depan Rukan Cordoba). Posisi tepatnya berada dekat Yayasan Tsu Zhi atau belakang Rukan Gold Coast, Bukit Golf Mediteranian (depan Fresh Market).

Berjalan menyusuri rerimbunan hutan bakau di atas trek jalan yang terbuat dari kayu, seperti mendapatkan sensasi tersendiri. Suasana di sini tenang dan damai, tidak seperti suasana hiruk pikuk kota Jakarta yang menjemukan. Di taman ini, juga terdapat fasilitas pengamatan burung, pondok alam sebanyak 8 buah, dan rumah kemping sebanyak 30 unit.

Pengunjung TWA akan dikenakan sanksi apabila diketahui memancing ikan. Sanksi itu berupa hukuman 10 tahun penjara atau denda 5 miliar rupiah.

Warga ibu kota diharapkan agar turut menjaga kelestarian Taman Wisata Alam Kapuk Angke ini. Warga juga diminta untuk turut menanam pohon di area tersebut sehingga isu pemanasan global dapat teratasi bersama.

Diharapkan di tahun-tahun mendatang, kawasan tersebut akan dapat memberikan kesejahteraan dan kemakmuran bagi warga sekitar. Setidaknya jika taman ini berkembang, secara ekonomi akan menguntungkan warga sekitar. Sebab warga bisa berjualan souvenir sehingga denyut perekonomian warga akan berdetak keras.

Read More ..

26/06/10

Perfect 10 Minutes in Sex

Couples who think they’re not measuring up because so many celebrities boast about sex sessions that last all night can take some comfort. Contrary to popular fantasy about the need for hours of passionate activity, sex therapists say around ten minutes is perfectly satisfactory.

In fact, shows such as Sex And The City and Desperate Housewives have created unrealistic expectations of bedroom performance that can only lead to disappointment. Real couples are satisfied with making love for between three and 13 minutes – and can find anything over ten minutes tiresome.

Researchers Eric Corty and Jenay Guardiani conducted a survey of 50 members of the Society for Sex Therapy and Research, which include psychologists, physicians, social workers, marriage/family therapists and nurses. They have collectively seen thousands of patients over decades in the U.S. and Canada.

They were asked to rate a range of times for sexual intercourse that they considered adequate, desirable, too short and too long. Most of them classed lovemaking that lasted three to seven minutes as ‘adequate’ and sex lasting between seven and 13 minutes as ‘desirable’.

However, anything longer than 13 minutes was rated ‘too long.’ Most agreed that sex that lasted between one and two minutes was ‘too short’ to provide satisfaction.

The researchers said they wanted the results to ‘encourage’ couples.

‘Today’s popular culture has reinforced stereotypes about sexual activity,’ said Mr Corty, an Associate Professor of Psychology at Penn State University.

‘Many men and women seem to believe the fantasy of… all-night-long intercourse.

‘This seems a situation ripe for disappointment and dissatisfaction.

‘We hope this survey will dispel fantasies and encourage men and women with realistic data.’

Corty and Guardiani published their findings in the Journal of Sexual Medicine. The survey comes as counselling services reported an increase in the number of couples complaining that they are disappointed with their sex lives.

Counselling organisation Relate has seen a two-fold increase in the number of couples turning to sex therapy in the past five years. A separate survey published this month has shown that most married women would now rather go to sleep, read a book or watch a film than have sex.(kompas.com)

Read More ..

25/06/10

Jet Lag Leaves Kidneys in Another Time Zone

Human beings aren't built to cross time zones. After an international flight, it takes days for the body to overcome the fatigue and nausea of jet lag, the biological price of doing business in the modern world.

That's because every organ keeps time with its own separate clock. Though the brain tries to synchronize all of these clocks on a daily basis, some are more stubborn about resetting than others when adjusting to a new time zone and sleep schedule - according to a new study of sleep-deprived mice, which have internal clocks similar to ours.

"Jet lag is a big mess of different clocks," said Gregor Eichele of the Max Planck Institute of Biophysical Chemistry in Gottingen, Germany. A transcontinental traveler's brain may adjust to being in Paris the day after his flight touches down. But his pancreas may continue to tick away on New York time, while his kidneys count the seconds somewhere over the Atlantic Ocean.

Genetic Clockwork

To study these clocks and develop a way to treat jet lag, Eichele woke up a group of laboratory mice six hours earlier than usual - simulating an eastward flight from Chicago to London with the flip of a light switch. He then measured changes in their gene activity as their bodies adjusted over the following 8-9 days.

Genes are the gears that run our internal clocks. All of our organs possess the same ten or so "clock" genes, which govern the production of molecules that keep time in a regular rhythm. But though the liver, the skin, and the brain share the same genetic clockwork, they each run on their own clock independent of the others.

In sleep-deprived mice, some of these molecular clocks adapted more quickly than others. Those in the pancreas - which regulates the body's production of energy - resisted the change for days longer than those in kidneys, for example.

When the molecular clocks of different organs are significantly out of synch, bodily functions that require chemical communication can be disrupted. Eichle said that could explain the diverse symptoms of jet lag, which range from insomnia and depression to gastrointestinal problems.

Studies have shown that the brains of aircraft crew who experience chronic jet lag tend to shrink and make more stress hormones, and the menstrual cycles of female flight attendants are disrupted by regular international flights.

"We know that chronic jet lag causes stress and impacts our health," said Kei Cho, a neuroscientist the University of Bristol in the U.K., who discovered these effects. "This new research addresses one of the biggest questions in biology - how the genes are changed by disturbances to the sleep and wake cycle."

Jet Lag Resistant Mice

Searching for new ways to combat jet lag, Eichle examined one of the fastest adapting clocks - the adrenal glands. These glands are thought to work with the brain to provide a master clock that synchronizes all of body's clocks on a daily basis.

Using a drug that temporarily blocks the activity of adrenal glands, Eichle and his team created a batch of jet lag-resistant mice. A small dose administered a day before their sleepless ordeal set their adrenal gland clocks back by an hour - allowing their organs to begin the process of adjusting and reducing the time it took them to adapt to an earlier wake-up call by two or three days.

"Nobody has really ever achieved this before," said Eichle, who published the research on June 23 in the Journal of Clinical Investigation. "It's a first step in the right direction towards a treatment for jet lag."

Don't expect to see this drug on the shelf any time soon - the U.S. Food and Drug Administration has yet to approve a drug for jet lag, and the risks of tinkering with the body's clocks are significant.

"Honestly, we don't know what all of these clock genes do in the body," said Cho. "If we try to manipulate something, the side effects might be more than we expected."

For now, the best cure for jet lag is still the slowest: one day of rest for every time zone crossed. (kompas.com)

Read More ..

24/06/10

Stem Cells Reverse Blindness Caused by Burns

Dozens of people who were blinded or otherwise suffered severe eye damage when they were splashed with caustic chemicals had their sight restored with transplants of their own stem cells — a stunning success for the burgeoning cell-therapy field, Italian researchers reported Wednesday.

The treatment worked completely in 82 of 107 eyes and partially in 14 others, with benefits lasting up to a decade so far. One man whose eyes were severely damaged more than 60 years ago now has near-normal vision.

"This is a roaring success," said ophthalmologist Dr. Ivan Schwab of the University of California, Davis, who had no role in the study — the longest and largest of its kind.

Stem cell transplants offer hope to the thousands of people worldwide every year who suffer chemical burns on their corneas from heavy-duty cleansers or other substances at work or at home.

The approach would not help people with damage to the optic nerve or macular degeneration, which involves the retina. Nor would it work in people who are completely blind in both eyes, because doctors need at least some healthy tissue that they can transplant.

In the study, published online by the New England Journal of Medicine, researchers took a small number of stem cells from a patient's healthy eye, multiplied them in the lab and placed them into the burned eye, where they were able to grow new corneal tissue to replace what had been damaged. Since the stem cells are from their own bodies, the patients do not need to take anti-rejection drugs.

Adult stem cells have been used for decades to cure blood cancers such as leukemia and diseases like sickle cell anemia. But fixing a problem like damaged eyes is a relatively new use. Researchers have been studying cell therapy for a host of other diseases, including diabetes and heart failure, with limited success.

Adult stem cells, which are found around the body, are different from embryonic stem cells, which come from human embryos and have stirred ethical concerns because removing the cells requires destroying the embryos.

Currently, people with eye burns can get an artificial cornea, a procedure that carries such complications as infection and glaucoma, or they can receive a transplant using stem cells from a cadaver, but that requires taking drugs to prevent rejection.

The Italian study involved 106 patients treated between 1998 and 2007. Most had extensive damage in one eye, and some had such limited vision that they could only sense light, count fingers or perceive hand motions. Many had been blind for years and had had unsuccessful operations to restore their vision.

The cells were taken from the limbus, the rim around the cornea, the clear window that covers the colored part of the eye. In a normal eye, stem cells in the limbus are like factories, churning out new cells to replace dead corneal cells. When an injury kills off the stem cells, scar tissue forms over the cornea, clouding vision and causing blindness.

In the Italian study, the doctors removed scar tissue over the cornea and glued the laboratory-grown stem cells over the injured eye. In cases where both eyes were damaged by burns, cells were taken from an unaffected part of the limbus.

Researchers followed the patients for an average of three years and some as long as a decade. More than three-quarters regained sight after the transplant. An additional 13 percent were considered a partial success. Though their vision improved, they still had some cloudiness in the cornea.

Patients with superficial damage were able to see within one to two months. Those with more extensive injuries took several months longer.

"They were incredibly happy. Some said it was a miracle," said one of the study leaders, Graziella Pellegrini of the University of Modena's Center for Regenerative Medicine in Italy. "It was not a miracle. It was simply a technique."

The study was partly funded by the Italian government. Researchers in the United States have been testing a different way to use self-supplied stem cells, but that work is preliminary.

One of the successful transplants in the Italian study involved a man who had severe damage in both eyes as a result of a chemical burn in 1948. Doctors grafted stem cells from a small section of his left eye to both eyes. His vision is now close to normal.

In 2008, there were 2,850 work-related chemical burns to the eyes in the United States, according to the Bureau of Labor Statistics.

Schwab of UC Davis said stem cell transplants would not help those blinded by burns in both eyes because doctors need stem cells to do the procedure.

"I don't want to give the false hope that this will answer their prayers," he said.

Dr. Sophie Deng, a cornea expert at the UCLA's Jules Stein Eye Institute, said the biggest advantage was that the Italian doctors were able to expand the number of stem cells in the lab. This technique is less invasive than taking a large tissue sample from the eye and lowers the chance of an eye injury.

"The key is whether you can find a good stem cell population and expand it," she said.(kompas.com)

Read More ..

23/06/10

Internet Geser Peran Agen Perjalanan Wisata

Hal tersebut karena orang kini makin mudah mendapatkan informasi di internet, yang otomatis mengubah perilaku orang untuk berwisata.

"Mereka mencari sendiri informasi satu tempat tujuan wisata dari internet. Kemudian bertanya ke kita. Nah, disini fungsi penasehat. Kita memberikan

pertimbangan-pertimbangan serta informasi yang tidak mereka dapatkan di internet. Perkara mereka mau menggunakan jasa kita, itu tergantung mereka,"

tutur Ameriawati Atmadibrata, Wakil Ketua II Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Jabar, saat berbincang dengan detikINET disela-sela persiapan Pasar Kaget Wisata (Parkawis) Jabar, Kamis (10/6/2010).

"Sekarang kita tidak hanya menjadi agen perjalanan semata. Tapi juga menjadi penasehat perjalanan juga," katanya.

Disinggung apakah kondisi tersebut mengancam bisnis agen perjalanan wisata, Ameriawati mengaku memang ada pengaruhnya namun tidak bisa dibilang mengancam bisnisnya. Pasalnya kebutuhan akan agen perjalanan wisata selalu ada.

"Korporat atau keluarga, mereka selalu butuh jasa kami. Untuk first traveller juga kebanyakan menggunakan jasa kita. Mungkin untuk backpacker atau yang sudah pernah datang itu biasanya yang mencari-cari informasi di internet lalu jalan sendiri," ungkapnya.


Internet Takkan Membuat Agen Pariwisata Jatuh
Pun demikian, Ameriawati optimis bahwa bisnis agen perjalanan wisata tidak akan redup. Justru dengan perkembangan teknologi ini akan membuat para agen perjalanan wisata memiliki paket atau program yang beragam serta menarik.

"Kita ciptakan pasar. Karena pasti selalu ada celah. Prisipnya orang senang diurus. Jadi pintar-pintar kita untuk mengemas paket yang lebih menarik lagi. "Justru perkembangan teknologi bisa membuat kita lebih kreatif," ujarnya penuh optimis.(detiknet)

Read More ..

21/06/10

Alasan & Akibat Wanita Palsukan Orgasme

Banyak wanita yang memilih memalsukan orgasme untuk mengakhiri proses bercinta. Hal itu tentu ada alasannya, ada pula akibatnya. Mau tahu ?

Dari data yang dikumpulkan para seksolog, terbukti bahwa 10 persen dari orgasme yang ditunjukkan para wanita adalah palsu. Tentunya ada alasan mengapa wanita melakukannya.

1. Untuk menghentikan seks
Pada dasarnya, pria akan semakin terangsang jika melihat pasangannya orgasme. Ia akan mempercepat ritme bercintanya. Hal itu sangat disadari wanita, sehingga memalsukan orgasme seringkali bertujuan untuk mempercepat proses bercinta.

Bisa saja sebenarnya saat itu wanita tak memiliki mood yang baik untuk bercinta, atau bisa jadi saat itu ia mendengar tangisan anaknya dan sebagainya.

2. Tak ingin pasangan kecewa
Alasan lain adalah para wanita tak ingin membuat pasangannya kecewa. Saat pasangan mati-matian ingin memanjakan dan memuaskan Anda, dan di sisi lain yang dirasakan adalah sebaliknya, maka jalan terakhir yang dilakukan adalah memalsukan orgasme.

3. Takut dianggap frigid
Wanita takut dianggap frigid atau tak bisa menikmati seks oleh pasangannya. Gambaran perempuan seksi di ranjang dengan segala kenikmatannya yang sering ditampilkan di film membuat mereka takut dianggap 'dingin' oleh suami. Oleh karena itu, mereka memilih 'berakting' di depan pasangannya.

Alasan-alasan di atas adalah yang paling umum dipakai perempuan sebagai alasan memalsukan orgasme. Lalu apakah orgasme itu berbahaya? Para ahli menjelaskannya.

Secara psikologis memalsukan orgasme akan semakin memperburuk kehidupan seks Anda. Terbiasa memalsukan orgasme membuat wanita menjadi malas mengeksplorasi kehidupan seksnya dengan pasangan. Mereka memilih terbiasa memilih cara yang instan. Padahal sama halnya dengan pria, wanita juga butuh kepuasan. Risiko paling buruk dalam keadaan ini adalah, wanita-wanita tersebut mencari kepuasan seks yang lain, yakni di luar pasangannya.

Jadi ketimbang memalsukan orgasme, lebih baik jujur dan bicarakan keadaan Anda dan pasangan. Berkonsultasi pada ahli juga bisa membantu Anda merasakan kenikmatan bercinta yang sebenarnya.(wolipop.com)

Read More ..

19/06/10

Wis Tekko di Cengkareng

Warna coklat mendominasi interior resto ini. Meja dan bangku makan sengaja dibuat sederhana dengan bahan kayu. Alasannya, biar selaras dengan namanya, Warung Tekko.

Nama Warung Tekko sendiri diambil dari bahasa Jawa, tekko yang berarti tiba. Didirikan pertama kali di Pantai Indah Kapuk, sampai sekarang sudah ada sekitar 10 cabang Warung Tekko yang tersebar di Jakarta, Serpong, Bekasi, dan Surabaya.

Ketika melangkah masuk ke rumah makan ini, sebenarnya tidak ada citra “warung” yang biasanya tidak nyaman dan kumuh. Sebaliknya, tampilan dalam Warung Tekko terlihat bersih dan nyaman dengan pelayanan layaknya resto bintang 5 atau fine dining.

Berbagai hiasan seperti lukisan penari Bali dan beberapa foto artis yang pernah menikmati menu Warung Tekko, sengaja dipasang di kedua belah dinding ruang makan yang setengahnya dilapisi kayu. Di atas setiap meja makan, tergantung lampu dengan kap anyaman rotan.

Ilustrasi dari meja-bangku, dinding ruang makan, dan kap lampu yang semuanya terbuat dari bahan kayu dan rotan, memang sengaja dihadirkan agar terkesan alami. Apalagi dominasi warna interior yang diambil adalah coklat, lebih terasa teduh.

Bukan hanya ruang makan indoor yang dimiliki Warung Tekko, tersedia pula tempat bersantap luar ruang yang pas untuk bersantap di malam hari. Lokasinya tidak terlalu terbuka karena masih ada pepohonan di sekitarnya.

Menariknya lagi, bentuk meja makan dan bangku resto berkapasitas 300 orang ini, dibuat persegi panjang dengan 2 ukuran berbeda. Bila panjang mejanya 1,6 m, kapasitasnya bisa untuk 6 orang. Sedang ukuran 1,8 m, bisa untuk 8 orang. Dengan begitu, tidak jadi soal buat mereka yang ingin makan bersama keluarga.

Setiap rumah makan pasti memiliki menu andalan yang paling banyak dipesan pelanggan. Warung Tekko yang baru saja membuka cabangnya di Ruko Taman Palem Lestari, Cengkareng ini, menyuguhkan Iga Penyet, Iga Bakar Penyet, Sop Iga, dan Gurame Penyet sebagai menu favorit pengunjung.

Pada dasarnya, semua yang ditawarkan adalah menu penyet khas Surabaya. Apa yang istimewa dari menu penyetan adalah sambalnya. Makanya, kecuali Sop Iga, semua menu di atas disajikan di atas hamparan sambal penyet.

Karakteristik sambal penyet Warung Tekko dibuat dari campuran cabai dan terasi mentah yang dibuat medok. Pilihan tingkat kepedasan terbagi dari tidak pedas sampai super pedas dan disajikan tidak tanggung-tanggung. Bisa sepiring penuh.

Iga Penyet
Wah, ini dia menu yang memang paling banyak disukai. Bukan saja karena daging iga sapinya, tapi juga karena sambalnya.

Iga penyet dimasak dengan cara digoreng. Wangi daging goreng dan aroma sambalnya, sangat menggiurkan ketika di meja makan. Dagingnya tak alot, malah ada rasa krispi di bagian luarnya. Ukurannya pun lumayan besar. Satu porsi yang berisi 3 batang tulang iga sapi, terasa cukup untuk dilahap sendirian.

Tersedia kualitas daging lokal dan impor. Bedanya, daging lokal memiliki tulang yang lebih besar dibandingkan yang impor. Begitu juga dengan kandungan lemaknya, lebih banyak daging lokal. Semua tergantung kesukaan penyantapnya. “Kadang memang ada yang suka lemak, tapi ada juga yang hanya suka dagingnya,” kata Manager Warung Tekko Cengkareng, Ardian.

Mengenai rasanya, saat menggigit gumpalan daging, ada sedikit manis yang bercampur dengan gurihnya daging sapi. Campuran bumbu rempahnya pun terasa medok. Sensasi tersebut semakin nikmat ketika tidak terganggu dengan daging yang alot dan mudahnya daging terlepas dari tulang. Kita tinggal menikmati paduan antara cita rasa daging dan sambalnya.

Sebagai penyanding, disertakan garnish berupa potongan daun kol, kemangi dan irisan timun. Ditambahkan pula penyedap lain berupa potongan kecil bawang putih goreng di atas iga sapi dan sambal.

Cara penyajian menu seharga Rp 25 ribu ini, sederhana saja. Baik sambal, iga sapi, dan garnish, semuanya ditempatkan di atas wadah piring gerabah yang menciptakan citra tersendiri bila kita melihatnya. Tidak mewah, tapi nikmat.

Sop Iga
Masih berbahan dasar iga sapi, menu yang satu ini disajikan tanpa sambal penyet. Sebagai penggantinya, disertakan sambal mentah yang tidak kalah mantapnya.

Seperti kebanyakan menu sop, Sop Iga Warung Tekko disajikan dengan kuah bening. Rasanya gurih, kental dengan cita rasa kaldu sapi dan cukup menyegarkan. Terlebih bila ditambahkan sambal, daun bawang, dan perasan jeruk nipis yang ditaruh di piring kecil terpisah.

Agar senantiasa hangat, Sop Iga disajikan dalam pot stainless steel yang bisa dipanaskan. Di bawahnya, terdapat pemanas berbahan bakar batu bara cair yang tidak mengeluarkan asap. Jadi, tidak mengganggu ketika diletakkan di atas meja.

Karena Sop Iga atau Iga Penyet adalah menu utama, jangan lupa untuk menyandingkan dengan nasi. Bukan disajikan per piring, tapi nasi Warung Tekko diberikan menggunakan boboko (wadah nasi yang terbuat dari anyaman bambu).

Ikan Terbang
Bukan ikan terbang yang dijadikan bahan baku utamanya, tapi ikan Gurame. Hanya cara memasak dan potongan ikannya yang membuat menu ini seperti Gurame bersayap sehingga disebut ikan terbang atau ikan melengkung. Kemasan Gurame Penyet Warung Tekko sengaja diadaptasi agar tampilannya lebih menarik.

Kualitas rasa menu yang satu ini, tidak diragukan lagi. Bila biasanya daging Gurame seperti berasa lumpur, tidak begitu dengan yang di Warung Tekko. Tingkat kematangan daging dalam dan luarnya sangat pas. Daging dalam Gurame berasa gurih khas ikan air tawar. Sedangkan kulit dan daging luarnya, lebih krispi, enak sekali digigit. Kress!

Menu seharga Rp 36 ribu ini, disajikan terpisah dari sambal penyet. Ditempatkan di nampan anyaman bambu, Gurame Penyet menggiurkan sekali di meja makan.

Extra Large
Untuk menutup rasa pedas sambal penyet yang mendera, ada berbagai menu pelepas dahaga dari Warung Tekko. Pilihannya, Es Jeruk Kelapa, Es Kelapa Cincau, Jus Kedondong, atau Es Teh Manis. Istimewanya, semua menu minuman disajikan dalam gelas yang extra large.

Ukuran gelas yang besar tentunya selaras dengan kualitas rasa setiap minuman. Misalnya saja Es Jeruk Kelapa. Kelapa yang digunakan masih berumur muda dan jeruknya lebih terasa manis. Sama halnya dengan Es Teh Manis. Selain manisnya yang pas, minuman seharga Rp 5000 ini, juga bisa diisi ulang (refill). Pasti puas dengan minumannya.

Read More ..

18/06/10

10 Fakta Menarik Tentang Lionel Messi

Lionel Messi Tidak seperti beberapa pemain bintang yang menikmati kehidupan mereka sebagai selebriti, Lionel Messi adalah sosok yang tertutup. Selain dari aksinya di lapangan hijau, ia jarang membuka mulut tentang kehidupan pribadinya.
Tapi siapakah yang berani meragukan kemampuannya? Tak bisa disangkal, saat ini ia merupakan roh permainan dari Barcelona dan Argentina.
Berikut adalah sepuluh fakta menarik tentang dirinya yang patut Anda simak:

1) Pada September 2005, Barcelona sekali lagi memperpanjang kontraknya, kali ini hingga 2014. Ia memutuskan untuk berganti kewarganegaraan menjadi Spanyol, dan dengan demikian bisa membela Barca di Primera Liga. Sebelumnya, ia tidak bisa tampil karena klubnya telah memenuhi kuota untuk pemain non Uni Eropa.

2) Ia menjadi pemain termuda yang pernah tampil untuk Argentina pada Piala Dunia 2006, saat menghadapi Serbia-Montenegro. Tidak hanya itu, ia juga memecahkan rekor sebagai pencetak gol termuda dalam turnamen itu, dan keenam sepanjang sejarah Piala Dunia.

3) Masih di tahun yang sama, ia untuk pertama kalinya mendapat kesempatan untuk tampil di timnas senior Argentina, melawan Hongaria. Setelah hanya 40 detik tampil, ia dikeluarkan karena menyikut pemain lawan Vilmos Vanczak, yang membetot kausnya saat ia berlari. Keputusan wasit itu mengundang kontroversi. Maradona bahkan terang-terangan mendukung aksi Messi.

4) Pada 2005, Barcelona menawarkan kontrak baru hingga 2010 senilai €150 juta, €30 juta lebih tinggi dari kontrak Ronaldo, yang masih dianggap sebagai pemain terbaik dunia saat itu.

5) Pintu timnas Spanyol selalu terbuka untuknya, tetapi ia memilih untuk menunggu panggilan dari tanah kelahirannya, Argentina.

6) Nyaris tak pernah mengumbar hubungannya dengan wanita, tampaknya pemain bola memang merupakan magnet bagi para model. Kini ia dikabarkan tengah dekat dengan model Luciana Salazar yang berusia 28 tahun, setelah lepas dari Macarena Lemos, yang juga seorang model. Tapi itu tak menyurutkan niat para fans untuk mendekatinya. Di Peru, seorang wanita melompat ke hadapannya dari atas tribun penonton, saat ia berjalan keluar dari lapangan. Messi berusaha memperingatkannya, tetapi wanita itu keburu jatuh terguling di lapangan, sebelum dikeluarkan oleh petugas keamanan.

7) Ia sering dibandingkan dengan legenda Argentina Diego Maradona, termasuk oleh Maradona sendiri. Golnya pada semi-final Piala Raja 2007 melawan Getafe mengingatkan orang pada "Gol Terbaik Abad Ini" yang dicetak Maradona di Piala Dunia 1986. Media Spanyol menjulukinya "Messidona".

8) Di Tim B Barcelona, ia mencetak 35 gol dalam 30 pertandingan. Prestasinya membuat ia segera naik pangkat ke tim senior pada 2004. Tak sia-sia Barca merekrutnya. Ia menjadi pemain termuda yang pernah mencetak gol untuk timnya di Primera Liga Spanyol pada 2005, saat turun menghadapi Albacete. Usianya baru 17 tahun, sepuluh bulan dan tujuh hari.

9) Ketika berusia 11 tahun, ia menderita kekurangan hormon, dan dikhawatirkan tak akan bisa tumbuh secara normal. Klub ternama Argentina, River Plate sempat tertarik untuk merekrutnya, tetapi tak mampu membayar $800 per bulan untuk membiayai pengobatannya. Beruntung Barcelona setuju untuk menanggung semua biaya, asalkan keluarganya bersedia pindah ke Spanyol.

10) Messi merupakan pemain kidal yang serba bisa. Ia mampu tampil sama baiknya di tengah, sayap, maupun sebagai penyerang tengah.(kaskus.us)

Read More ..

  © Blogger template 'Ultimatum' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP