Banjir dan Masyarakatnya

Pertengahan Januari lalu, dua RW di Penjaringan Jakarta Utara sudah mulai terendam banjir akibat hujan. Sama halnya di Rawa Buaya, Cengkareng. Luapan Kali Mookevart memaksa warga mengungsi karena rumahnya dilanda banjir setinggi 1 meter.

Mulai bulan ini sampai dengan Maret 2009, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), memerkirakan intensitas curah hujan akan cukup tinggi dan bisa menyebabkan beberapa daerah di Jakarta akan tergenang.

Meski Pemprov Jakarta sudah melakukan tindakan preventif seperti, pengerukan beberapa kali yang mengalami pendangkalan, pembersihan sampah di beberapa muara, menyiagakan Satkorlak (Satuan Koordinator Pelaksana) sampai tingkat kelurahan, tapi sepertinya belum ada antisipasi jitu dalam menghadapi bencana tahunan tersebut.

Jakarta Barat (Cengkareng, Kalideres, dan Kebonjeruk) dan Jakarta Utara (Koja, Kelapa Gading, Pademangan, Penjaringan, dan Tanjungpriok) merupakan daerah langganan banjir. Tiap tahun, daerah tersebut pasti tergenang banjir. Sampai-sampai, masyarakat di sana menjadi terbiasa dengan apa yang diakibatkan banjir.

Bicara mengenai banjir, saya teringat dengan teman yang rumahnya di Duri Kosambi, Jakarta Barat. Setiap musim penghujan, dia selalu was-was dengan banjir. Tiap kali air sudah menggenangi jalan MHT di depan rumahnya, dia langsung mengemasi perabotan rumah, barang elektronik, surat-surat berharga, dan makanan secukupnya.

Semua itu dia pindahkan ke lantai atas rumahnya yang dibuat seadanya. Tidak permanen seperti di komplek-komplek perumahan, yang penting bisa buat tidur dan tidak terkena hujan.

Ketika hujan tak kunjung henti, dia bersama istrinya pun tidak lelap tertidur. Bersiaga kalau-kalau ada banjir kiriman yang biasanya datang mendadak. Lampu minyak dan lilin tidak lupa disiapkan, itu juga buat berjaga-jaga kalau listrik padam.

Teman saya itu, sudah mendiami daerah tersebut dari tahun 90-an. Dia dan masyarakat di sekitarnya, sudah biasa dengan banjir yang rajin datang ke wilayahnya. Meski ada sedikit rasa takut, banjir dianggapnya sebagai hal yang biasa. Sampai dia berkata,“bukan Jakarta namanya, kalau ngga ada banjir!”

Mendengar perkataaan itu, saya jadi berpikir, kenapa Jakarta sangat lekat dengan banjir? Mulai kapan banjir selalu mewarnai Jakarta tiap tahunnya? Dan kenapa pemerintah provinsi tidak bisa mencegah dan mengantisipasi banjir?

Mungkin itu adalah pertanyaan biasa. Tapi dari pertanyaan biasa itu, saya yakin, tidak satu orang pun yang bisa menjawabnya dengan solusi realistis dan konkrit. Kenapa? Karena banjir bukan lagi hanya masalah masyarakat yang buang sampah sembarangan di Kali Mookevart, tidak lagi hanya masalah developer yang membangun properti di wilayah serapan air, atau bukan hanya tidak becusnya pemerintah dalam mengatur tata kota.

Banjir sudah menjadi masalah kompleks yang tidak hanya memerlukan jawaban, tapi juga komitmen yang jelas, tegas, dan berkesinambungan dari berbagai pihak. Baik dari pemerintah, masyarakat, maupun pihak swasta dan pelaku bisnis.

Reaksi Cepat Masyarakat
Dari pada saling menyalahkan dan menuntut siapa yang paling bertanggung jawab, ada baiknya masyarakat melakukan apa yang dilakukan teman saya di atas. Bersiap menghadapi banjir untuk meminimalisir kerugian.

Mulailah mengumpulkan surat-surat berharga, memikirkan akan diletakkan di mana barang-barang elektronik bila banjir datang, menyiapkan alat penerangan darurat (lilin, lampu minyak, petromaks, generator), atau memisahkan pakaian dan makanan seadanya jika banjir memaksa kita untuk mengungsi.

Kemudian buat mereka yang wilayahnya bebas banjir, kalau boleh menyarankan, bisa mulai merencanakan pembentukan posko-posko bantuan. Posko tersebut bisa didirikan di rumah-rumah dengan memberdayakan anak-anak muda setempat. Mereka bisa mengumpulkan bantuan dari warga atau pelaku bisnis yang berlokasi di wilayah mereka.

Jika banjir sudah meluas, dapur umum menjadi bantuan yang paling dibutuhkan. Karena biasanya wilayah yang terkena banjir, tidak memiliki lahan untuk mendirikan dapur umum. Masyarakat lebih membutuhkan hal yang praktis ketika banjir. Buatlah nasi bungkus dengan lauk pauk yang bisa dibagikan ke pos-pos pengungsian atau langsung ke wilayah terkena banjir.

Dalam menghadapi bencana banjir, terutama buat yang tinggal di daerah rawan banjir, masyarakat harus pro aktif dalam mengantisipasinya. Memersiapkan segala sesuatunya bila memang terjadi banjir.

Begitu juga dengan reaksi cepat dari masyarakat (yang tidak terkena banjir). Koordinasi warga setingkat RT dalam mengumpulkan bantuan tidak akan begitu sulit. Sehingga bantuan dalam berbagai bentuk bisa terkumpul dan disalurkan dengan cepat. Lain halnya dengan pemerintah yang sering telat mengucurkan bantuan. Entah karena birokrasi atau pendistribusiannya yang “macet”.

Artikel Berkaitan

About This Blog

  © Blogger template 'Ultimatum' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP